
Foto: Fotosearch
“Eh, tahun depan aku mau married, nih!”
Kalimat itu sepertinya cukup kerap kita dengar (bahkan, mungkin kita sendiri pernah juga mengucapkannya). Di bagian depan sudah disebutkan keterangan waktu, yaitu tahun depan. Tapi, kalau kita perhatikan pemakaian kata 'married' (bentuk lampau), jelas tidak nyambung dengan keterangan waktunya, ‘kan. Padahal, seandainya 'married' diganti jadi ’marry’, kok, jadi terdengar aneh.
Bahasa gado-gado, bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa asing lain (tak harus selalu Inggris), memang jadi tidak sedap kalau racikannya tidak tepat. Malah bisa bikin kuping gatel bagi lawan bicaranya, terutama yang benar-benar paham istilah yang benar dalam bahasa asing tersebut.
Itulah yang disebut André Möller, seorang pengamat bahasa Indonesia asal Swedia, sebagai ’pergaulan bebas’. ”Bahasa gado-gado ini dipakai oleh orang biasa dalam percakapan sehari-hari maupun oleh figur publik, seperti politikus dan pejabat,” katanya.
André bercerita, cukup dengan membuka koran atau majalah ia bisa melihat betapa liarnya 'pergaulan' bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. “Di televisi lebih parah lagi. Penuturnya hanya ingin tampil keren dan berwawasan luas, tapi malah keliru,” imbuhnya.
Pria yang belajar bahasa Indonesia di negaranya dan mengambil jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta ini pernah menuliskan kebingungannya. Ceritanya, mertuanya (orang Indonesia) hobi membuat kue dan mempunyai koleksi resep dari berbagai sumber. Salah satu sumbernya adalah tabloid wanita. ”Di situ saya menemukan resep ’cake wortel’, bukan ’kue carrot’, ’wortel cake’, atau ’carrot kue’. Bagaimana cara tahu mana yang ’benar’?” begitu tulis André, yang memberi istilah ’bahasa Inggronesia’ untuk bahasa gado-gado itu.
Di akhir tulisan itu ia menambahkan: ”Saya benar-benar tak mengerti kenapa kedua bahasa ini harus bergaul begini, karena hasilnya hanya kebingungan dan ketidakjelasan. Setidaknya bagi saya yang tak bisa memahami bahasa 'hibrida' ini. Nanti, kalau ada mata kuliah bahasa Inggronesia, akan saya follow dengan senang hati. Sampai later!”
Ironis sekali. Ada warga asing yang begitu peduli pada bahasa Indonesia yang menurutnya makin berantakan, sementara kita sendiri tidak ngeh. Masalah itu belum termasuk ungkapan dalam bahasa Indonesia yang ‘di-Inggris-kan’ misalnya ’happy wedding’ dan ’thanks before’. Padahal, di negara asalnya, ungkapan itu seharusnya adalah ‘congratulations on your big day’ dan ‘thanks in advance’.
Dr. Felicia N. Utorodewo (pengajar di program studi Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia), mengatakan, ”Memang, dalam bahasa lisan atau bahasa gaul, kita tidak berhak melarang orang bercakap-cakap dengan bahasa gado-gado itu. Istilahnya, tidak ada polisi yang bisa mengatur lalu lintas berbahasa karena itu sebuah dinamika berbahasa,” urainya. Tapi, Felicia berpandangan, ketika menggunakan kata dalam bahasa asing, sebisa mungkin kita tetap memerhatikan kaidah yang benar.
Jika kita perhatikan, banyak iklan, lagu, dan kartu ucapan buatan dalam negeri yang menyelipkan kata-kata dalam bahasa Inggris atau malah lebih suka menggunakan judul yang berbahasa Inggris. Film-film yang sedang dan akan tayang di bioskop, misalnya, film Winter in Tokyo dan Will You Marry Me, yang sebetulnya produksi Indonesia. Padahal, filmnya full berbahasa Indonesia.
Ternyata, hal seperti ini tak hanya terjadi di negeri kita ini. Di Swedia pun juga demikian, meski menurut André, tidak separah di Indonesia. Banyak pula lagu Jepang yang dicampur bahasa Inggris. Kadang-kadang malah hanya memakai bahasa Inggris di judul, atau satu baris di bagian refrein. Misalnya, lagu First Love. Kata dalam bahasa Inggris-nya juga cuma di judul dan refrein.
Putu Laxman Pendit Ph.D (konsultan jurnalistik independen) mengakui, ”Di dunia ini, bahasa Inggris memang sering ’diperkosa'. Sebenarnya, orang Inggris pun tidak bisa protes. Hanya, kadang-kadang kita harus tahu diri dalam menggunakan bahasa orang lain. Saya termasuk bisa bertoleransi dengan ’penyalahgunaan’ kata. Asalkan, dalam bahasa Indonesia belum ada kata yang tepat,” kata Putu.
Felicia menyarankan, jika penggunaan bahasa gado-gado itu menyangkut ’hajat hidup orang banyak’ (artinya: dibaca, didengar, dan dikonsumsi masyarakat), maka tidak boleh sembarangan. Harus diperhatikan apakah pemakaian kata itu sesuai konteks dan kaidah bahasa. Jangan perlihatkan bahwa kita memahaminya hanya separo-separo. (f)
Veronica Wahyuningkintarsih


