Dari sekitar 12 juta penduduk Jakarta, 7000 di antaranya adalah mereka yang harus menyambung hidup dengan mengamen di jalanan setiap hari. Kehidupan keras para pengamen Jakarta ini berhasil ditangkap oleh Daniel Ziv selama kurang lebih 6 tahun observasi dan dituangkan menjadi sebuah film dokumenter bertajuk Jalanan.
Film dokumenter yang menggunakan musik sebagai pengantar cerita berdurasi 2 jam ini, jauh dari kesan membosankan. Selain jalan ceritanya yang nyeleneh dan sarat akan kritikan sosial dan politik, tiga karakter utama yang unik jadi kekuatan film ini. Boni yang tinggal di ‘rumah’ kolong jembatan dengan istri dan anak-anaknya selama 7 tahun. Pria berambut gimbal nan romantis, Ho yang lantang bersuara atas ketidakadilan. Ada pula, Titi yang ‘berkantor’ di terminal Blok M dan berkeinginan untuk mengubah hidupnya. Tak jarang, komentar mereka akan keadaan sekitar yang ceplas-ceplos namun cerdas mampu mengundang gelak tawa.
Terketuk hatinya, Daniel ingin mengangkat kehidupan kaum bawah yang mentah tanpa skrip. Menurut Daniel, penikmat film akan belajar banyak dari pengalaman dan perjuangan orang-orang yang terpinggirkan ini. “Mayoritas film Indonesia berfokus pada kehidupan orang kaya, saya ingin menyuguhkan sesuatu yang lain. Bagi saya ini eksperimen yang menarik. Saya menemukan tiga karakter individu yang kuat dan ‘berwarna’. Lalu lagu-lagu ciptaan mereka juga menjadi penguat alur cerita,” jelas Daniel.
Merangkum liku-liku kehidupan yang dibalut rasa kesepian, duka kematian, dorongan seksual, pernikahan, kisruh perceraian, gemuruh reformasi, hingga nelangsa masuk bui dengan begitu apik, film ini berhasil memenangi Best Documentary di ajang Busan International Film Festival tahun 2013.
Jangan lewatkan film yang diangkat dari kisah nyata ini di bioskop mulai 10 April 2014!
Woro Hartari Trianti
FOTO: WHT


