Profile
Swietenia Puspa Lestari, Si 'Kecil Cabe Rawit' Penjaga Laut

3 Feb 2020


Dok. Novendo Belladone




Nyaris 5 tahun berdiri, DCA berkembang sangat pesat. Komunitas yang  kini menjadi badan yayasan bernama Yayasan Penyelam Lestari Indonesia ini sudah memiliki 1.500 relawan yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara. 

Bahkan, berkat kerja keras dan konsistensinya memberikan edukasi dan pelatihan pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil, Tenia masuk dalam daftar 100 Perempuan Berpengaruh di Dunia versi BBC, pada Oktober 2019. Ia pun menjadi satu-satunya orang Indonesia yang disandingkan dengan wanita-wanita hebat dari seluruh dunia, seperti
Alexandria Ocasio-Cortez (anggota kongres AS), Bella Thorne (aktris), hingga Greta Thunberg (aktivis perubahan iklim).

“Saya
enggak pernah menyangka akan masuk daftar itu. Apalagi harus disandingkan dengan nama-nama besar dari berbagai negara lainnya. Di Indonesia jarang yang tahu nama saya. Mereka justru baru tahu setelah saya mendapatkan penghargaan tersebut,” ceritanya, senang.

Penghargaan tersebut seakan melegitimasi rekognisi atas apa yang ia lakukan. “
Ini menyemangati kita sendiri untuk tidak menyerah meneruskan program-program. Juga   melegitimasi bahwa pekerjaan kita itu berdampak baik bukan hanya untuk alam, tapi juga untuk masyarakat sekitar,” ujarnya, bangga. 

Tenia juga bersyukur karena dari penghargaan inilah dia makin dikenal. Ini akan memudahkan langkahnya untuk mengajak masyarakat lebih luas untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik sekali pakai. Bahkan, ia berujar bahwa ini seperti hadiah untuk orang tuanya yang sempat tidak menyetujui langkahnya untuk mendirikan DCA.

“Ketika saya bilang ingin menyeriusi pekerjaan ini, mereka bilang ‘
ngapain?’ Mereka sempat menyayangkan mengapa saya memilih jalur profesional di pekerjaan ini. Mereka menganggap mendirikan NGO ini akan sulit. Mereka berharap saya menekuni kepedulian ini dari jalur pemerintahan saja sebagai PNS yang menurut mereka masa depannya lebih jelas,” kenangnya.

Namun, Tenia tak lantas mengikuti kata orang tuanya. Ia justru berusaha membuktikan bahwa dirinya bisa membesarkan ‘bayi’-nya menjadi organisasi yang berdampak positif bagi lingkungan. Ketika hal ini terwujud, pada akhirnya sang ayah,
Sumarto, dan ibu, Darmastuti Nugroho Sumarto, memahami bahwa yang dilakukan Tenia benar-benar serius, dan kini mereka pun ikut mendukung. 

Mendirikan DCA di usia muda  bukanlah hal yang mudah bagi Tenia. Banyak  kerikil yang harus dihadapi olehnya dalam mengembangkan DCA.

“Karena kami mengembangkan organisasi ini dari nol dengan dana dari kantong  sendiri, tentunya sulit. Apalagi hal ini tidak diajarkan di mana-mana. Jadi, kami belajar sambil mengerjakan langsung. Kami harus mengembangkan jejaring kami sendiri, belajar bagaimana mengolah sampah dan ilmu tersebut harus bisa dipahami oleh warga pulau. Ini bukan perkara mudah,” tutur Tenia. 

Selain itu, usianya yang masih muda justru tak jarang membuat orang meremehkan apa yang dilakukannya atau bahkan menolak kehadirannya membantu warga-warga di berbagai pulau di Indonesia untuk menemukan solusi pengolahan sampah. “Mereka kadang-kadang bilang, ‘
Ngapain, sih, anak-anak ini.’”  

Ungkapan ‘kecil-kecil cabai rawit’ rasanya
pas disematkan pada diri Tenia. Walau masih terbilang muda, ia justru berhasil menggagas gerakan #NoStrawMovement, yaitu gerakan yang mengajak masyarakat untuk tidak menggunakan sedotan plastik.

Bahkan, DCA berhasil mengajak perusahaan sebesar KFC untuk bergabung dalam gerakan tersebut dengan tidak memberikan sedotan plastik di gerai-gerai makanannya. Hebatnya lagi, sekitar 700 restoran ikut berpartisipasi dalam gerakan ini.

Dengan ragam program yang dilakukan DCA, Tenia justru berharap kelak yayasan yang dibangunnya bersama teman-temannya ini tak akan lagi ada. “Banyak orang tertawa mendengar ini. Tapi, saya berharap kelak yayasan ini tidak akan ada lagi, karena tandanya laut sudah bersih dan masyarakat sudah bisa mengolah sampah dengan benar. Artinya DCA tidak dibutuhkan lagi,” ujarnya, berharap.

Jika kelak hal itu tercapai, Tenia mengaku akan tetap menjadi sosok pencinta lingkungan. Kendati bingung akan memilih jalur yang mana, Tenia berharap ia akan tetap konsisten dengan
passion-nya dalam isu pelestarian lingkungan. (f)


BACA JUGA :

Astri Puji Lestari, Arsitek yang Menjalani Hidup Minim Sampah Sejak Kecil
Aretha Aprilia Pulang Kampung untuk Meningkatkan Derajat Sampah
Arvila Delitriana, Kisah Sukses Bridge Engineer LRT Jabodebek Kuningan yang Memukau Presiden RI Joko Widodo



 



Topic

#SwieteniaPuspaLestari

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?