Fiction
Lama Fa [4]

14 May 2012


Tiba-tiba Linda melihat gelembung air muncul. Jantungnya makin cepat berdetak, darah begitu terasa berdesir. Seekor koteklama muncul 5 meter di depannya. Panjangnya kira-kira 9 meter. Linda menelan ludah. Ia ingat, Papa Ora pernah mengajarkan tentang titik geli koteklama, misalnya bagian perut, dada, dan bagian sekitar kemaluan. Tempuling harus diarahkan ke situ, agar koteklama segera mati. Bila tidak, koteklama akan mengamuk!


“Sekarang!” Fotu kembali berteriak. Linda segera melompat sambil menikamkan tempuling ke arah perut koteklama. Tapi, koteklama itu sudah kembali masuk ke dalam laut. Tempuling-nya tidak mengenai sasaran.

Linda berenang ke pledang. Ignatius menariknya ke dalam pledang.

“Beta gagal, Paman.”

“Sudahlah, ini baru awal, Linda!” Paman Fotu tersenyum.

Stevanus Tanakofa mendekati Linda, ketika ia menepikan pledang.

“Kau tak pantas menjadi lama fa!” Ia menatap Linda dengan sinis. “Kau sudah menghilangkan kesempatan yang bagus sekali!”

Linda tak menyahut. 

“Sebaiknya, kau yang memasak daging koteklama itu untuk kami!”

Linda menggeretakkan gigi. Paman Fotu menyentuh tangannya, menenangkan. “Sudahlah, Stevanus! Ia baru memulainya! Ingatlah ketika kau juga baru memulai.”

Stevanus tersenyum sinis. “Bahkan anak-anak pun bisa menikam koteklama sedekat tadi!” 

Linda terdiam. Ia merasa Stevanus begitu menyudutkannya. Sepertinya, ia begitu membencinya. Linda jadi ingat percakapannya semalam dengan Paman Fotu tentang seseorang yang mungkin membenci Papa Ora. Paman Fotu tidak menyebutkan satu nama pun. Tapi, Linda yakin nama inilah yang sebenarnya akan disebutkan Paman.
Stevanus Tanakofa.

Linda masuk ke dalam rumah diikuti oleh Mamae Tipa dan beberapa tetangga wanita  yang sedari tadi menunggunya.

“Kau tidak apa-apa, Linda?” Mamae Tipa mencoba menjejeri langkahnya.

Tapi, Linda tak memedulikannya. Ia langsung masuk kamar dan menutup pintu.

“Linda!” Mamae Tipa menggedor pintu. “Kalau kau gagal, tak jadi masalah buat Mamae. Itu memang pekerjaan yang tak pantas buatmu!”

Linda tak menghiraukan. Tanpa sengaja, dari jendela dilihatnya Marten tengah melangkah ke arah rumahnya. Linda keluar dari kamar. Mamae dan beberapa tetangga yang sudah mulai beranjak, kembali mendekati Linda. Tapi, Linda sudah keburu meninggalkan rumah.

“Linda, kau….” 

Sebelum Marten menyelesaikan kalimatnya, Linda sudah menariknya. “Ayo, kita pergi dari sini, Marten.”
Keduanya lalu berlari kecil ke arah tebing.

“Ada apa, Linda?” Marten yang sedari tadi hanya mengikuti, tanpa bersuara, akhirnya bertanya juga. Linda tak menjawab pertanyaan itu. Ia malah berpaling dan menatap Laut Sabu di depannya.

“Beta gagal, Marten,” suaranya terdengar pelan.

Marten mendekat, sambil memegang pundaknya. “Sudahlah, ini kan baru permulaan bagimu.”

“Marten,” Linda berpaling dan menatap Marten tajam, “apa menurutmu, beta memang tak pantas menjadi lama fa?”
Marten terdiam.

“Mereka memilih beta hanya karena beta keturunan Bataona?” 

Tanpa sadar air mata Linda menggenang. Marten menyentuh tangan Linda perlahan dan menariknya dalam pelukan. Sesaat Linda membiarkan dirinya hanyut dalam pelukan Marten.

“Linda,” suara Marten terdengar, seiring bunyi detak jantungnya, “apakah kau seorang lama fa atau bukan, kaulah yang harus membuktikannya!”

Lamalera di malam hari begitu hening. Listrik memang belum menjamah desa ini. Namun, desa sudah memiliki pembangkit listrik bersama yang dialirkan ke rumah-rumah penduduk. Setiap rumah hanya diberi jatah beberapa bola lampu. Tidak ada televisi. Radio pun hanya dimiliki kepala desa.

Dengan lampu 10 watt, Linda mencoba menulis surat pengunduran diri dari pekerjaannya di Flores. Rencana ini belum sempat diungkapkan pada Mamae Tipa. Entah mengapa, ia merasa tak akan kembali ke Flores lagi.

Di tengah-tengah kesibukannya itu, pintu rumah kembali berdebam. Suaranya persis seperti dulu, ketika surat yang terikat pada batu dilemparkan ke pintu. Linda segera berlari membuka pintu. Di depan, sama seperti malam itu, dilihatnya sebuah surat yang terikat batu.

Segera dibukanya surat itu. Carilah wanita bernama Ikke Mabengke di Wulandoni!

Esok paginya, Linda bangun lebih awal. Di dapur, dilihatnya Mamae Tipa sedang menumbuk jagung. Ia sedang membuat jagung titi. Sehari-hari Mamae Tipa memang membuat makanan khas Nusa Tenggara Timur ini untuk dijual di warung-warung di sekitar Lamalera.

“Mamae,” Linda mendekati.

“Tumben, kau bangun lebih pagi, Linda?” Mamae menoleh sekilas. “Semalam Mamae mendengar ada yang melempar pintu lagi?”

Linda mengangguk.

“Ada surat lagi?”

Linda kembali mengangguk. Disodorkannya surat yang kedua. 

Mamae membacanya selintas. Ia tak bereaksi apa-apa.

“Mamae, apakah Mamae mengenal nama ini?”

Mamae Tipa menggeleng. Namun, gelengannya terasa ragu. Ini membuat Linda ingin kembali bertanya tentang wanita bernama Ikke Mabengke itu. Tapi, ia mengurungkan niatnya. Linda lalu bangkit dan melangkah pergi.

“Mamae,” ia berhenti di ambang pintu. Keingintahuannya yang besar membuat ia kembali berpaling. “Apakah selama ini Papa Ora pernah memiliki wanita lain selain Mamae?”

Mamae Tipa terdiam. Bukan rahasia jika beberapa lama fa di Lamalera, termasuk teman-teman Papa Ora, sering bermain wanita pada saat musim berburu lewat. Beberapa di antaranya bahkan memiliki wanita simpanan.
“Tidak!” Mamae Tipa menjawab tegas. “Papa Ora bukan orang seperti itu!”

Linda pergi ke rumah Paman Fotu. Namun, ia tidak menemukan Paman Fotu. Ia hanya bertemu dengan Magda, istri Paman Fotu. Linda pulang dengan kecewa. Di warung yang ia lewati, dilihatnya Paman Ignatius dan Paman Dominggus tengah meminum gula aren. 

“Paman sedang bersantai di sini rupanya?” Linda mendekat.

“Linda, dari mana kau?” Paman Ignatius menggeser duduknya.

“Dari rumah Paman Fotu. Tapi, ia tak ada!”

“Duduklah di sini!”

Linda duduk di situ. “Paman, soal kemarin, maafkan beta karena….”

“Sudahlah, Linda. Bukan kau yang salah. Kau hanya tidak beruntung!” Paman Ignatius mencoba bersikap santai. “Untuk seorang lama fa wanita, yang baru pertama kali berburu, kau sudah sangat berani.”

“Betul, Linda, jangan kau dengarkan omongan Tanakofa itu. Dari dulu ia hanya iri pada reputasi Papa Ora!”

Linda hanya mengangguk-angguk. Tak lama kemudian, ketiganya sudah bercerita macam-macam. Linda pun bercerita tentang surat yang diterimanya malam itu, juga dugaannya tentang pantangan yang dilanggar Papa Ora.

“Tapi, Papa Ora orang yang baik,” Dominggus berkomentar. “Paman yakin, ia tak akan punya musuh. Mungkin, ada orang yang iri padanya.”

“Tapi…,” suara Ignatius tiba-tiba terdengar ragu.

“Kenapa, Paman?”

“Ah, tidak… tidak….”

Linda menatap matanya. “Ada apa, Paman? Sepertinya, Paman ingin mengatakan sesuatu!”

“Ah, tidak!” Paman Ignatius masih mengelak. “Benar, tak ada apa-apa! Tapi, beberapa hari sebelum kematian Papa Ora, beberapa kali Paman melihat seorang wanita mendatangi Papa Ora.”

Mata Linda membulat. “Siapa dia, Paman? Ikke Mabengke?”

Paman Ignatius menggeleng. “Paman tak mengenalnya. Tapi, yang pasti, ia bukan orang Lamalera. Mungkin, dia dari desa sebelah.”

Linda terdiam. Kemungkinan besar wanita itu memang Ikke Mabengke. Lalu, untuk apa ia mendekati Papa Ora?

“Mungkin, itu penyebabnya,” Paman Dominggus tiba-tiba bergumam.

“Maksud Paman?” Linda mengerutkan keningnya, tak mengerti.

“Linda,” suara Paman Dominggus terdengar hati-hati, “seorang lama fa tak diizinkan berhubungan dengan lawan jenisnya selama musim berburu. Itu adalah pantangan pertama bagi seorang lama fa.”


                                                           cerita selanjutnya >>


Penulis: Yudhi Herwibowo
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber femina 2005


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?