
Foto: Fic
Sebagai turis, kita sering kali digiring untuk pergi ke tempat pusat turis. Tinggal di hotel berbintang di pusat kota, lalu sepanjang hari bertualang dengan tur. Akibatnya, interaksi kita hanya sebatas dengan turis-turis juga. Minim sekali kesempatan untuk bersua dengan warga lokal. Padahal, untuk bisa mendapatkan pengalaman autentik tentang budaya di suatu daerah, sumber yang paling bisa diandalkan adalah masyarakat setempat.
Yunita, tour leader, memberi tip-tip guna menemukan warna lokal di dalam itinerary perjalanan kita.
Pertama, browsing sebanyak mungkin tentang daerah yang akan dikunjungi. “Sebaiknya jangan spontan, apalagi kalau kita tidak kenal daerah itu,” sarannya.
Sebelum pergi, kita bisa melakukan riset kecil-kecilan di internet. Mulai dari budaya, keunikan, hal-hal yang harus dicoba, sampai bagaimana menggunakan transportasi publik di tempat tersebut. “Ketika mau ke Tokyo, saya baca tulisan di blog orang, bagaimana cara transfer dari subway untuk naik shinkansen di Tokyo. Saya sampai download rute-rute keretanya,” ujar Yunita.
Yunita menambahkan, dari riset itu diharapkan kita sudah tahu mau ke mana, mau nyobain apa, ingin lihat apa. Contohnya, ke Korea, sebaiknya jangan lewatkan untuk ikut kursus singkat bikin kimchi. Di Jepang, cari hotel yang berjenis ryoken, yang menyediakan tempat tidur tatami. Di Selandia Baru, pergilah ke desanya. Kita bisa menemukan gambaran kehidupan masyarakat setempat dengan memilih hotel yang berjenis farm stay, atau penginapan di dalam peternakan di daerah pedesaan. Di situ, kita bisa mencicipi hidangan rumahan dengan suasana kesibukan di sebuah peternakan dan pertanian setempat.
Untuk wisata di dalam negeri, Evi Aryati Arbay, dari Trip Advisor Indonesia, juga mengatakan hal serupa. Minimal, kita harus tahu seperti apa, sih, tradisi mereka, supaya kita tidak melakukan hal yang salah. “Misalnya, saat berkunjung ke Mentawai, mereka senang kalau dibawain kain. Itu satu pendekatan personal tersendiri,” saran Evi.
Kedua,
cek calendar event di daerah yang akan dikunjungi. Di seluruh Indonesia, ada sekitar 300 event besar. Akan lebih banyak ceritanya kalau kita bisa datang berkunjung tepat dengan perayaan ritual mereka. “Beberapa festival adat yang sudah dikelola baik, misalnya, Festival Lembah Baliem, biasa diadakan tanggal 8-10 Agustus tiap tahunnya. Festival Asmat, minggu kedua bulan Oktober,” ujar Evi.
Ada pula masa-masa ‘terlarang’ untuk datang berkunjung. Misalnya, di Baduy, dari Februari sampai awal April mereka tutup karena ada kawalu, semacam bulan Ramadan bagi mereka. Mereka puasa dan tidak menerima tamu.
Ketiga, yakni tidak melewatkan mengunjungi pasar tradisional ketika berada di suatu destinasi. Pasar bukan hanya tempat melakukan transaksi jual beli, tapi juga tempat kita bisa menikmati kebiasaan orang lokal dan berinteraksi dengan mereka. Perbedaan bahasa bukan masalah selama masih bisa menggunakan bahasa tubuh saat berkomunikasi. (f)
Ketiga, yakni tidak melewatkan mengunjungi pasar tradisional ketika berada di suatu destinasi. Pasar bukan hanya tempat melakukan transaksi jual beli, tapi juga tempat kita bisa menikmati kebiasaan orang lokal dan berinteraksi dengan mereka. Perbedaan bahasa bukan masalah selama masih bisa menggunakan bahasa tubuh saat berkomunikasi. (f)


