
Foto: Shutterstock
PERCAYA DIRI YANG SPONTAN
Dari eksperimen ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode active learning atau kelas hands on lebih efektif dalam menyampaikan informasi mengenai pentingnya nutrisi pada anak usia sekolah. Efektivitas ini berdampak pada perubahan perilaku anak dalam mengambil keputusan memilih makanan untuk dirinya.
Metode case study, role playing, dan story telling yang saya terapkan ternyata juga melatih para murid untuk berkomunikasi dan berinteraksi lebih baik dalam kelompok. Secara tidak langsung, proses ini mendukung perkembangan kepercayaan diri para murid.
Tak hanya di sekolah, perubahan perilaku juga dirasakan saat mereka berada di rumah. Saat diwawancara, beberapa anak mengatakan bahwa mereka kini tidak lagi kebingungan saat di rumah dan tidak ada yang bisa membantu mereka membuat makanan.
Kini, mereka punya pilihan untuk membuat camilan sendiri secara mandiri. Bahkan, beberapa anak mulai menjual hasil masakannya di kelas, lho! Kemandirian ini terlihat spontan, tanpa terpaksa. Walau proses eksperimen hanya berjalan sebulan dengan empat kali pertemuan, saya optimistis hal baik ini dapat ditularkan kepada khalayak lebih luas. Memang tidak mudah membuat perubahan dalam waktu singkat. Semua membutuhkan proses. Saya hanya berharap, semoga kelas memasak dan buku yang tengah saya garap bisa membantu meningkatkan gizi anak Indonesia, one kitchen at a time. (f)


