Trending Topic
Women’s March, Perjuangan Wanita Lewat Kata-kata

13 Mar 2017

 
 
Tidak Asal Rangkai
Menggoreskan kata-kata dalam sebuah media tidak semudah menuang air dari botol ke dalam gelas. Karena, maksud yang ingin disampaikan harus dapat dipahami oleh orang awam yang sekadar lewat. Praktisi kata-kata dari Berakar Komunikasi, Yoga Adhistrisna, mengatakan bahwa kekuatan dari sebuah kata terletak pada korelasi dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat.

“Kata-kata yang digunakan harus tepat dengan isunya dan tidak berbelit-belit,” pesan Yoga. Salah satu contoh penggunaan kata-kata yang fenomenal menurutnya adalah poster yang dibuat oleh Chairil Anwar dan menggunakan lukisan Affandi dengan bertuliskan ‘Boeng, Ajoe Boeng’. ”Poster ini dibuat untuk menyemangati para pejuang di masa agresi militer Belanda tahun 1945. “Pada masanya, kata ‘boeng’ (bung) adalah panggilan hormat untuk sesama pejuang. Poster itu ditempel dan disebar di kampung-kampung,” ucap Yoga.

Contoh lainnya adalah poster bertuliskan ‘Merdeka atau Mati’ yang dibuat oleh seniman asal Surabaya, M. Sochieb, yang mengutip kalimat penutup dari pidato Bung Karno pada Juni 1945. Poster tersebut ditempel di kereta yang mengangkut pemuda-pemuda yang akan berperang. “Dua poster ini sederhana, tetapi ‘bernyawa’. Orang yang membuatnya sangat paham dengan kondisi yang sedang terjadi. Poster-poster tersebut cukup efektif membakar semangat para pejuang untuk mempertaruhkan nyawa,” jelas Yoga.

Jika diperhatikan dari aksi Women’s March yang digelar di negara lain, terlihat beberapa poster dengan tulisan yang sedikit nakal, yakni menggunakan diksi yang kurang sopan, misalnya penggunaan kata ‘b****’ atau ‘f***’. Menurut Yoga, justru kata-kata tersebutlah yang memang sangat efektif untuk menarik perhatian.

“Untuk aksi memang harus menggunakan kata-kata yang nyeleneh. Kalau kata yang digunakan terlalu normatif, tidak akan menarik,” ucapnya. Dari segi media, menurut Yoga, kata-kata anehlah yang diburu. Ia berpendapat, “Ketika dipublikasikan, maka kata-kata tersebut dengan sangat cepat akan menyebar.”

Dari segi visualisasi, Yoga mengamini bahwa tampilan poster atau spanduk turut mendukung menarik perhatian orang yang melihatnya. Salah satu poster yang dibuatnya dan menjadi viral adalah poster blusukan Jokowi ala tokoh komik Tintin  pada masa pilpres 2014. Poster berjudul Kisah Blusukan Jokowi ini dinobatkan sebagai pemenang Best in Government and Politics pada ajang penghargaan Shorty Awards 2015 di New York, bersanding dengan NASA (National Aeronautics and Space Administration). Shorty Awards adalah penghargaan di bidang strategi komunikasi lewat media sosial.

Dari parade Women’s March, Yoga menyukai satu poster yang menurutnya cukup menonjol, yakni sebuah poster bertuliskan ‘We the People are greater than fear’, bergambar wanita mengenakan bendera Amerika Serikat sebagai jilbab yang belakangan diketahui bernama Munira Ahmed. “Kata-katanya pendek, tapi sarat makna,” ucapnya. Menurut Yoga, permainan tipografi huruf seperti yang dilakukan Puji juga merupakan strategi yang bagus untuk memberikan penekanan pada kata-kata.
 
Berhasil Menyetir Kebijakan
Sekitar tiga tahun terakhir seluruh organisasi wanita mulai bergabung untuk menyatukan suara dan beraksi. Dinda Nuurannisaa Yura atau akrab dipanggil Nisa, selaku koordinator program di Solidaritas Perempuan, mengakui bahwa sejak bersatunya organisasi wanita di Indonesia, mulai terlihat ada pergerakan kebijakan pemerintah yang mengacu pada hak-hak wanita. “Massa paling banyak adalah saat aksi Hari Perempuan Internasional, pada 8 Maret 2014. Sejak pukul 10 pagi kami sudah bergerak dari Bundaran Hotel Indonesia ke Istana Negara,” kenangnya.

Usai aksi tersebut, Nisa dan kawan seperjuangannya mulai memperoleh perhatian dari perwakilan DPR, yakni Eva Kusuma Sundari, Rieke Diah Pitaloka, dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. “Efek yang terasa adalah mulai terlihatnya komitmen pemerintah dalam menangani isu perempuan, salah satunya adalah yang tertera di Nawa Cita,” ucap Nisa.

Sembilan agenda prioritas yang ada dalam pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla mengedepankan komitmen untuk memberdayakan serta melindungi kaum wanita dan anak lewat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA). Selain itu, Nisa menjelaskan juga bahwa pada tahun 2007 kelompok-kelompok wanita juga berhasil mendorong pemerintah untuk membuat Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2017 milik Komnas Perempuan, dari 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan selama tahun 2016, sebanyak 139 kasus di antaranya merupakan kasus perdagangan perempuan.
 
“Aksi dan kata-kata adalah kesatuan, dan pengaruhnya bekerja dalam menyetir kebijakan pemerintah. Dengan perempuan berkata-kata, maka pemerintah akan lebih tanggap,” tegas Nisa.

Tiap kali akan mengadakan aksi, Nisa selalu berdiskusi dengan ‘akar rumput’ untuk membuat kata-kata di media aksi, seperti poster atau spanduk. “Teman-teman yang berkaitan langsung lebih tahu apa yang harus dituliskan. Oleh sebab itu, harus ada koordinasi sebelum aksi dimulai,” ujarnya. Ia mengakui bahwa pada awal pembuatan poster, kata-kata yang dilahirkan cenderung kaku. Setelah melewati proses diskusi, kalimat yang ada menjadi lebih menarik.

Klik halaman berikutnya untuk melanjutkan
 


Topic

#isugender, #internationalwomensday

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?