Fiction
Dongeng Kunang-Kunang [3]

1 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

“Ayo, sarapan, Ayah telah membuat sarapan kesukaanmu,” kata Ayah kemudian, mencairkan suasana senyap.

“Sungguh?” aku berseru girang.

“Sudah lama Ayah tidak memasak sarapan untukmu.” Ayah menggandeng tanganku menuju ruang makan. “Pagi ini Ayah ingin melakukannya. Kebetulan kau terlambat bangun, sehingga aku bisa memasak dengan tenang tanpa harus terburu-buru.”

Aku selalu ingat sarapan buatan Ayah. Masakan pertama yang dibuatnya sesudah Bunda berpulang. Scramble egg. Telur orak-arik bertabur parutan keju, dilengkapi setangkup roti tawar beraroma mentega dan segelas susu cokelat hangat.

“Ayah tidak pandai memasak,” kata Ayah ketika itu. Pada suatu pagi pertama tanpa Bunda.

“Sejak dulu yang bisa kulakukan hanya merebus air, menggoreng telur dan memasak mi instan. Itu bukan paduan menu yang baik untuk anak di usia pertumbuhan sepertimu. Tapi, kau tetap harus sarapan supaya tidak kelaparan di sekolah dan terganggu konsentrasi belajarmu. Kau juga tidak suka minum susu, sementara tubuhmu memerlukan gizinya, sehingga kau bisa tumbuh dengan sehat. Tapi, kau suka keju dan cokelat, meski cokelat tidak terlalu baik untuk gigimu.”

Aku mengangguk dengan diam ketika itu.

“Kini Bunda tidak bisa lagi memaksamu untuk menghabiskan jatah susu. Ayah juga tidak bisa melakukan pemaksaan itu. Tapi, itu tidak berarti bahwa kau bebas dari kewajiban minum susu,” kata Ayah melanjutkan.
Lagi aku mengangguk.

“Maka marilah kita bersepakat. Kucampurkan susu dan orak-arik telur, dan kutambahkan keju. Kutambahkan pula cokelat pada segelas susu. Artinya, kau dapatkan yang kau suka, tapi kau santap pula yang kau perlukan. Bagaimana?”

“Sarapan ini tidak akan selezat masakan Bunda, tapi sejauh ini, hanya itu yang bisa kulakukan.” Suara Ayah melirih, ada nada sengau yang terdengar. Lalu kulihat ayahku menyusut sesuatu di sudut mata. Itu adalah air mata.

Itu adalah kali pertama aku melihat Ayah menangis.

Setelah ketabahan sedemikian rupa yang terlihat sejak Bunda meninggal dan proses pemakamannya ketika itu. Ayah dengan ketabahan luar biasa bahkan menenangkan setiap orang. Sama sekali tidak terlihat kedukaan yang mendalam. Namun, pagi itu ayahku menangis. Demi kepergian Bunda, atau demi kesediaanku menyantap zat-zat yang kuperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatanku?

Di dunia ini Ayah hanya memiliki aku dan Bunda. Maka kutahu air mata itu tentulah untuk kami berdua. Bunda sudah pergi, maka kini akulah pemilik tunggal air mata itu. Air mata ayahku, mutiara terindah seorang ayah.
Maka, pagi itu kusantap habis sarapanku. Sesudah itu kupeluk Ayah erat-erat. Lalu kujanjikan padanya bahwa akan kumakan apa pun yang dimasaknya untukku, bahwa aku akan bangun pagi tepat waktu, dan aku akan belajar di sekolah dengan segala kecerdasanku.

Sebuah janji yang kutepati, setelah sekian janji yang kuingkari.

Kini sarapan yang sama menyambutku. Tapi tentu, rasa menu itu jauh lebih baik daripada yang pertama kali kusantap di pagi pertama itu. Ketika itu sungguh sebuah rasa yang kacau, tak jelas rasanya, serupa dengan bentuk orak-arik yang berantakan.

Kini, setelah sekian lama memasak menu yang sama, Ayah telah menjadi koki yang ahli. Orak-arik itu tidak lagi polos, melainkan berganti-ganti paduan kombinasi. Terkadang kacang polong, daging cincang, sosis, bawang bombay, jagung.

Kini sepiring telur orak-arik dengan paduan hijau kacang kapri dan irisan sosis tersaji di atas meja, dilengkapi secangkir susu cokelat yang masih hangat.

“Makanlah, tidak setiap hari Ayah memasak untukmu.”

“Tak perlu piring tambahan, Ayah,” kataku, menepikan piring yang diulurkan ayah. “Mari kita makan bersama, dari piring yang sama.”

“Ide yang bagus, sudah lama kita tidak melakukannya.”

Lalu bersama kami menandaskan orak-arik telur yang enak itu. Sarapan terlezat yang tidak pernah kutemukan lagi di manapun.

Ayahku berangkat pagi itu, menuju ke sebuah kota kecil di perbatasan yang tidak pernah kukunjungi.

Ayah mengecup keningku, mengacaukan rambutku perlahan sebelum kemudian melambaikan tangan dan melangkah menjauh. Sesaat kemudian mobil meluncur, membawanya pergi dan menghilang di tikungan.

Aku termangu sendirian di tempat aku berdiri. Menyimpan dan mengendapkan perasaan sedih di dalam diriku. Perasaan ditinggalkan yang muram.

Beberapa hari kemudian datanglah kabar itu.
Baru saja kuselesaikan sebuah negosiasi, pembelian barang dagangan dalam jumlah besar dengan harga khusus. Semalam telah kukonsultasikan hal itu dengan Ayah melalui telepon dan Ayah setuju. Maka kuhirup napas lega ketika negosiasi berhasil dengan baik.

Seketika itu juga kelegaanku terhenti demi melihat wajah pias Woro, sekretaris kantor, menerobos masuk ke ruanganku tanpa permisi. Aku terkejut, bukan karena ketidaksopanannya, melainkan lebih karena raut wajahnya yang sedemikian pias. Sangat pucat.

“Ada apa?” tanyaku.

“Bapak… Bapak,” jawabnya kacau, dengan kegugupan luar biasa.

“Maksudmu Bapak siapa, Woro? Tenanglah dulu, ambil napas, lalu katakan dengan tenang apa yang terjadi,” kataku, menenangkannya.

“Anu… di sana, Bapak…,” seru Woro tetap kacau.

“Atau kau perlu minum?”

Woro menggeleng, lalu tanpa terduga dia terduduk lemas di lantai dan menangis.

“Bapak kecelakaan, beliau meninggal.”

Lalu waktu terhenti bagiku. Mendadak segala sesuatu senyap. Aku berada pada sebuah dunia yang berhenti. Dunia yang tidak memiliki suara apa pun. Dunia tanpa bunyi. Dunia yang tidak memiliki gerak. Dunia tanpa irama. Dunia yang tak berwarna, tidak juga cahaya. Dunia yang gelap, diam dan hening semata-mata.

Sepasang Kehilangan

Malam sudah larut ketika aku tiba di kota itu. Sebuah kota kecil yang sederhana. Tidak ada bangunan bertingkat tinggi lebih dari dua susun di kota itu. Tidak ada bangunan yang bisa disebut plaza, mal, apalagi apartemen. Yang disebut pusat perbelanjaan lebih berupa sebuah jalan dengan rumah-rumah biasa yang dipergunakan sebagai toko-toko sederhana. Rumah-rumah itu banyak yang bergaya art deco, dengan dinding-dinding tebal, berlapis batu dengan paduan garis tiang yang khas.

Sebuah tempat yang sesungguhnya menyenangkan untuk dikunjungi. Mendadak aku mengerti mengapa ayah terus bertekad menjadikan tempat ini sebagai agenda tetap dalam jadwal kunjungan luar kotanya. Sesungguhnya sebuah kota yang bersahabat. Sesungguhnya. Tetapi, kenyataannya, kota ini tak hendak menjadikan aku sebagai sahabat, yang akan berkunjung dengan sukacita. Tetapi sebaliknya, aku justru datang untuk menjemput sebuah kehilangan yang akan memberikan duka paling sempurna. Kota yang telah merenggut milikku yang paling berharga. Ayahku.

Mobilku memasuki halaman rumah sakit.

Aku tercekat sesaat. Pedih menekan ulu hati. Mobil tak berhenti di pelataran itu, bukan karena tak ada lokasi parkir, melainkan karena….

“Terus saja, ruangan jenazah ada di bagian belakang,” kata petugas dari kepolisian yang mendampingiku untuk melakukan identifikasi, memberikan petunjuk arah ke mana kami harus menuju.

Pak Danu, sopir perusahaan kami, mengangguk tanpa suara. Aku juga tidak bersuara, sementara benakku bergemuruh dalam kecamuk yang tak ternarasikan.

Lalu kami melangkah menuju ruangan dingin itu. Kakiku bergerak begitu saja, seakan tanpa kendali, namun tahu ke mana harus menuju. Tentu tanpa kendaliku karena sungguh tidak kuinginkan perjalanan ini. Sungguh tidak.

“Sungguh Nona siap melakukannya sekarang?” petugas kepolisian menatapku dengan mata menyiratkan simpati. “Atau mungkin ingin beristirahat dulu? Kami bisa menunggu.”

Aku menggeleng perlahan. “Sekarang saja.”


Penulis: Sanie B. Kuncoro



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?