Usianya bahkan belum kepala dua, tapi Halima sudah membuat perubahan besar bagi dirinya dan lingkungannya. Semua bermula saat ia membulatkan tekad untuk mengubah pandangan orang Amerika, tempatnya bermukim saat ini, tentang wanita muslim berhijab lewat kontes kecantikan. Walaupun langkahnya harus terhenti cukup awal, hanya sampai 15 semifinalis dari 45 peserta Miss Minnesota USA 2016, Halima sudah berhasil menorehkan prestasi yang diperbincangkan banyak orang. Wanita keturunan Somalia itu menjadi wanita pertama yang tampil mengenakan Burkini (busana renang tertutup) di Miss Minesota USA.
Banyaknya pesan kebencian terhadap umat Islam di Minnesota, terutama setelah Donald Trump resmi menjadi presiden Amerika Serikat, justru menggerakkan nurani Halima untuk memperjuangkan komunitasnya yang minoritas di negeri adidaya itu.“Kontes ini digelar pada waktu yang tepat ketika komunitas kami membutuhkan representasi positif, terlepas dari retorika pemilu. Saya pikir ini akan membuka mata
banyak orang,” katanya.
Keluarga Halima datang ke Amerika sebagai pengungsi dari Somalia, pada 2005. Ketika itu usia Halima baru genap 7 tahun. Bersama ibu dan adik laki-lakinya, Halima tinggal di St. Cloud, Minnesota, salah satu lingkungan komunitas masyarakat Somali, dimana mayoritas wanitanya mengenakan hijab. Alasan yang mendorong Halima untuk juga berhijab. “Karena saya melihat ibu saya mengenakan hijab, dan saya ingin terlihat seperti dia,” ungkap Halima, kepada Vogue. .
Tumbuh sebagai remaja muslim berhijab,Halima pernah menjadi korban bullying. Terutama ketika ia di sekolah menengah, temannya mengejek dengan sebutan wanita botak, karena rambutnya tak terlihat. “Selama ini saya berpikir, berbeda itu hal yang negatif. Baru ketika beranjak dewasa saya mulai menyadari kita semua terlahir tidak sama. Dunia akan terlihat membosankan jika semua terlihat sama,” katanya.
Halima tak memendam dendam. Ia sadar bahwa sebagai minoritas, tidak banyak orang yang mengenal agama dan budaya Islam. Ia mengaku bahagia tinggal di Amerika, di mana semua orang bebas untuk mengekspresikan diri. Saat ia berada di belakang panggung Miss Minessota, Halima tidak merasa berbeda dengan peserta lainnya, meski saat itu ia mengenakan hijab.
“Saya duduk bersama mereka. Meski saya tidak tampak seperti umumnya peserta kontes kecantikan. Saya bangga bisa mengikuti kontes ini karena saya bisa mengirimkan pesan bahwa Anda tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi cantik.”
Saat tampil di atas panggung Miss Minnesota USA, wanita penggemar warna hitam ini mengenakan abaya bermotif lengkap dengan kerudung warna hitam. Penampilan tersebut justru menuai banyak komentar dan pujian. Halima membuktikan bahwa kecantikan bisa datang dalam banyak rupa.
Di mata Halima, kontes kecantikan ini tak hanya berbicara tentang kecantikan. “Tapi bagaimana kita menjadi percaya diri. Saya tidak pernah berpikir saya bisa mengikuti kontes kecantikan seperti ini, tapi ternyata sekarang saya bisa. Ini sebuah platform yang besar untuk menunjukkan ke dunia siapa saya.”
Selanjutnya, karier Halima sebagai model.
Faunda Liswijayanti
Topic
#profil


