Hasil Akulturasi Budaya
Turut menyumbangkan cita rasa dalam kekayaan budaya, makanan di mata Rahung adalah sebuah cara untuk bercerita. Baginya, perjalanan sebuah hidangan jauh lebih panjang dari proses memasak di dapur hingga tersaji di meja. Lewat makanan, seseorang dapat belajar mengenal unsur-unsur yang menjadi ciri khas suatu makanan, dari mana asalnya, dan seperti apa sejarahnya.
Ia mencontohkan jintan dalam kare, yang kerap ditemukan dalam hidangan India dan Arab. Sementara itu, beragam jenis kare juga dikenal di Asia Tenggara, seperti kare merah dan hijau di Thailand, membuktikan bahwa kare berasal dari hasil akulturasi berbagai budaya.
Demikian pula soto, yang merupakan hasil akulturasi dengan budaya Tionghoa. Ada banyak varian soto di Indonesia, tapi semuanya berasal dari daerah yang bersinggungan dengan pengaruh Tionghoa, misalnya lewat perdagangan.
Namun demikian, Rahung berargumen bahwa tidak ada yang namanya makanan Indonesia. Yang ada, menurutnya, adalah makanan daerah. “Hidangan nasional berarti semua orang di negara itu mengenalnya. Tapi, saking banyaknya kekayaan makanan daerah kita, tak sedikit makanan daerah di Indonesia yang asing di telinga dan lidah orang dari daerah lain,” jelasnya.
Rahung menilai, persoalannya tak jauh dari ketiadaan apresiasi terhadap makanan sebagai ilmu pengetahuan dan bagian dari kebudayaan. Sayangnya, di Indonesia tidak ada sekolah khusus kuliner, yang menjadi tempat belajar cara mengolah makanan sekaligus mengeksplorasi filosofi dan seni memasak dan makanan. Yang ada hanya sekolah tata boga sebagai tempat belajar teknik memasak, tanpa menggali tentang makanan itu sendiri sebagai produk budaya.
Di luar itu, Rahung beranggapan bahwa Indonesia tak kekurangan peluang untuk memperkenalkan makanan daerahnya di mancanegara. Bila dunia menggandrungi sashimi, hidangan ikan mentah dari Jepang, Indonesia punya banyak sajian serupa. Contohnya naniura, ikan mas mentah berbumbu yang dulu merupakan makanan raja-raja Batak, dan gohu ikan tuna dari Maluku.
Menyatukan ketertarikannya pada makanan dan tradisi dengan hobi menjelajah dan membuat film dokumenter, pria yang aktif tweet lewat akun Twitter @rahung ini pun tak kekurangan kawan baru untuk berkolaborasi. Kesempatan itu pulalah yang memantik semangatnya untuk terus menyebarkan gagasan lewat perjalanan dan karya-karyanya, meski terkadang tak terlalu berkaitan dengan makanan. (f)
Baca juga:
Pendeta Merry Kolimon, Memimpin dengan Semangat Feminisme di Kupang
Laila Nurazizah, Penulis Naskah yang ‘Dipilih’ oleh Cerita
Diplomasi Membumi ala Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Wanita Pertama Indonesia
Topic
#Profil



