Reviews
Abadi Nan Jaya: Wabah Zombi Lokal Gara-gara Ramuan Misterius

24 Oct 2025

Sejak film Train to Busan (2016) dan serial Kingdom (2019-2020) meledak, Asia, khususnya Korea Selatan, adalah pendongeng kreatif urusan zombi.

Film Thailand juga pandai meramu cerita soal zombi yang melokal, seperti Sadness (2021) dan Ziam (2025), dengan latar belakang Bangkok.

Dalam film Indonesia, zombi lebih identik dengan lokasi pedesaan atau di pinggiran kota (seperti serial Zona Merah di Vidio yang asli menegangkan); entah alasan produksi atau untuk dramatisasi. Begitu pula dengan film terbaru tentang zombi lokal, Abadi Nan Jaya, yang disutradarai Kimo Stamboel.

Tangan dingin Kimo yang terkenal dengan film-film penuh darah atau menegangkan sejak era The Mo Brothers bersama Timo Tjahjanto maupun aksi solonya itu (lihat saja Macabre, Killers, atau horor Badarawuhi di Desa Penari) langsung terasa sejak film dimulai. Sawah hijau indah jadi kontras dengan momen teror mengerikan.

Kisahnya tentang seorang pengusaha jamu (Donny Damara) yang hidup mewah di Desa Wani Rejo bersama istrinya yang jauh lebih muda, Karina (Eva Celia), dan putra dari perkawinan sebelumnya, Bambang (Marthino Lio). Demi mengimbangi Karina, ia memesan jamu awet muda Abadi Nan Jaya, yang seketika mengubah penampilannya jadi lebih muda.

Drama keluarga berbuntut teror zombi sangat di luar nurul. Foto: Netflix

Di saat yang sama, putrinya, Kenes (Mikha Tambayong), berkunjung dari Jakarta (dari cara ngomongnya, sih, very Jaksel), bersama sang suami, Rudi (Dimas Anggara), dan putra mereka, Raihan (Varen Alianda Calief).

Rudi yang menjalankan usaha mertuanya punya proposal, sementara hubungan Kenes dengan ayahnya meregang karena Karina dulunya adalah sahabat Kenes.

Penampilan baru sang ayah ternyata hanya sebentar. Drama keluarga (dari Kenes-Rudi mau cerai hingga Bambang yang terkesan hanya minta uang) membuat sang ayah marah, namun tiba-tiba muntah darah dan berubah mengerikan.

Mengira mertuanya sakit, Rudi menyuruh sopir keluarga untuk mencari dokter. Ternyata sang sopir telah tergigit majikannya dan di tengah jalan berubah jadi zombi, hingga mobilnya menabrak lokasi sebuah hajatan. Jadilah zombi itu menyerang para peserta hajatan, dan mengubah semuanya jadi zombi.

Efek getok tular itu bikin Wani Rejo diteror zombi. Bala bantuan dari Sleman malah berubah jadi zombi setelah diserang; begitu pula rombongan yang sedang melintas. Niat baik untuk menolong malah mengubah mereka jadi zombi.

Kenes, Rudi, Raihan, Karina dan Bambang mati-matian menyelamatkan diri, secara zombi lokal sangat tangguh. Karina, Raihan, dan Rudi terpisah dari Kenes dan Bambang. Kenes dan Bambang sempat minta bantuan anggota polisi Polsek Wani Rejo, yang apa daya tak berhasil melawan zombi.

Lalu, siapa yang akhirnya berhasil selamat? Apa juga arti hujan bagi zombi-zombi buas itu?

Hubungan Kenes dan Karina yang sekarang ibu sambungnya diuji wabah zombi mengerikan. Foto: Netflix

Jumpscare langsung digeber sejak zombi pertama muncul. Sentuhan budaya lokal terasa banget, seperti zombi ngesot, serta saat alat apa pun bisa jadi senjata (dari keris sampai tangkai pompa air).

Adegan Kenes, Bambang, dan seorang polisi junior dikerubuti puluhan zombi di jalanan dengan view sawah cantik jadi adegan epik paling merinding. Unsur komedi terselip satu-dua di film ini, termasuk zombi ngesot, walau endingnya ironis.

Seperti pakem Train to Busan, selalu ada pengorbanan saat melawan kejahatan. Open ending juga bikin gemas, sekaligus kembali hadirkan ironi (penasaran, deh, siapa sebenarnya produsen jamu misterius itu).

Abadi Nan Jaya sudah tayang di Netflix mulai 23 Oktober kemarin. Berhubung OTT, kamu bisa atur sendiri tingkat ketegangan yang mau ditonton. Tapi sayang, ah, kalau langsung lihat endingnya....

Baca juga:
Murder Report: Wawancara Menegangkan dengan Pembunuh Berantai
Pengin Hijrah: Memaknai Hijrah Lewat Cinta dan Persahabatan
The Smashing Machine: Kisah Gelap di Balik Kehidupan Sang Petarung

 

Zornia Harisantoso


Topic

#reviews

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?