<< cerita sebelumnyaSUDAH SATU JAM Kay menunggu, namun belum ada tanda-tanda pasien Yama akan berkurang jumlahnya. Yama memang dokter yang cerdas. Ia juga dokter yang baik. Ia adalah calon suami Kay, desah Kay dalam hati. Ia adalah laki-laki sempurna. Melly harus tahu, Yama jauh lebih baik dari dugaannya. Yama dengan sukarela membantu Nina. Berkat bantuan Yama, kini Nina ditangani dokter kanker terbaik dan akan segera pulih kondisinya. Dan untuk itu, Kay dan LSM Act tidak perlu membayar sepeser pun. Semua karena Yama. Yama telah menyelamatkan satu nyawa. Nyawa Nina setelah ia menyelamatkan ratusan orang melalui ilmunya sebagai dokter. Yama adalah seorang malaikat.
Uang bukan perkara besar bagi Yama. Imbal jasa yang diberikan kepada seorang dokter hebat sepertinya memang sepadan. Di usia tiga enam, Yama adalah rising star di Rumah Sakit Permata Bunda. Ia satu-satunya dokter muda yang memiliki pasien terbanyak. Tentu saja semua itu karena kecerdasannya menganalisis dan mendiagnosis penyakit yang diderita pasien.
Dua jam lewat. Kay tidak terlalu menyadarinya karena ia sendiri sibuk melamun tentang Yama. Pantatnya terasa amat pegal. Jangan-jangan ia juga sempat tertidur karena sudah terlalu lama menunggu. Masih ada dua pasien tersisa. Rasanya Kay sudah tidak sabar lagi menunggu. Mungkin sejak awal seharusnya Kay mengirim pesan kepada Yama mengenai kedatangannya. Tetapi, Kay tidak ingin menyerobot antrean pasien yang begitu panjang. Selain itu, Kay ingin merasakan sendiri suasana pada saat Yama praktik. Mungkin, dengan begitu ia akan makin mengenal Yama. Ah, apakah Kay masih dalam misi untuk mengenal Yama dengan lebih baik. Bukankah tidak ada cela yang terlihat dalam diri Yama.
Tetapi, Kay ingin tetap bersikap rasional. Sebelum menikahi Yama, Kay tidak ingin memiliki satu pun keraguan dalam hatinya. Kay menarik napas lega ketika pasien terakhir masuk ke kamar praktik Yama.
Yama keluar dari ruang praktiknya dengan wajah yang suntuk. Pekerjaan sebagai dokter memang sangat melelahkan. Kay yang duduk dengan manis di ruang tunggu mengagetkan Yama. Namun, tak lama kemudian senyum cerah mekar dari wajahnya.
”Kay, ada apa kamu di sini? Kok, tidak SMS aku?”
”Tadinya mau SMS. Tapi, nggak tega melihat pasien-pasien kamu jadi kesela dengan kehadiran aku. Ya, sudah, aku putuskan untuk menunggu.”
”Ah, Kay sayang, kamu terlalu baik. Makanya, dunia terbaikmu adalah dunia LSM....!” Yama tersenyum menggoda.
”Bukankah malaikat Yama jauh lebih baik hati?”
”Ah, tidak, Kay. Seorang dokter belum tentu lebih baik hati.” Yama merangkul pinggang Kay dan mengajaknya berjalan ke luar rumah sakit. ”By the way, apa tidak sebaiknya kita sudah mulai membuat jadwal untuk rencana pernikahan kita. Aku sudah makin tua, nih, Kay. Ditanyain terus sama dokter lain, kapan menikah? Ha...ha...ha...!”
Kay tersenyum geli. ”Kamu belum terlalu tua, Yama. Lagi pula, mana ada, sih, dokter yang jadi bujang lapuk. Adanya, dokter selalu jadi rebutan banyak gadis.”
”Karena itu juga Kay, kamu nggak boleh lama-lama. Nanti aku keburu direbut sama suster-suster cantik dan dokter-dokter keren di rumah sakit ini, hi... hi... hi....” Yama terkekeh menggoda.
”Oke, Darling. Aku nggak akan membuatmu berlama-lama menunggu.” Tunggu sampai urusan Rumah Hati mereda, baru kita matangkan rencana kita, ya.” Kay tersenyum lembut.
****
KAY MASIH BERGELUNG MANJA dalam pelukan Yama. Ia baru saja memasuki lorong indah ciuman hangat bersama Yama. LSM Act sedang sepi. Semua anak buahnya sedang bertemu dengan klien atau donatur yang ingin menyumbangkan dananya untuk Rumah Hati.
Kay tahu ia ingin terus berada dalam rasa hangat ini. Ia ingin terus tenggelam dalam pelukan Yama. Memang tak ada yang perlu ditunggunya untuk memutuskan menikah dengan Yama. Seseorang bisa berkorban apa saja demi meraih cinta. Di dekatnya sudah ada laki-laki yang dicintainya. Mengapa harus ragu untuk menikah? Sekalipun ia membuat keputusan yang salah, setidaknya Kay sudah memilih laki-laki yang dicintainya.
Memang, kadang-kadang Kay agak terganggu dengan sikap Melly, sahabat terdekatnya. Melly tetap saja kurang menyukai Yama. Melly tahu Kay luar dalam. Kay juga tahu Melly luar dalam. Entah mengapa, sahabat terdekatnya itu belum juga luluh hatinya terhadap Yama. Yang lebih membingungkan Kay, Melly sendiri tidak mengerti dengan alasan ketidaksukaannya pada Yama. Ah... Tapi, betul juga kata Yama dan Melly sendiri, mereka tidak wajib untuk saling menyukai. Kay mendesah panjang. Ia memusatkan perhatiannya pada alam semesta. Meminta energi dari kekuatan mahadahsyat di luar sana agar ia bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri.
****
USIA TIGA PULUH ENAM dan semua sudah ada di tanganmu. Yama tidak bisa berhenti mencecap-cecap spaghetti kesukaannya seperti ia mencecap-cecap rasa nikmat dalam hidupnya. Yama selalu terkenang-kenang pada gaun yang akan dikenakan Kay dalam pernikahan mereka nanti. Kay terlihat seperti peri. Peri yang akan menyihir dosa-dosamu. Peri yang membersihkan hidupmu. Yama memang terobsesi pada Kay. Pada perempuan yang terlahir tanpa sisi gelap dalam hatinya.
Kay akan melengkapi dan menyempurnakan hidupnya. Yama selalu menandai hari demi hari menjelang pernikahannya dengan Kay. Makin pendek waktu yang tersisa, makin ia lega. Kadang-kadang Yama dihantui perasaan tegang, khawatir Kay akan berubah pikiran.
Spaghetti Yama tinggal separuhnya. Ia mengisap dalam-dalam saus spaghetti dengan isi daging cincang dan tomat. Yama tidak ingin rasa saus itu berubah dari rasa nikmat yang dirasakan sebelumnya. Walaupun lidahnya baru saja mencecap rasa besi. Ataukah itu rasa zat besi? Rasa anyir? Perut Yama bergolak oleh rasa mual. Yama berusaha menahan muntahannya agar tidak meloncat dari tenggorokan.
Dengan langkah tergesa, Yama menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, sepiring spaghetti yang tadi disantapnya muncrat begitu saja. Yama kesal luar biasa. Perutnya kembali kosong dan lidahnya tidak lagi ingin mencecap. Yama tiba-tiba saja membenci rasa. Mengapa rasa nikmat yang ingin dicecapnya dalam-dalam selalu berubah menjadi rasa-rasa aneh yang membuatnya mual. Kadang-kadang Yama mencecap rasa yang seolah sama dengan rasa yang dicecapnya dalam mimpi. Dalam sebuah mimpi yang menakutkan.
Mimpi. Yama benci pada mimpi. Mimpi selalu membangkitkan pikiran-pikiran bawah sadarnya. Mimpi selalu mengoyakkan keteraturan pikiran rasionalnya. Malam hari selalu memorak-porandakan siangnya yang sempurna.
****
SUDAH LAMA YAMA MEMBENCI laki-laki itu. Laki-laki miskin yang sok pintar. Laki-laki itu selalu merongrongnya dengan tuntutan, hanya karena ia seorang guru. Menjadi guru membuatnya merasa pintar. Berulang kali ia datang memeriksakan anaknya yang sakit-sakitan dan ia selalu menuntut keringanan dari Yama. Yama kesal. Seorang dokter bukan malaikat atau badan sosial. Mengapa laki-laki berbadan bungkuk itu tidak pergi saja ke puskesmas, bukan ke dokter spesialis anak seperti dirinya.
Kali pertama datang, laki-laki itu membawa anaknya dengan kondisi demam tinggi. Anak itu menggigil kedinginan. Obat puyer Yamalah yang berhasil menyembuhkannya. Sejak saat itu, laki-laki paruh baya yang entah siapa namanya itu, rajin menyambangi tempat praktik Yama. Awalnya Yama sangat berbunga-bunga dengan pujiannya. Menurutnya, Yama dokter yang hebat karena dengan cepat bisa menyembuhkan penyakit putrinya. Dokter-dokter lain sudah angkat tangan. Laki-laki bodoh itu menjadikan Yama sebagai dokter kepercayaan. Saban putrinya sakit, laki-laki itu selalu mendatangi Yama.
Awal-awal kedatangannya, laki-laki itu selalu mampu membayar biaya pengobatan untuk anaknya. Yama mengira laki-laki itu adalah orang yang cukup kaya. Namun belakangan, pada kunjungan-kunjungan selanjutnya, laki-laki itu selalu datang dengan wajah memelasnya. Ia menjelaskan, dirinya adalah seorang guru dengan gaji yang sangat terbatas. Ia sudah menghabiskan semua simpanannya untuk mengobati putrinya yang sakit-sakitan. Laki-laki bungkuk itu mengatakan tabungannya pada tahap kritis dan tidak akan mampu lagi membayar biaya perawatan. Yama sudah menjawab diplomatis: ”Rumah sakit ini bukan milik saya, Pak. Kalau Bapak tidak mampu membayar, berhubungan saja langsung dengan rumah sakit.” Namun, dalam hati Yama merasa muak pada laki-laki ini. Sekali lagi, orang miskin yang lemah dan lembek.
Hari ini adalah kali kesekian laki-laki itu datang dengan wajah memelasnya dan anaknya yang sakit-sakitan. Kali ini keluhannya batuk dan sesak. Yama sebenarnya tidak ingin membencinya. Seorang dokter tidak boleh membenci pasiennya atau keluarga pasiennya. Namun, bapak itu betul-betul membuat Yama sebal. Kata-katanya yang panjang seperti ular-ular yang melingkar-lingkar itu terasa seperti racun yang memasuki batok kepalanya.
”Anak Bapak tidak apa-apa. Kondisinya bagus dan tidak perlu dirawat.” Yama menulis resep.
Bapak itu mengangguk dan mulutnya terbuka. ”Dokter yakin? Batuk dan sesaknya kelihatan parah.”
”Tidak, Pak.”
Kalau harus dirawat, apa kamu mampu membayar? Yama melanjutkan dalam hati. Kadang-kadang Yama khawatir pada kebenciannya yang mendalam pada laki-laki bungkuk itu. Bukankah seorang dokter disamakan dengan malaikat. ”Minumkan saja obat yang saya resepkan sesuai dosis. Bila tidak membaik, datang lagi ke sini.”
Laki-laki bungkuk itu berbalik dan menghilang di balik pintu. Yama menghela napas panjang. Setiap kali praktik, Yama selalu berdoa agar laki-laki itu tidak datang untuk membangkitkan kemarahannya. Namun, laki-laki itu selalu datang, karena anak perempuannya yang sakit-sakitan.
Malam harinya Yama terbangun oleh dering telepon. Telepon dari laki-laki bungkuk itu. Laki-laki itu mengatakan bahwa putrinya gelisah dan berkeringat setelah meminum empat macam obat yang diresepkan Yama. ”Kalau begitu jangan berikan obat bersamaan,” kata Yama. menyebut dua macam obat yang dia berikan pada laki-laki bungkuk itu. Yama menghela napas panjang. Kenapa laki-laki bungkuk itu tidak berhenti menerornya? Yama berusaha mengalihkan perasaan kesalnya. Kekesalannya agak terhapus dengan rencananya untuk pergi ke Puncak bersama Kay besok.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Ni Komang Ariani


