Fiction
Rafiq & Sari [6]

15 May 2012


Namun, bapak Sari sakit dan harus dioperasi. Dari mana uangnya? Tidak ada sawah untuk dijual karena bapak Sari bukan petani. Ia guru SD, tapi bukan kepala sekolah. Kegembiraan Sari pudar. 


Lalu, muncullah Ibu Yati, seorang tetangga dekat, yang meminjamkan uang. Tentang bagaimana uang itu akan dikembalikan, ia mempunyai ide. Ia akan mengajak Sari ke Jakarta dan diberi kerja di perusahaannya. Nanti, Sarilah yang akan membayar kembali pinjaman itu. Tawaran Ibu Yati tidak ditampik. Berangkatlah Sari ke Jakarta. Betapa bangganya Sari saat itu. 

Rafiq telah menembus perisai hatinya. Rafiq dengan sikap jujurnya tiba-tiba merenggut Sari dari dunianya. Rafiq menyadarkannya bahwa Iwan bukan suaminya, tapi penyiksa, musuh, perusak. Rafiq berdialog dengan hati dan perasaannya, dan Sari tahu bahwa Rafiq tidak hanya melihat wajah cantiknya, badan seksinya. Mata tajam yang memancarkan welas asih itu menembus lebih dalam, melihat ke dalam sukmanya, dan tahu apa yang ada di sana.
Berjam-jam Sari memerhatikan kartu nama Rafiq. Kartu itu sederhana, putih, dan hanya menyebutkan nama, alamat rumah, lengkap dengan nomor telepon, fax, dan alamat e-mail. Dengan bayangan wajah Rafiq di matanya, Sari ingin melawan. Ketakutannya berubah menjadi amarah. 

Dua hari Sari memutar otaknya mencari jalan untuk kabur. Ia tidak berpikir bahwa janji Rafiq mungkin hanya basa-basi. Tapi, ia berjanji tidak akan menjadi beban bagi Rafiq. Ia hanya akan minta bantuan agar dapat pulang. Ia hanya ingin pergi dari tempat ini, ingin pulang, menemui ayahnya, dan menceritakan semuanya. Dan, kalau keluarganya mengusirnya, ia akan terjun ke Laut Selatan. 

Hari berikutnya Sari menempatkan sepotong lilin menyala di atas potongan-potongan kertas koran di lemarinya. Dua hari, dua malam, ia berpikir dan merencanakan, dan kelihatannya ia berhasil. Pada saat orang-orang ke sana ke mari mencari air dan orang lain berkerumun menghalangi mereka, ia keluar dari kamar mandi, membawa seember air, dan memberikan ember itu kepada seorang penjaga, yang langsung membawa ember itu masuk. Sari lalu menyelip masuk kerumunan dan berhasil masuk ke dalam gang. Ia melihat ke belakang dan mulai berlari. 

Tanpa diduga, ketika melihat asap dari kamar Sari, Iwan langsung sadar, dan berlari mengejarnya. Sari berlari sekuat tenaga hingga ia sampai di jalan raya. Ia berada di tengah kerumunan orang lalu-lalang. Ia tidak berani berhenti. Ia melihat sebuah bus menuju arahnya dan ia mengangkat tangannya. Bus itu berhenti, lalu Sari melompat ke dalam, dan tetap berada di bus itu sampai tiba di terminal. Dari sesama penumpang, ia tahu berapa ia harus membayar. Ia juga menanyakan alamat Rafiq yang sudah ia hapal baik-baik. 

Sore pun tiba. Lelah dan lapar berubah menjadi kesakitan. Luka bakar di telapak kaki, ditambah lepuh karena sepatunya, membuat Sari seperti berjalan di atas bara menyala. Ia mulai tertatih-tatih, tapi tetap memaksa diri berjalan menuju rumah Rafiq. Sampai kegelapan datang dan Sari pingsan di tengah kerumunan. Beberapa lama ia dibiarkan, tetapi ia tetap terlihat muda dan cantik. Seperti kata bapaknya, itu anugerah dan kutukan, tergantung keadaan. 

Tubuh Sari diangkat dan diletakkan di bangku sebuah warung itu. Ibu Zaidah, pemilik warung itu, membersihkan wajah Sari dan mengompres dahinya dengan air dingin sampai ia siuman. Dalam keadaan setengah sadar, Sari menggumam, “Bapak, Bapak, Sari ingin pulang!” 

Ibu Zaidah lalu membuatkan Sari teh manis dan menyuapkannya pelan-pelan di antara bibir Sari. Ia tidak melihat bahwa bibir itu ranum. Ia hanya melihat bibir itu kering dan pecah. Ia tidak melihat wajah Sari cantik. Ia melihat bengkak dan memarnya. Ia tidak berpikir bahwa celana pendek Sari seksi. Ia hanya melihat bekas bekas biru tendangan di sana. 

Ia lalu menutup warungnya, membersihkan badan Sari dengan lap, dan mengorbankan satu selendang tua yang ia robek-robek untuk membalut kaki Sari. Ketika siuman, Sari tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan pasrah ia menerima kebaikan Ibu Zaidah. Tapi, sewaktu Ibu Zaidah mengisi satu mangkuk dengan bubur kacang hijau, ketan hitam, dan santan yang dijual di warung itu, ia duduk tegak. Ia makan dengan lahap, menghabiskan bubur itu, sampai mengkuknya benar-benar bersih.

“Lagi?” tanya Ibu Zaidah.

“Terima kasih, Bu. Sari sudah kenyang.”

“Lari dari siapa, Sari? Dari suamimu?” Ibu Zaidah mempunyai dugaan, tapi ia tidak mau membuat Sari malu.

Sari mengangguk. “Iya, Bu.”

“Mau kembali ke kampung? Tadi Ibu membuka sepatu Sari dan melihat ada uang di situ. Cukup untuk sampai di Jawa Tengah. Tapi, kamu butuh pakaian. Bagaimana kalau kalungmu dijual pada Ibu saja?”

Sari berpikir. Pulang. Ia mau pulang. Tapi, ia tidak mau pulang dalam keadaan compang-camping, pada saat ayahnya sakit. Ia tidak ingin dikejar sampai ke rumah oleh Iwan. Sari, yang tadinya tak berdosa dan memercayai setiap orang, sekarang tahu, bahwa hidup bisa lebih kejam daripada sinetron. Bahwa, tetangga yang baik ternyata bisa menyimpan dengki di balik kemurahannya dan kekejian di balik senyumnya. Ketika Ibu Zaidah menawarkan untuk membeli kalungnya, Sari yang tadinya sudah percaya, mulai curiga.

Ia memutuskan, kalung itu lebih baik dijual di toko emas. Dan, ia ingin bertemu Rafiq dahulu, untuk melihat, apakah ia baik-baik saja, setelah disiksa dan ditangkap demi Sari, yang ia baru kenal. Yang lebih penting, ia ingin meyakinkan diri bahwa Rafiq tidak seperti laki-laki lain, yang pernah ia kenal.

“Bu,” katanya lirih. “Sari mau pulang, tapi ada teman yang ingin dikunjungi dulu. Kalung ini biar saya jual di toko mas saja.”

“Biar Ibu bantu jualkan,” kata Ibu Zaidah. “Kalau Sari tidak percaya, ikut saja. Ibu hanya mau membantu supaya Sari dapat harga yang baik. Di mana alamat temanmu itu?”

Sari menyebut alamat itu. Lalu, Ibu Zaidah memandang Sari dengan aneh. Sari mulai bertanya dalam hati. Apakah alamat itu hanya karangan belaka? Apakah alamat itu benar ada? Apakah tempat itu adalah sesuatu negara di atas angin, suatu negara entah berantah? Ia mulai khawatir. Tapi, ia sudah bertekad untuk ke sana. Kalau Rafiq bohong, pengetahuan itu sudah akan memuaskan, bahwa tidak ada laki-laki baik di dunia, kecuali ayah tercinta....

Kalung Sari terjual lumayan. Ia lalu membaginya dengan Ibu Zaidah karena merasa telah begitu ditolong. Sari menukar sepatunya dengan kain dan sepasang sandal plastik. Ia berpisah dengan Ibu Zaidah dengan memakai kaos oblong, kain panjang, dan sandal plastik. Rambutnya diikat dalam satu kepang di punggungnya. Dengan kain panjang, orang tidak melirik pahanya. Tapi, mereka melirik juga. Soalnya, di Jakarta, gadis remaja jarang berpakaian seperti itu.

Sari turun dan naik bus sesuai petunjuk Ibu Zaidah. Lalu, ia menemukan sebuah rumah berpagar putih tinggi. Di atas pagar terdapat nomor yang sesuai dengan nomor yang diingatnya. Ada papan nama bertuliskan ‘H. M. Rivai’ di situ. Sari tahu, ia telah menemukan alamat yang benar. 

Lama Sari berdiri, dengan hati berdebar, dengan napas sesak, dengan pikiran yang galau. Berdiri di jalan yang tidak terlalu lebar. Tidak seorang pun kelihatan di luar. Ia memerhatikan pagar bercat putih. Ujung tajam di atasnya bagai ujung-ujung tombak yang berseru, “Jangan masuk!” Setelah beberapa lama, Sari menekan bel dan menunggu.

Di sela-sela pagar muncul seorang wanita setengah baya. Wanita itu tidak membukakan pagar, tapi memerhatikan Sari dengan air muka tidak ramah.

“Cari siapa?”

Beberapa detik berlalu dan Sari berjuang untuk mendapatkan suaranya. “Bu, apakah ini rumah Mas Rafiq bin Rivai?”

“Ya. Ada yang mau disampaikan?”

“Bisa bertemu?”

“Den Rafiq tidak ada!”

Jantung Sari seolah berhenti berdetak. “Masih ditahan?”

“Ditahan? Kamu siapa, sih?”

“Saya Sari, teman Mas Rafiq.”

“Den Rafiq tidak ada!”


                                                            cerita selanjutnya >>


Penulis: Iwan Cipto



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?