
Foto: Dok. Pribadi
Sempat ‘Ditolak’ Anak
Diagnosis dokter mengungkap bahwa luka bakar yang ia derita sudah mencapai stadium 3. Otot yang sudah terkena cairan harus diangkat melalui dua kali operasi agar cairan yang tersisa tidak menyebar. Tidak hanya itu, untuk menutupi luka melepuh dan mengganti jaringan yang rusak di kakinya, Eni harus melalui operasi skin grafting.
Dalam operasi ini dokter mengambil kulit dan jaringan otot di kedua pahanya untuk menutup luka dan menggantikan jaringan otot kakinya yang hancur terbakar. Bila tindakan medis ini tidak dilakukan, bekas luka di kakinya akan meninggalkan lubang-lubang. Jaringan otot di kaki kirinya yang rusak juga akan membuat gerak kaki kirinya tidak seimbang dengan kaki kanan.
“Sempat bimbang untuk menjalani operasi ini. Namun, setelah berdiskusi dengan teman-teman dokter yang biasa melakukan operasi plastik, saya jadi yakin dan berani,” ungkapnya, pasrah.
Namun, luka fisik dan perjuangannya melawan rasa sakit ini tidak seberapa dibanding dengan ujian batinnya sebagai seorang ibu. Ia harus menahan sedih saat kedua putranya, Theo (12) dan Ale (7), tidak mau menemuinya selama tiga minggu awal, saat ia dirawat di rumah sakit. Bukan karena tidak sayang, tapi serangan trauma membuat kedua anaknya tidak berani melihat kondisi Eni.
“Mereka tahu kondisi saya lewat media massa online dan juga YouTube,” ujarnya, sedih. Bagaimanapun, Eni berusaha tetap memperhatikan kedua anaknya dengan menjalin komunikasi lewat telepon. Meski di saat yang sama, putranya yang bungsu belum berani berbicara dengannya. Tak ada pilihan lain, Eni harus bisa tegar melewati masa trauma yang juga harus dialami anak-anaknya.
Ketegaran hatinya ini terlihat jelas lewat paras wajahnya yang tak pernah menunjukkan kesedihan. Terutama saat menyambut rekan-rekannya sesama pelari atau teman-teman kerja yang datang menjenguk. “Saya mencoba untuk selalu tersenyum dan melayani teman-teman yang ingin foto bareng. Itu adalah cara saya untuk meyakinkan anak-anak bahwa saya baik-baik saja,” jelasnya.
Barulah di minggu terakhir perawatan di rumah sakit kedua anaknya berani menjenguk. Itu pun mereka tidak berani masuk ke ruang perawatan. “Padahal, saya kangen banget, ingin memeluk mereka, tapi mereka masih belum berani mendekat,” ceritanya, dengan mata berkaca-kaca.
Topic
#TrueStory, #EniRosita, #Lari, #KisahSejati


