Dari Pesolek Jadi Macho
Sementara itu, citra flower boys, yang umumnya ditampilkan oleh aktor Korea berusia 20-an, kerap disandingkan dengan peran yang terkesan lebih maskulin dan tangguh. Tak hanya tren budaya populer, kajian tentang maskulinitas Korea pun sering membandingkan keduanya, dan berujung pada kesimpulan bahwa flower boys cenderung tak mampu memegang kendali dan bertarung secara fisik. Maka, muncul pandangan bahwa seiring bertambahnya usia seorang aktor Korea, ia akan mulai meninggalkan peran-peran 'manis' untuk menjajal penampilan yang lebih macho.
Contohnya Lee Min-ho, saat memerankan anak jalanan yang tumbuh menjadi gangster di tahun 1970-an dalam Gangnam Blues (2015). Karena tak mungkin memerankan karakter tersebut dengan wajah mulus, aktor asal Seoul ini rela absen menggunakan pelembap selama tujuh bulan. Hingga berbulan-bulan sesudahnya, ia masih menuai komentar bahwa ia terlihat jauh lebih tua.
Lain lagi dengan Kim Woo Bin. Dari belakang layar, ia menuai banyak pujian karena pembawaannya yang dianggap cenderung lebih maskulin dibandingkan flower boys pada umumnya. Bertinggi badan 188 sentimeter, ia terlihat mencolok dibandingkan aktor Korea rupawan lainnya, yang harus membentuk tubuh terlebih dahulu agar terlihat lebih berotot dan kuat. Citra maskulin yang dimilikinya datang dari suaranya yang dalam, juga ekspresi wajah dan matanya, yang ikut membuatnya terlihat seksi.
“Wajahnya mungkin tidak setampan banyak aktor flower boys lain, namun justru inilah yang membuatnya bisa mendapat tawaran peran yang lebih beragam,” komentar salah seorang produser film, sebagaimana dilansir soompi.com.
Sementara itu, bagi sejumlah aktor Korea, tawaran peran yang menuntut mereka tampil lebih tangguh datang setelah mereka merampungkan masa wajib militer. Misalnya Song Joong-ki, yang kembali ke layar kaca tahun lalu sebagai Kapten Yoo Shi Jin dalam Descendants of the Sun. Saat syuting dimulai, ia sudah terbiasa dengan gaya bicara dan penampilan sebagai seorang tentara.
“Tetapi, Kapten Yoo bukan hanya seorang pria berseragam tentara. Karakter ini sangat serius dan berjiwa kepemimpinan tinggi, sehingga memerankannya menjadi tantangan tersendiri,” ungkap pria yang masa wajib militernya berakhir pada tahun 2015 ini.
Demikian pula Gong Yoo, yang penampilannya cenderung lebih dewasa seusai menjalani wajib militer pada Desember 2009. Dalam dua tahun bertugas, ia tak hanya turun ke garis depan di Cheorwon, namun juga menjadi disk jockey di Radio Militer Korea. Kembali ke dunia seni peran lewat film komedi romantis, aktor yang pernah menjadi video jockey semasa kuliah ini kemudian berkesempatan berakting dalam genre action-thriller.
Dalam film The Suspect (2013), ia menjadi agen rahasia Korea Utara yang hendak membalas dendam atas kematian istri dan anaknya, sekaligus menelusuri misteri yang menyebabkan kematian bosnya. Tiga tahun kemudian, Gong Yoo, yang hingga kini betah melajang, kembali dipercaya memerankan sosok ayah dalam Train to Busan yang bergenre serupa.
Kedua film tersebut menghadirkan Gong Yoo yang berpenampilan acak-acakan; sekali waktu ia berkumis, bercambang, bertelanjang dada, dan menodongkan pistol, kali lain ia berlari demi menghindari zombie dengan wajah kusut dan pakaian berlumur darah.
Sementara itu, berpenampilan seperti seorang pria tangguh tak melulu berarti keberanian mereka tak ada habisnya. Begitu pula para aktor Korea.
“Memerankan suatu karakter saat sedang merasa benar-benar ketakutan adalah pengalaman yang menyeramkan, dan ekspresi itu terlihat jelas di kamera,” ungkap Gong Yoo, menceritakan pengalamannya saat syuting Train to Busan. Aktor yang hampir 16 tahun berkarier di dunia akting ini berseloroh, “Bahkan ketika kami sedang rehat syuting, saya tak mau dekat-dekat dengan aktor pemeran zombie saat mereka masih memiliki riasan lengkap.” (f)
Baca juga:
5 Bintang Korea yang Mencuri Perhatian Dunia, Mulai dari BTS Hingga Gong Yoo
Demam Korea Melanda Indonesia
Gong Yoo Konfirmasi Fan Meeting di Hong Kong dan Taiwan, Indonesia Kapan?
Topic
#Koreancorner


