Kefas remaja, sang pemberontak, yang tinggal di panti asuhan. Foto: NetflixKarya orisinal Netflix Indonesia kini makin beragam, seperti film orisinal terbaru, Surat untuk Masa Mudaku.
Film ini jadi kolaborasi pertama Netflix dengan sutradara Sim F. dan rumah produksi Buddy Buddy Pictures, yang telah menggarap antara lain film Susi Susanti - Love All (2019).
Surat untuk Masa Mudaku berkisah tentang persahabatan tak terduga di panti asuhan antara seorang remaja pemberontak bernama Kefas, dan pengurus panti yang berusia lanjut, Pak Simon. Keduanya berusaha berdamai dengan masa lalu masing-masing, suatu hal yang tak mudah.
Film ini dibintangi Theo Camillo Taslim (Kefas remaja), Fendy Chow (Kefas dewasa), Agus Wibowo (Pak Simon), Aqila Herby (Sabrina), Cleo Hanura Nazhifa (Joy), dan Halim Latuconsina (Boni).
Dalam konferensi pers sehari sebelum penayangannya, Sim F. bercerita mengenai gagasannya untuk film ini. “Ceritanya terinspirasi kehidupan nyata di panti asuhan, seperti apa perjuangan anak-anak di sana, rasa sedih mereka ditinggal, sekaligus bagaimana mereka memiliki harapan.”
Walau terinspirasi cerita hidupnya, Sim F. mengatakan kalau film ini bukanlah sebuah biopik. “Saya dan penulis naskah Daud Sumolang meramu cerita-cerita dari kehidupan nyata di panti asuhan menjadi satu tema, yaitu rasa kehilangan, yang dirasakan oleh karakter Kefas remaja, Kefas dewasa, sampai Pak Simon.”
Para pendukung saat konferensi pers. Foto: Dok. Netflix IndonesiaTentang perannya, Theo Camillo Taslim mengungkapkan, “Kefas adalah karakter yang sangat keras kepala dan gengsi terhadap apa pun, karena ia memendam banyak sekali perasaan kecewa dan sedih di masa lalu.”
Theo mempersiapkan peran ini dengan memahami latar belakang karakter serta banyak bertanya dan berdiskusi dengan sutradara, termasuk observasi ke sebuah panti asuhan.
“Bagi saya cerita ini menarik dan berbeda dari semua kisah lain, tentang persahabatan masa kecil dan trauma di masa lalu. Dari kecil menjadi dewasa banyak hal yang terjadi tapi ada beberapa hal yang tersimpan jauh di bawah sadar kita,” kata Fendy Chow.
Setelah berkeluarga, Kefas dewasa menyadari bahwa ia masih menyimpan trauma, dan mencoba membukanya kembali demi masa depannya.
Fendy juga bercerita bahwa saat syuting ia mencari sejumlah ciri karakter dari Kefas remaja yang terus terbawa hingga dewasa, seperti logat dan gestur. “Kami sesuaikan supaya perbedaan sosok antara Kefas remaja dan dewasa tidak terlalu jauh. Tricky tapi menyenangkan,” ujarnya.
Akting menyentuh Agus Wibowo sebagai Pak Simon. Foto: NetflixKarakter Pak Simon dalam film ini menjadi jangkar dari kekuatan cerita. Karakter ini juga berperan penting dalam pengembangan konflik cerita.
“Karakter yang saya mainkan sudah tidak percaya lagi pada kehidupan, dia bersikap dingin dan apatis pada orang-orang di sekitarnya. Ini hampir mirip karakter Kefas yang dari kecil banyak menemui kepahitan dan kehilangan,” kata Agus Wibowo.
Agus melanjutkan bahwa karakter Simon yang penuh dengan kepahitan boleh dibilang mirip kisah pribadinya. “Simon dari kecil hidup di panti asuhan, sementara saya di jalanan. Rasa benci dan tidak adil di dunia dibangun lewat situ, ditambah dengan observasi di panti asuhan untuk menggali hubungan psikologis antara pengurus dan anak-anak di panti.”
Dalam konferensi pers itu, produser Wilza Lubis mengungkapkan bagaimana cerita ini bisa terwujud menjadi sebuah film.
“Sim adalah sutradara yang sangat mendetail dan salah satu tantangannya adalah set up di masa lalu sehingga kami butuh riset-riset tertentu dan mencari pemain-pemain muda,” ujar Wilza. “Itu adalah perjalanan yang selalu menarik dari sebuah film, dan kami selalu percaya ada blessing in disguise bahwa orang yang tepat akan hadir.”
Kisah menyentuh tentang persahabatan, konflik, pilu dan haru, serta kelucuan anak-anak panti dalam Surat untuk Masa Mudaku mulai tayang hari ini, 29 Januari 2026, hanya di Netflix. (f)
Baca juga:
Histeris! Kim Seon-ho dan Go Youn-jung Hadir di Jakarta Tepat di Hari Penayangan Can This Love Be Translated?
Dalam Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery, Benoit Blanc Tak Perlu Intervensi Ilahi
Abadi Nan Jaya: Wabah Zombi Lokal Gara-gara Ramuan Misterius
Bennita Luisa
Topic
#feminaindonesia, #reviews, #netflix


