True Story
Kisah 2 WNI yang Terjebak Lockdown di Italia dan Selandia Baru

4 May 2020


Dok: Pribadi


"Rasa mencekam tinggal di epicentrum COVID 19 di Italia"

Tinggal di Milan, region Lombardia, Italia yang merupakan region yang paling parah terpapar oleh Covid-19, bukanlah sesuatu hal mudah. Semua serba dibatasi. Apalagi dengan tingginya angka kematian, tentunya membawa rasa takut dan tantangan besar bagi Mayang Pramadhani (36), karyawati.

Mayang menuturkan bahwa area tempatnya tinggal lumayan mencekam. Setiap orang tidak diperbolehkan keluar rumah, terkecuali untuk menyelesaikan pekerjaan yang bersifat esensial, belanja kebutuhan makanan, dan membeli obat-obatan. “Banyak sekali arahan dan batasannya. Ada sanksi hukum bagi yang melanggar,” ujarnya.

Wanita yang bekerja sebagai Exploration Projects Negotiations di salah satu perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi ini mengungkapkan bahwa kantor tempatnya bekerja telah menerapakan smart working atau working from home terhitung sejak 26 Februari 2020 lalu. Baginya hal itu memiliki tantangan tersendiri. Keterbatasan logistik, seperti tidak memiliki layar monitor tambahan, sementara pekerjaannya membutuhkan konsentrasi tinggi dalam membaca dan mereview dokumen yang jumlah halamannya bisa berlembar-lembar, sempat memperlambat kerjanya. “Bekerja hanya dengan menggunakan sebuah laptop tidaklah mudah. Tidak memiliki printer di rumah,” tuturnya.

Konsentresinya untuk bekerja pun kerap terganggu oleh suara bising tram yang berada tak jauh dari apartemennya, ditambah lagi dalam situasi seperti sekarang ini, banyak sekali ambulans yang lalu-lalang.

“Rasanya seperti dalam situasi perang. Setiap ada ambulans yang lewat saya sering kali merasa sedih bahkan menangis karena saya sangat yakin mereka adalah pasien Covid-19 yang harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan,” ucapnya ngeri.

Ia mengungkapkan, tantangan terbesar lainnya adalah segala urusan pekerjaan di rumah harus dikerjakan sendiri. Biasanya ada ART (asisten rumah tangga) yang datang membantu membersihkan rumah setiap hari. “Pekerjaan rumah itu cukup menyita banyak waktu dan tenaga,” ucapnya.

Walau penuh tantangan, tapi Mayang tetap berupaya untuk produktif. Ia menyadari dan berdamai dengan keadaan. Situasi emergency tentunya tidak akan sama dengan situasi normal.

Dalam hal mengelola waktu, ia tetap bangun pagi, mandi, dan sarapan seperti layaknya mau ke kantor biasa. Kemudian, hal yang biasa juga ia lakukan setiap hari adalah membuat to do list. Ia tentukan jam berapa harus bekerja dan jam berapa ia melakukan pekerjaan rumah.

Untuk menangkal virus mematikan ini, Mayang melakukan beberapa hal seperti menjaga personal hygiene dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, walaupun hanya di rumah saja. Ia juga selalu menggunakan liquid hand sanitizer sebelum tidur.

Selain menjaga personal hygiene, menjaga kebersihan rumah sama pentingnya. Ia menggunakan berbagai produk disinfectant untuk membersihkan lantai, pintu, jendela, kamar mandi, dapur, serta barang-barang lainnya yang sering ia sentuh, seperti HP, komputer, remote TV, dan sebagainya.

“Saya pastikan makanan yang saya konsumsi bergizi seimbang. Saya mengonsumsi banyak sekali buah-buahan, terutama yang kaya akan vitamin C dan mengandung antioksidan.  Buah yang saya makan setiap hari saat ini adalah jeruk, kiwi dan strawberry. Sesekali saya tambah dengan mengkonsumsi vitamin C 500 mg,” ungkapnya.

Minum air putih yang banyak salah satu keharusan. Dalam sehari ia minum sekitar 1,5 – 2 liter air putih. Selain air putih, ia rajin juga membuat rebusan air jahe dan kayu manis, resep dari tanah air.

Tindakan pencegahan lain yang ia lakukan yaitu selalu memakai sarung tangan ketika belanja ke supermarket.  “Orang-orang di sini sekarang kalau keluar rumah, rata-rata mereka pakai sarung tangan dan masker. Saya pribadi tidak pernah memakai masker sama sekali, tapi saya selalu memastikan terdapat jarak sekitar 1-2 meter dengan orang lain di sekitar saya,” tuturnya.

Untuk groceries shopping, Mayang tidak pernah mengalami kesulitan. Ia dapat menjangkau dengan berjalan kaki sekitar 6-7 menit untuk sampai ke supermarket yang menjual kebutuhan pokok.

Selama masa lockdown, food supply dan stok barang-barang kebutuhan rumah tangga yang dijual di supermarket di Italia memadai. Masyarakat tidak perlu resah karena pemerintah menjamin ketersediaannya.

“Ketika di awal-awal kasus Covid-19 merebak, pada saat sekolah dan kampus serta beberapa aktivitas bisnis lainnya mulai ditutup, terjadi panic buying sehingga beberapa barang yaitu produk disinfectant, masker, dan berbagai bahan makanan pokok seperti pasta, tepung, roti, keju, daging, dan tomat kaleng, habis,” ujarnya.

Mayang menuturkan bahwa sampai saat ini, kondisi psikisnya masih dalam taraf normal. “Supaya tidak stress, saya biasanya mendengarkan musik, melakukan stretching dan menghubungi beberapa teman supaya tidak merasa kesepian,” ujarnya.

Selama masa karantina wilayah, Mayang justru menemukan hobi baru yaitu memasak. Baginya, memasak adalah positive distraction. “Saya juga menggunakan waktu luang untuk belajar bahasa Italia mulai dari menonton film sampai membaca buku. Intinya, selalu berusaha mengisi waktu dengan kegiatan positif,” tuturnya.

Hingga hari ini, Senin (4/5/2020), Italia akan mulai membuka lockdown secara bertahap. Pemerintah Italia telah menyiapkan sejumlah aturan bagi warga yang bakal segera bebas dari karantina untuk menghindari penyebaran Covid-19. Beberapa aturan yang diterapkan pemerintah Italia diantaranya Warga boleh bepergian dengan bebas namun hanya bisa dilakukan di wilayah (provinsi) mereka, kecuali dalam keadaan darurat atau alasan kesehatan, mereka boleh mengunjungi sanak saudara, mengunjungi taman kota yang baru dibuka dengan anak-anak, dan bersepeda atau berlari dengan jarak yang lebih jauh dari rumah. Namun, semua kegiatan itu tidak boleh dilakukan secara berkelompok. Kegiatan seperti makan siang keluarga besar dilarang.

Meski begitu berbagai wilayah di Italia menetapkan aturannya masing-maisng dalam memberlakukan pembukaan lockdown ini. Saat ini kasus kematian akibat Covid-19 di Italia mencapai 174 kematian baru. Ini adalah angka kematian terkecil sejak perintah karantina dikeluarkan 10 Maret lalu. Namun, pemerintah mengingatkan kemungkinan pemberlakuan karantina lokal jika muncul peningkatan kasus positif Covid-19 lagi.


Baca selanjutnya: "Ikuti saja aturan pemerintah, karena itu yang terbaik"


Topic

#corona, #covid19

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?