Profile
Rahung Nasution, Cerita Sang ‘Koki Gadungan’ dan Aktivis Kuliner Indonesia

5 May 2017


 
Cerita dari Rantau
Di usia belia, ia nekat meninggalkan kampung halaman demi menginjakkan kaki di Jakarta, yang dilihatnya lewat televisi dan didengarnya lewat cerita kerabatnya yang pergi merantau. Sempat dua tahun menggelandang dan bekerja serabutan di sejumlah kota di Sumatra dan Jawa, ia memutuskan kembali ke rumah karena tak mau hidupnya berakhir di jalanan.

Rahung pun kembali ke bangku sekolah. Lulus SMP, ia melanjutkan SMA di Yogyakarta. Di Kota Gudeg itu  ia sering kali memasak untuk teman-teman serumahnya. Tak henti mencari ilmu, ia sempat bekerja di sebuah LSM di Timor Leste selama 6 tahun dan juga pernah tinggal di Bali dan Australia.

Saat berbincang dengan femina, Rahung tengah mempersiapkan perjalanannya ke Eropa selama sebulan untuk memperdalam kemahirannya di bidang film dokumenter. Demi film dokumenter pula, ia bolak-balik ke Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, sejak tahun 2013, merekam kehidupan tradisional masyarakat suku Dayak Iban yang berubah akibat perubahan kondisi hutan mereka. Didukung dana hasil urunan alias crowdfunding, proyek terbarunya itu kini memasuki tahap pascaproduksi.

Di mata sutradara Pulau Buru: Tanah Air Beta ini, minatnya terhadap film dokumenter memiliki arti tersendiri. Lewat karya-karyanya, ia ingin memberikan ruang bersuara bagi orang-orang daerah yang kadang-kadang ‘tak terlihat’, karena Indonesia kerap dipandang hanya dari sudut pandang ibu kota.
“Ini membuat saya mencintai negeri ini lewat orang-orangnya, perjuangan-perjuangan mereka, tanpa memikirkan batas-batas negara,” tegas Rahung, yang percaya bahwa persoalan menjadi Indonesia itu tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang.

Merantau sejak muda menjadi cara Rahung untuk melihat Indonesia dari kacamata orang-orang di daerah yang dikunjunginya. Sekarang, yang ditujunya bukanlah tempat, tapi masyarakat dan pengalaman yang didapatnya dari cerita-cerita dan sudut pandang mereka.

Pria berkepala plontos ini sadar, sebagai orang asing yang hanya berkunjung, ia tidak akan bisa sepenuhnya menjadi bagian dari masyarakat yang ditemuinya. “Tapi, dengan cara saya mendekatkan diri dengan mereka, saya ingin menjadi bagian dari mereka. Di sanalah kekayaan budaya kita berada,” ujarnya.

Bagi Rahung, perjalanan sebuah hidangan jauh lebih panjang dari proses memasak di dapur hingga tersaji di meja. Simak di laman berikutnya.
 


Topic

#Profil

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?