
39, Desainer Produk, Jakarta
Tanamkan Nilai Kebaikan Dasar
Saya lahir dan besar di daerah Grogol, Jakarta Barat. Sekolah TK hingga SD di sekolah milik yayasan Katolik. Dari rumah ke sekolah kala itu dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit naik becak. Di masa SD, saya mulai merasakan di-bully. Saya mendapatkan bullying dari anak-anak kampung di sekitar kompleks rumah kami. Mereka mengatakan saya Cina, kadang-kadang malak, meminta uang, bahkan saya dipukuli bila keinginan mereka tidak terpenuhi.
Menghadapi mereka, saya biasanya melarikan diri. Atau, ketika akan melewati salah satu gang dekat rumah dengan naik sepeda, saya harus mengamati dulu sebelum lewat, memastikan anak-anak di gang itu tidak sedang berkumpul.
Saya sempat kesal dengan perlakuan mereka itu, tapi saya tidak pernah membenci mereka. Saat SMP, saya tidak pernah di-bully lagi. Karena itulah, saya memberanikan diri untuk bergaul dengan anak-anak sekitar. Bermain di selokan untuk mencari ikan atau belut.
Begitu juga di sekolah, saya bergaul dengan anak-anak pribumi yang bandel-bandel. Di SMA, saya bahkan aktif main band yang beranggotakan anak-anak dari berbagai latar belakang. Musiklah salah satu yang membantu saya untuk berbaur. Saya merasa diterima, tanpa melihat ras.
Berbaur dengan orang-orang yang berbeda etnis, apalagi mayoritas, masih saya lakukan hingga sekarang. Rekan-rekan saya yang ikut mendirikan Brightspot Market dan The Goods Dept semua pribumi.
Pengalaman yang saya rasakan di masa kecil mungkin tidak dialami oleh anak-anak zaman sekarang. Sebab, mereka ke mana-mana lebih sering naik mobil, mainnya kebanyakan di mal. Kondisi ini sebenarnya makin menciptakan jarak. Rasisme memang tidak akan dirasakan, tapi kesenjangan sangat terlihat.
Saya berharap, nilai-nilai kebinekaan kini kembali dijalankan bersama-sama. Hal ini saya tanamkan kepada ketiga anak saya. Saya menyekolahkan mereka di sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Di rumah pun, saya berusaha berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.
Klik laman selanjutnya untuk mendengar pengalaman Ernest Prakasa yang sempat dibully soal etnis semasa kecil.
Topic
#Keberagaman



