True Story
Kisah Haru Pelari Eni Rosita Selepas Tragedi Disiram Air Keras oleh Orang Tak Dikenal

5 Oct 2017

 

Foto: Dok. Pribadi
 
Hujan Dukungan
Butuh waktu sekitar satu hingga dua tahun untuk memulihkan bekas luka akibat zat kimia yang dialaminya. Saat ini, pemulihan baru mencapai 80%. Pemulihan yang lumayan cepat itu karena ia aktif bergerak. Ia tidak lagi harus rutin bertemu dokter, kecuali bila ia punya keluhan yang benar-benar serius.
 
Namun, beberapa bekas sayatan di pahanya tumbuh menjadi keloid. Keloid ini hingga kini terasa nyeri, sakit, dan gatal tiap hari selama 24 jam penuh. Rasa gatal keloid sungguh sangat menyiksa. Bahkan, ketika digaruk malah makin gatal.
 
Untuk mengatasi pertumbuhan keloid itu makin berkembang, ia sempat menjalani 3 kali terapi penyuntikan. Namun, ia tidak mau lagi melakukan penyuntikan, karena memiliki efek samping pada hormon yang membuat menstruasinya terganggu.
 
“Saya pernah mengalami menstruasi berkepanjangan selama sebulan penuh pada bulan Januari, efek dari obat yang disuntikkan,” katanya. Apalagi, proses menyuntikannya sangat sakit, walau sudah dibius. Sebagai pengganti, ia memilih untuk memakai pressure garment. Bentuknya seperti stocking yang mampu menghambat pertumbuhan keloid.
 
Dukungan keluarga, teman sesama pelari, dan teman kerja membuat Eni mampu bangkit melewati masa sulit. Bahkan, ia optimistis sembuh dan bisa lari lagi. “Bukan sekadar untuk berlari lagi, tapi saya harus sembuh demi anak-anak saya,” tekad wanita yang jatuh cinta pada dunia lari sejak tahun 2014 ini.
 
Biaya pengobatan yang harus ia keluarkan tidak sedikit. Eni mengungkapkan, biaya pengobatannya sekitar Rp200 juta. Ia senang karena pihak penyelenggara membantu dana biaya pengobatan. “Saya tidak menyalahkan mereka, karena peristiwa yang saya alami bukan kesalahan mereka. Di mana pun, lomba trail run tidak ada prosedur pengawalan, beda dengan road run yang dikawal mulai dari start sampai finish,” katanya.
 
Sepulang dari rumah sakit, selama November- Desember 2016 Eni memang tidak berlari. Ia merasa sedih melihat teman-teman yang lain mengikuti berbagai lomba lari. Sebab, ia sudah mendaftar di beberapa lomba, tapi tidak bisa ikut karena kondisinya tidak memungkinkan.
 
“Selama tidak bisa ikut lari, saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya,” tutur Eni, yang mengalihkan pikiran negatif dan rasa sakitnya dengan beragam aktivitas, seperti membaca buku dan menggambar.
 
Dengan energi positif, Eni mengikuti nasihat dokter untuk banyak bergerak agar jaringan baru yang dicangkokkan ke kakinya tumbuh dan pulih. Sejak Januari 2017, ia mulai melakukan latihan ringan. Kemajuan yang sedikit demi sedikit diraihnya membuatnya tertantang untuk kembali berlari mengikut lomba trail run di Yogyakarta, pada Februari 2017, jarak 25 km. Disusul dengan lomba di Penang, Malaysia, jarak 50 km, pada Maret 2017, dan lomba lari Lintas Sumbawa 2017.
 
Di lomba lari Lintas Sumbawa inilah ia meraih kembali jalur prestasinya. “Saya mengikuti lomba itu dengan keikhlasan, sebab tahun lalu saya gagal mencapai garis finish. Apalagi dengan kondisi saya saat ini,” tuturnya. Hebatnya, walau masih dalam masa pemulihan, ia berhasil menjadi Pemenang I, mengalahkan 26 peserta lainnya. Peristiwa penyiraman air keras di tengah lomba lari yang dulu menimpanya tidak menyisakan rasa takut. Namun, ia jadi lebih siaga dan berhati-hati.
 
“Saya menganggapnya sebagai musibah yang bisa dialami siapa saja dan di mana saja. Peristiwa itu justru memotivasi saya untuk tidak kapok berlari,” tutur Eni, yang telah memaafkan pelaku. Wanita kelahiran Pemalang, 16 Oktober 1978, ini juga mendapat dukungan dari perusahaan konsultan arsitektur tempatnya bekerja.

Selain itu, teman-teman pelari menggalang dana untuk membantu biaya pengobatan Eni dengan menyelenggarakan Run for Eni. Dari penggalangan dana itu, hampir 50% dari total biaya pengobatan tertutupi. “Saya terharu oleh solidaritas teman-teman dari komunitas pelari,” ujar Eni.
 
Meski mengaku tidak pahit hati mengingat kejadian itu, ia sangat menyayangkan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum peduli pada penyelenggaraan lomba lari. Akibatnya, sering terjadi gangguan keamanan dan kenyamanan di lintasan lari. Padahal, penyelenggaraan lomba lari memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
 
“Saya berharap, penegak hukum kita bisa lebih bekerja keras untuk mengontrol penjualan zat kimia mematikan, sehingga tidak lagi menimbulkan korban lain ke depannya,” harap Eni. (f)


Baca juga:
Perjuangan Muhammad Fahri Assidiq Kecil Bertahan Hidup dengan Penyakit Kelainan Tulang
Hidup Vicky Antony Sugiarta dengan Autisme dan Pergulatannya Menyongsong Masa Depan
Mengawal Mohammad Altair Nouman Sudjatmoko Kecil Melawan Kanker


Topic

#TrueStory, #EniRosita, #Lari, #KisahSejati

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?