Trending Topic
Di Balik Pesona Flower Boys: Gong Yoo hingga Song Joong-ki

7 Apr 2017




Laris Manis Pesona Pria Asia
Sebagai produk budaya yang dibawa oleh Korean wave, aktor Korea berhasil membuat jutaan penggemarnya di Asia tergila-gila dengan 'paket lengkap' bakat dan penampilan terawat. Mereka pun menciptakan definisi baru maskulinitas, dari yang umumnya menekankan ketangguhan fisik dan penampilan macho ala Barat. Terkait fenomena ini, dalam Excess and Masculinity in Asian Cultural Productions, Kwai-Cheung Lo (SUNY Press, 2010) menilai bahwa berubahnya persepsi gender di masyarakat turut dipengaruhi ekspansi pesat kapitalisme.

Tak heran bila apa pun yang dijajakan oleh para aktor Korea, termasuk produk perawatan kulit, akan disambut baik di pasaran. Lee Min-ho dan Song Joong-ki masing-masing membintangi iklan Innisfree dan Laneige, keduanya produk perawatan kulit asal Korea. Sementara itu, Gong Yoo adalah wajah label produk sejenis asal Inggris, The Body Shop, dan Kim Woo Bin menjadi duta produk kosmetik asal Italia, Bottega Verde.

Respons positif ini juga terlihat dari hasil survei online femina terhadap 100 pembaca pada Maret 2017. Mayoritas (72%) responden menganggap bahwa kecenderungan aktor Korea menjadi bintang iklan produk perawatan tubuh dan wajah maupun kosmetik adalah sah-sah saja. Hanya 8% yang menilai bahwa pria-pria ini jadi tampak terlalu pesolek bagi mereka.

Di lain pihak, menurut kontributor The Daily Dot Collette Bennett, sebelum Korean wave tiba di Amerika Serikat, pria keturunan Asia khususnya Asia Timur kesulitan mendapat perhatian lawan jenis. Pasalnya, maskulinitas pria Asia kerap dinilai lebih rendah dari pria-pria dari budaya lain, sehingga menimbulkan banyak prasangka, tak hanya dalam soal asmara namun juga karier. Bahkan, sejumlah survei seputar online dating menunjukkan hasil nyaris seragam, bahwa wanita di AS paling tak tertarik pada pria Asia dibandingkan dari ras-ras lainnya.

“Namun, popularitas produk budaya Korea menunjukkan bahwa jutaan orang tengah jatuh cinta pada pria 'jenis baru', yang menarik bagi mereka yang bosan dengan definisi maskulinitas Barat yang kaku,” jelas Bennett.

Menariknya, National Geographic pada tahun 2011 justru menyatakan bahwa pria Asia Timur, tepatnya pria berumur 28 tahun dari etnis Han asal Tiongkok, adalah tipikal wajah manusia masa kini. Raut wajah serupa dimiliki sekitar 9 juta dari 7 milyar penduduk dunia. Mereka pulalah target demografis maskulinitas versi pria Korea masa kini, yang tak pantang diasosiasikan dengan femininitas.

Sun Jung, dalam Korean Masculinities and Transcultural Consumption (Hong Kong University Press, 2010) menyebut versi ini sebagai maskulinitas lembut (soft masculinity) Pan-Asia Timur.

Maskulinitas lembut merupakan versi gabungan dari tiga jenis maskulinitas. Yang pertama adalah seonbi, maskulinitas tradisional Korea Selatan yang dipengaruhi oleh ajaran Konfusius dari Tiongkok, menekankan pria sebagai sosok terpelajar dan taat aturan. Yang kedua adalah bishonen atau pretty boy versi Jepang, yang membaurkan batas gender antara pria dan wanita. Terakhir adalah maskulinitas metroseksual yang dikenal secara global, yang membebaskan pria untuk merawat penampilan.

Peran Song Joong-ki sebagai Gu Yong-ha dalam Sungkyunkwan Scandal, misalnya, adalah salah satu contoh penggambaran maskulinitas seonbi. Lee Min-ho turut menghadirkan maskulinitas bishonen sebagai pemeran utama dalam Boys Over Flowers, yang diangkat dari serial komik Jepang Hana Yori Dango.

Sementara itu, citra pria metroseksual yang umum ditampilkan para aktor Korea turut mendukung pria untuk merawat diri. BBC melansir bahwa di Korea Selatan, pria menghabiskan lebih banyak uang untuk berbelanja produk perawatan kulit dibandingkan di negara-negara lain.

“Tak hanya dianggap ideal dan dipasarkan secara strategis oleh industri K-pop, maskulinitas versi ini terbilang cocok mencerminkan perubahan sosial di masyarakat Korea. Saat ini, mereka berada di antara Konfusianisme sebagai bagian dari sejarah mereka, dan industrialisasi modern dengan hasrat untuk mencapai khalayak global,” tulis Soy Kim dalam kolomnya di The Harvard Crimson.
     


Topic

#Koreancorner

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?