“Tidak tahu!”
“Kapan kembali?”
“Tidak tahu. Pokoknya kalau ada pesan, saya sampaikan”. Suara wanita itu semakin tidak sabar dan ketus. Sari tahu, tidak ada gunanya ia mendesak.
“Tolong bilang dicari Sari!”
“Baik.” Lalu, wanita itu menghilang dari pandangan.
Sari menyeberang jalan dan duduk di atas pinggir jembatan di atas got kering yang ada di kiri kanan jalan. Ia akan menunggu. Matahari hangat di kulitnya. Lelah karena perjalanan, ia me-ngantuk, dan hampir tertidur. Ia terbangun karena mendengar suara mobil. Apakah itu Rafiq?
Namun, ketika melihat mobil itu, Sari langsung dengan panik. Ia menjatuhkan diri ke dalam got. Ia mengenali mobil putih itu. Apa yang membedakannya dari mobil putih lain, Sari tidak dapat jelaskan. Tapi, seumur hidup ia tidak akan melupakan mobil putih itu.
Iwan memarkir mobil dekat pintu rumah itu, mencocokkan alamat dengan nomor dan nama di pintu, kemudian memandang rumah megah itu. Kalau Sari ada di dalam sana, paling tidak ia dilindungi satpam. Ia memutuskan untuk berhati-hati. Ia baru akan bertindak setelah tahu lebih banyak. Dan, ia akan membayar seseorang untuk mengawasi tempat ini. Seorang tukang becak, seorang tukang roti, nanti akan dipikirkan. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, karena Iwan yakin ia diawasi dari suatu tempat tersembunyi, ia menyalakan mesin mobilnya dan dengan pelan menuju jalan besar.
Hari makin panas, kemudian menjadi sejuk, kemudian pelan menjadi gelap. Lampu jalan dinyalakan. Sari mengintip, berharap Rafiq cepat tiba di rumah. Lama menunggu, ia mendengar mobil berhenti di depan pintu rumah itu. Ia mengintip, tapi hari sudah gelap. Pintu besar dibuka dan ia mengenali sosok Rafiq di balik setir mobilnya. Sari melompat bangkit dan berlari ke arah mobil itu dengan panik. Panik karena takut bahwa sopir mobil putih masih berada di sekitar sana dan mengintip. Panik karena takut Rafiq akan hilang di balik pintu angker, yang akan menutup. Panik karena takut ia tidak akan punya keberanian untuk menekan bel sekali lagi. Takut jika Rafiq akan menyangkal telah mengenalnya. Saat itu Rafiq memundurkan mobilnya untuk masuk ke halaman, dan buk! Sari terempas.
Rafiq kaget bukan main. Ia turun dan berjalan ke belakang mobil. Seorang wanita muda pingsan di belakang mobilnya. Ia panik, takut kalau dalam sekejap puluhan orang akan keluar rumah, dan ia harus berurusan dengan polisi lagi, kedua kali dalam hidupnya setelah peristiwa mengenaskan malam itu. Maka itu, ia kembali mengambil kunci, dengan cepat membuka pintu belakang mobil, mengangkat Sari ke dalam mobil.
Lalu, Rafiq masuk rumah dengan jantung berdebar. Ia merasa seperti penjahat yang menutupi kejahatannya. “Oh, Tuhan, tolonglah hamba!” ia berseru. Ia masuk ke garasi, keluar, dan menutup pintu. Orang tuanya belum pulang. Rafiq lalu mengangkat Sari ke dalam, menaiki tangga, masuk ke kamarnya, meletakkan Sari di tempat tidurnya. Mengunci pintu, menarik napas panjang, memegang tiang kelambu, karena lututnya terasa lemas.
Sedetik kemudian ia tertegun, seolah petir menyambarnya. Ia mengenali Sari. Wajah yang cantik dan pucat pasi, dengan darah membasahi dahi dan rambutnya. Baru Rafiq sadar, darah juga membasahi lengan bajunya, bantalnya, spreinya, dan lantainya. Dan, di saat itu pintu kamar diketuk.
Secepat kilat Rafiq menutup Sari dengan selimut dan membuka pintu. Ternyata, hanya Jum yang membawa bohlam. Matanya langsung menuju lengan baju Rafiq dan titik-titik darah di lantai. Rafiq tertawa dengan suara seperti dicekik. “Oh, tadi tersangkut pagar. Tidak apa-apa, tidak dalam. Jum, tolong bersihkan. Jangan bilang siapa-siapa, ya. Nanti mereka khawatir. Bersihkan sebelum ada yang lihat, ya, Jum!”
“Ya, Den.”
Rafiq mengunci pintu dan membuka selimut yang menyembunyikan Sari. Hatinya galau. Ia sudah berbohong. Apa yang akan dikatakan kepada orang tuanya nanti? Bahwa ia ketemu Sari di tempat tidak terpuji dan memberinya kartu namanya? Menjanjikannya ia boleh datang? Bahwa tidak terjadi apa-apa antara mereka? Bahwa selama setengah jam mereka berdua di kamar tertutup dan tidak terjadi apa-apa selain saling memandang dan bercerita? Setelah ia dengan susah payah meyakinkan ayahnya bahwa ia hanya ikut-ikutan saja tersesat ke tempat itu karena dibawa teman?
Rafiq mendesah, sambil memandang Sari. “Ya, Allah, kalau ini cobaan atas hambamu karena telah berani menginjak tempat terlarang, saya terima. Dan, saya harus keluar dari cobaan ini. Biar iblis membawa wanita ini ke sini, ia tidak lebih berdosa dari saya, ia diperalat untuk cobaan ini!”
Rafiq mengamati luka di kepala Sari, lalu mengambil perban dan menutupnya. Ia menduga, kedatangan Sari dikarenakan sesuatu yang sangat pribadi dan merupakan lanjutan dari sesuatu yang ia mulai dan belum selesaikan. Lalu? Ia mengangkat bahunya dan memantapkan itikadnya. Ia akan merawat luka Sari dan besok akan menyelundupkannya keluar rumah, entah untuk perawatan lebih jauh atau memulangkan ke desanya. Sesaat ia ketakutan, bagaimana kalau luka itu berbahaya
Napas Sari tidak dalam dan cepat, tapi teratur. Kulitnya dingin. Wajah pucat. Rafiq membuka sandal Sari. “Ya, Tuhan,” gumamnya. Ia mengambil satu kesimpulan, Sari telah berjalan jauh dengan kaki yang luka. Ia mengambil waslap dari kamar mandi dan dengan sabun antiseptik, ia membersihkan kaki mungil itu. Memerhatikan kaki itu dengan teliti, tertegun, kemudian geram. Ia mengerti, kaki itu pernah disunduk rokok!
Rafiq mengambil keputusan. Kalau basah, sekalian mandi. Ia telah berjanji dan janji itu kini ditagih. Ia membuka pakaian Sari yang kotor, memandikan badan yang lunglai itu, mengenakan piyama sutranya pada Sari. Ia ke dapur, mengambil semangkuk sup dan beberapa potong roti, kembali ke kamarnya, lalu meletakkan sup dan roti di samping tempat tidur.
Malam itu Rafiq begadang. Ia tidak dapat tidur memikirkan keadaannya. Ia yang selalu menghindar dari setiap godaan, tiba-tiba membawa masuk seorang wanita muda ke kamarnya. Dan, ia tahu, berada di satu ruangan tertutup dengan lawan jenis secara teknis sudah zinah namanya. Ia lalu menelanjangi dan memandikan wanita itu. “Ya, Tuhan, mengapa saya tidak merasa berdosa karena melakukan ini, tapi tetap merasa berdosa karena tidak merasa berdosa? Mengapa harus begini rumit?”
Menyerah, ia duduk di kursi memandang Sari dengan pikiran dan perasaan kacau. Tiba-tiba ia merasa sesak karena ketakutan. “Apa yang terjadi? Kalau ini cobaan, apakah saya dicoba karena melakukan sesuatu atau saya dicoba untuk melakukan sesuatu? Yang jelas, saya memberi kartu nama bukan karena ingin berzinah. Saya membawanya masuk bukan karena ingin berzinah. Saya merawatnya bukan karena ingin berzinah. Tapi, sekarang bagaimana? Baik, saya harus memberi tahu Bapak dan Ibu.”
cerita selanjutnya >>
Penulis: Iwan Cipto


