True Story
Chef Ragil Imam Wibowo dan Meilati Batubara: Dari Perut Turun ke Hati
24 Mar 2017
Makan Sehat
Di tengah kesibukan bisnis kuliner yang telah mereka rintis dari bawah ini, Ragil dan Mei tetap berusaha menjalankan hobi mereka, traveling dan fotografi yang sedang ditekuni Mei. “Apalagi kami sedang riset aneka masakan Indonesia. Jadi, kalau traveling, kami akan belajar masak dari ibu-ibu di daerah untuk riset. Menyenangkan banget, deh,” cerita Mei, semringah.
Kini, Ragil dan Mei sedang asyik dengan mainan baru mereka, yaitu Nusa Indonesian Gastronomy. “Semua bahan dari tiap daerah berbeda-beda, dan semuanya hebat. Bisa karena sulit didapat, atau aneh,” tambah Ragil. Bahan-bahan yang ‘aneh-aneh” inilah yang mereka gunakan di resto berkonsep fine dining terbaru mereka, Nusa Indonesian Gastronomy. Inilah yang membuat tiap jenis masakan di Nusa memiliki cerita di belakangnya.
“Misalnya sangsang. Aslinya, masakan Batak ini menggunakan daging babi dan dimasak dengan darah babi. Di Nusa, kami menggunakan daging bebek, dan hati bebek sebagai pengganti darah, tapi dengan rasa seautentik mungkin. Lalu ada lagi naniura, yaitu sejenis menu sashimi dari Toba. Ikan mentah yang ‘dimatangkan’ dengan menggunakan bumbu-bumbu bercita rasa kuat, seperti andaliman, bumbu khas dari Batak,” jelasnya.
Selain keperluan riset, traveling juga menjadi waktu untuk berkumpul bersama kedua putri mereka, Kaylin Maritza Wibowo (15) dan Kirani Nayla Wibowo (12). Untungnya, mereka juga doyan makan seperti orang tuanya, meski beda selera. Kaylin lebih suka makanan western, dan Kirani lebih suka masakan Indonesia. Ragil dan Mei juga tidak membiasakan kedua putrinya makan fast food dan makanan instan. Semua adalah makanan segar dan makanan rumahan. “Ada tapinya. Kalau sedang sakit atau sedang traveling dan sulit menemukan makanan, bolehlah makan mi instan. Apalagi Mei… kalau sakit, pasti pengin banget makan mi instan,” ujar Ragil.
Malu-malu Mei mengaku bahwa ia memang pernah kecanduan mi instan. Kebiasaan ini bisa jadi muncul gara-gara dulu mi instan adalah makanan andalan saat di tempat kos. Karena jarang memasak, ia bisa mengonsumsinya hingga 3 kali seminggu. Ragil sempat kesulitan menghentikan kebiasaan Mei ini. Tapi, demi anak-anak, Mei pun mulai berjuang. “Kalau enggak makan mi instan dalam seminggu, duh, seperti orang sakau, deh. Bahkan, saya suka beli dua, tapi yang satu diam-diam saya umpetin. Takut ketahuan Ragil dan anak-anak. He… he… he…,” cerita Mei.
Akhirnya, pelan-pelan ia bisa melepaskan ‘kecanduannya’ itu. Sekarang, ia hanya makan mi instan kalau sedang sakit. “Itu comfort zone-nya Mei. Asal cepat sembuh, ya, enggak apa-apalah,” kata Ragil, tersenyum. Meski tak fasih memasak, lidah Mei ternyata lebih mantap untuk urusan makanan, karena ia menjadi juri tiap masakan Indonesia buatan Ragil. “Kalau Mei bilang enak, berarti itu sudah enak, dan siap dijual,” ujar Ragil, memuji istrinya.
Namun, menurut Mei, makanan apa pun yang dibuat Ragil pasti rasanya enak, apalagi nasi gorengnya. Karenanya, ia merasa, kutipan yang mengatakan, “Marry the one who gives you the same feeling you have when you see your food coming at a restaurant,” itu cocok untuknya. “Mungkin gitu, ya, rasanya melihat Ragil. Kalau melihat dia pulang atau baru ketemu rasanya senang saja, mungkin karena dia mengingatkan saya pada makanan. Ha… ha… ha…!”(f)
Topic
#kisahcinta
event
recommended


