
Foto: Dachri M.S, Dok. Pribadi
Lima tahun menjalankan Kelas Baca Baduy secara diam-diam, pada tahun 2012 wanita berambut pendek ini dilarang berkunjung ke Baduy oleh Kang Sarpin. Ia mendapatkan kabar bahwa Kelas Baca Baduy dibubarkan oleh adat. Beruntung, Kang Sarpin mampu bernegosiasi dengan tetua adat sehingga tidak ada sanksi adat yang diberikan. Hanya, untuk sementara waktu, peralatan membaca dan menulis, seperti buku-buku, papan tulis, dan lain-lainnya yang selama ini dibawa Nury ke Baduy, satu per satu harus rela dimusnahkan.
Tahun berikutnya, setelah mendapat lampu hijau dari Kang Sarpin, Nury kembali ke Baduy. Namun, suasananya telah berubah, anak-anak menghindar. Mereka takut ada yang melaporkan pada pemangku adat. Nury tak patah semangat, ia kembali mendekatkan diri pada anak-anak suku Baduy. Kini, anak-anak Kelas Baca Baduy sudah mencapai 60 orang, dari usia 9 hingga 15 tahun. Bahkan, tahun 2015, anak-anak yang sudah bisa membaca mengikuti kelas paket PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Leuwidamar, Lebak, Banten.
“Anak-anak ini mendobrak paradigma bahwa tidak sekolah bukan berarti tidak bisa membaca dan menulis. Dampaknya, anak-anak seperti Mul, Marno, Narman, Narsan, Jahadi, Asman, Kartini, dan semua yang mengikuti Kelas Baca Baduy makin mengerti bagaimana menghargai tanah, budaya, dan adatnya. Begitu juga dengan cara berdagang, anak-anak mengerti transaksi yang seharusnya dilakukan,” tutur Nury, yang kini membuka kelas baca di dua kampung suku Baduy, Balimbing dan Marengo.
Tidak hanya mengajarkan anak-anak suku Baduy Luar agar melek aksara, sedikit demi sedikit Nury juga mengajak mereka menjaga lingkungan sekitar. Salah satunya dengan program sampah. “Mereka diajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, sekaligus untuk berani menjadi ‘polisi’ sampah bagi pengunjung. Karena, yang saya sayangkan, tidak sedikit pengunjung yang datang ke Baduy meninggalkan jejak sampah mereka,” katanya.
Bagi Nury, Baduy adalah miniatur peradaban manusia yang sarat dengan nilai filosofi. Mulai dari pakaian dan kain tenun yang semuanya memiliki makna dan peruntukannya, hingga kehidupan mereka yang sederhana, gotong-royong, senang berbagi, dan hormat pada alam. Semua itu membuat wanita yang menikah dengan Aam Wijaya ini selalu ingin kembali ke Baduy dan memberikan kontribusinya bagi anak-anak suku Baduy.
Dari pengalamannya mendirikan Kelas Baca Baduy dan perjalanannya ke beberapa daerah pelosok di Indonesia, Nury melihat banyak keterbatasan untuk anak-anak bisa belajar. Perhatian besar pada dunia pendidikan ini pulalah yang akhirnya membuat wanita yang juga aktif sebagai fotografer ini berinisiatif untuk mendirikan Blackhouse Library. Komunitas yang menjadi wadah untuk mengumpulkan alat tulis, buku tulis, dan buku bacaan untuk disebarkan kepada anak-anak di pelosok negeri yang membutuhkan.
“Blackhouse Library membuka drop box untuk bantuan buku anak-anak. Buku-buku tersebut bisa diantar ke kami, untuk kami salurkan ke berbagai daerah. Biasanya saya akan menyeleksi sesuai kebutuhan mereka,” kata Nury. Selain buku bacaan, Blackhouse Library juga bergerak untuk membantu kebutuhan belajar anak-anak yang kurang beruntung, seperti bantuan dana pendidikan, seragam, dan buku tulis.
Kecintaan Nury pada dunia pendidikan sepertinya tak lepas dari didikan keluarga besarnya yang memiliki pondok pesantren di daerah Serang, Banten. Meski tidak terlibat langsung di pesantren keluarga, Nury justru menyebarkan virus membaca dan menulis kepada anak-anak di daerah-daerah terpencil.
“Tidak seperti anak-anak di Baduy yang memang dilarang oleh adat untuk bersekolah, anak-anak di suku-suku terpencil tidak dapat sekolah karena kendala fasilitas. Inilah yang berusaha kami bantu dengan memberikan buku tulis, alat tulis, dan buku bacaan,” tutup wanita penggemar kain tradisional ini. (f)
Baca Juga:


