Reviews
Film Dokumenter dan Dukungan untuk Kemanusiaan

9 Aug 2017


Foto: 123RF

Bukan rahasia lagi jika banyak persoalan sosial menggantung begitu saja tak tersentuh. Harapannya, film dokumenter yang memotret realitas bisa menciptakan perubahan sosial yang lebih baik. Sebuah program bernama Good Pitch memperjuangkan dukungan pembuatan film-film dokumenter untuk menyampaikan pesan kemanusiaan kepada dunia.

Bagi sebagian orang, film dokumenter mungkin masih terasa asing. Wajar, karena berbeda dengan film komersial yang biasa disaksikan di bioskop dan televisi, film dokumenter dibuat berdasarkan fakta, bukan fiksi. Tujuan utamanya pun bukan hiburan seperti yang dicari orang saat menonton film, melainkan untuk memberikan instruksi, edukasi, atau melestarikan catatan sejarah.

Meski begitu, medium film dipilih banyak aktivis sosial atau mereka yang ingin memberi perubahan sosial, karena memang bisa lebih efektif untuk membuat orang ‘menoleh’ dan mendengarkan isi pesan yang disampaikan dibandingkan medium tertulis atau bahkan lisan. Visualisasi gambar bergerak dan audio memberikan unsur dramatikal yang bisa menyentuh perasaan. Ditambah lagi ‘aktor’ di dalam film dokumenter adalah orang-orang yang sebenarnya mengalami peristiwa itu sehingga lebih terasa nyata.

Kelahiran dokumenter pada abad ke-18 awalnya digunakan untuk mendokumentasikan prosedur pembedahan yang jadi sarana pembelajaran para tenaga medis awal abad ke-19, untuk merekam catatan perjalanan dan biografi, serta sebagai senjata politik melawan neokolonialisme dan kapitalisme, terutama di Amerika Selatan, pada tahun 1960-1970.

Baru sejak tahun ’90-an, dokumenter modern merambah panggung sinema komersial. Misalnya, Fahrenheit 9/11 (2004) karya sutradara Michael Moore tentang peristiwa serangan World Trade Center di New York yang jadi tragedi nasional di Amerika Serikat. Kehadiran film dokumenter memang bisa membawa warna baru dalam dunia perfilman. Tak sekadar menghibur, tapi ada pesan yang hendak disampaikan.

Salah satu dokumenter terkenal adalah film dokumenter independen 500 Years Later yang dibuat oleh sutradara Owen ‘Alik Shahadah, tahun 2005. Film ini menyorot dampak perbudakan terhadap orang-orang berkulit hitam asal Afrika. Film yang menuai 5 penghargaan internasional termasuk UNESCO ini dianggap bisa memberikan dampak sosial dan politik akan isu rasisme yang disentil.

Bagaimana kekuatan film bisa mengubah opini dunia juga dirasakan oleh mantan Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat, Al Gore, yang menerima Nobel Perdamaian berkat upayanya memberikan penjelasan mengenai pemanasan global lewat film dokumenter. 

Saat masih menjabat sebagai Wapres AS, Al Gore telah aktif selama beberapa dasawarsa untuk menjelaskan perubahan iklim, tapi tampaknya hanya sedikit orang yang mendengar seruannya, sampai munculnya film dokumenter An Inconvenient Truth yang disutradarai oleh Davis Guggenheim tahun 2006. Film yang ditayangkan di berbagai bioskop ini memenangkan piala Oscar untuk kategori Film Dokumenter Terbaik tahun 2007, dianggap bisa membangun kepedulian dan memberi edukasi akan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Kekuatan film dokumenter yang mampu membawa perubahan juga dituai oleh film Give Up Tomorrow (2011). Dalam salah satu adegannya, Francisco Osmeña Larrañaga (Paco) dengan wajah memelas memohon keadilan karena ia divonis hukum mati dengan tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan atas seorang gadis kecil yang tak pernah dilakukannya. Film yang membongkar ketidakadilan sistem peradilan dan lemahnya investigasi kriminal kepolisian di Filipina ini diputar di 60 festival di seluruh dunia dan memenangkan award di Tribeca Film Festival 2011.

Pemberitaan di media massa membuat dunia memberi perhatian pada kasus Paco. Dukungan yang datang dari seluruh dunia akhirnya berhasil menyelamatkannya dari hukuman mati dan sekaligus mengubah kebijakan dihapuskannya vonis hukuman mati di Filipina.

Seperti apa perkembangan film dokumenter di Asia tenggara? Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.
 


Topic

#filmdokumenter

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?