
Foto: Dachri M.S, Dok. Pribadi
Perubahan-perubahan ini dirasakan wanita yang telah bolak-balik berkunjung ke kampung Baduy sejak tahun ‘90-an. Hati nuraninya pun tergelitik untuk mengajarkan anak-anak suku Baduy membaca dan menulis. “Setidaknya, dengan mereka bisa membaca dan menulis, mereka bisa menjaga budaya sendiri, sekaligus berinteraksi dengan orang-orang yang datang. Sementara, bila mereka memaksakan untuk mengenyam pendidikan formal, mereka harus meninggalkan adat dan keluar dari warga Baduy,” ungkap wanita bertubuh mungil yang akrab di sapa Ibu oleh anak-anak Baduy ini.
Kerap berkunjung ke Baduy, Nury paham benar dengan perilaku orang Baduy yang cenderung diam, bahkan jika ditanya sekalipun. Ketidakmampuan mereka berbahasa Indonesia --karena sehari-hari menggunakan bahasa Sunda-- menjadi penghalang komunikasi dengan orang luar. Namun, sikap yang tertutup ini tidak menjadi penghalang Nury untuk mulai menjalin kedekatan dengan masyarakat Baduy.
Gayung bersambut. Tahun 2007, wanita yang mengawali kariernya sebagai reporter di sebuah media nasional di Jakarta ini mendapat lampu hijau untuk mengajar membaca dan menulis kepada Mulyono. “Murid pertama saya ini adalah putra Kang Sarpin, yang rumah besarnya di Kampung Balimbing Kanekes, selalu menjadi tempat saya menginap tiap kali berkunjung ke Baduy,” cerita Nury. Saat itu ia memberikan pelajaran sederhana, mengenal huruf abjad, angka, dan bahasa Indonesia.
Pelan-pelan Mul, panggilan Mulyono, memberanikan diri untuk mengajak teman-temannya untuk ikut di Kelas Baca Baduy, nama yang mereka berikan untuk kelompok belajar ini. Murid Nury pun bertambah satu demi satu. Sayangnya, kelas baca ini hanya bisa dilakukan pada malam hari, usai anak-anak membantu orang tua di ladang atau aktivitas menenun bagi anak perempuan. Padahal, malam hari di Baduy gelap gulita karena tidak ada listrik. Hanya cahaya remang-remang dari lilin dan lampu templok yang menemani mereka belajar.
Selain minim penerangan, waktu yang terbatas juga menjadi kendala wanita pencinta alam ini dalam mengajar. Sebagai reporter di kantor berita Reuters (Thomson Reuters), ia tidak mungkin tinggal di kampung Baduy terus-menerus. Ia hanya bisa datang berkunjung tiap 2-3 bulan sekali, dan hanya 3-4 hari saja tiap kunjungannya. “Dengan waktu pertemuan yang singkat, saya menyiasati cara belajar dengan memberikan PR (pekerjaan rumah) untuk anak-anak. Jadi, ketika saya tidak ada, mereka tetap bisa belajar. Saya juga memberikan mereka buku-buku, alat tulis, dan poster abjad serta angka,” ungkap Nury.
Pelan-pelan Mul dan teman-temannya mulai bisa mengingat huruf, hingga menuliskan nama mereka masing-masing. Semangat anak-anak Baduy yang tidak putus, serta sambutan riang mereka tiap kali Nury datang, menjadi energi bagi Nury untuk tetap melanjutkan usahanya, meskipun hal tersebut hanya bisa dilakukan diam-diam.
“Ketentuan suku Baduy adalah melarang mereka belajar di sekolah formal. Meski begitu, bukan berarti saya bisa bebas membuka kelas membaca, semua tetap dilakukan secara tertutup,” ungkap Nury, yang kini aktif sebagai pengajar PR (public relations) di Universitas Indonesia (UI).
(Klik halaman di bawah untuk melanjutkan membaca)
Faunda Liswijayanti
Topic
#wanitahebat


