Profile
8 Perempuan Supreme: Ghea Panggabean

14 Nov 2018

 
 Foto: Dachri Megantara  

I am Perfectionist
Ghea bercerita, untuk menyambut 40 tahun berkarya di tahun 2019, ia sedang menyiapkan buku retrospeksi perjalanan kariernya sebagai desainer. “Saya sedang mengumpulkan foto-foto sekarang,” ujarnya, sambil menunjukkan dummy buku yang ia maksudkan untuk memberikan inspirasi generasi muda agar mencintai budaya Indonesia.
 
Selamat, karena mampu terus eksis hingga 40 tahun.
Saya bersyukur kepada Tuhan, sampai sekarang saya bisa terus berkarya. Banyak orang yang hidupnya tergantung pada kreativitas saya. Doa saya adalah, saya tidak boleh sakit, harus survive, agar saya bisa terus menggaji mereka, dan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Papa saya terkadang merasa takjub, saya survive di dunia fashion hingga membuat saya bisa bertemu Lady Diana, Ratu Elizabeth II, dan kalangan bangsawan dari berbagai negara. Waktu Papa mengatakan demikian, saya sampai menangis terharu….
 
Bagaimana ceritanya bertemu Ratu Elizabeth II?
Setiap ada kunjungan kenegaraan ke kerajaan Inggris, Istana Buckingham akan mengundang satu orang artist dari negara tersebut. Pada kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tahun 2012, saya dapat telepon langsung dari Buckingham untuk hadir di kunjungan tersebut. Sempat tidak percaya, tapi ternyata itu benar. Saat mendapat kesempatan bicara dengan Ratu, saya memuji koleksi keramiknya. Saya ingat, Ratu tampak berbinar dan mengatakan bahwa table set malam itu adalah peninggalan dari neneknya, Ratu Victoria. Sayangnya, protokoler tidak membolehkan saya berfoto.
 
Apa sebetulnya tantangan terbesar menggeluti fashion?
Seorang desainer harus bisa create something yang bisa diterima konsumen. Ketika karya kita diterima pasar, berarti apa yang kita lakukan sudah benar, entah itu desainnya atau pada pricing-nya. untuk membuat versi printing-nya. Mungkin memang ada yang pro dan kontra, tapi saya ingin mencetak sesuatu yang tidak lagi dibuat, yang kesannya antik. Saya tidak mau mencetak sesuatu yang baru dan masih bisa dibikin lagi.
 
Kuncinya adalah kita harus punya sense, apa yang sedang terjadi, apa yang orang butuhkan, berapa uang yang mereka habiskan, dan siapa target pasar kita. Waktu yang akan mengajari kita untuk bisa merasakannya. Memang, kita harus bisa menciptakan sesuatu yang baru. Tapi, saat mendesain, bertanyalah kepada diri sendiri: apakah saya akan mengenakan baju seperti ini? Karena, ada yang bajunya bagus di fashion show tapi tidak bisa digunakan sehari-hari. Prinsipnya, don’t over, don’t under. Just be balance and proportional.
 
Pelajaran berharga sebagai pekerja fashion?
Saya jadi mengenal banyak karakter orang. Dari sisi konsumen, ada yang ingin eksklusif. Ada juga yang lebih longgar untuk urusan eksklusivitas, tidak apa sama dengan orang lain, asal warnanya beda. Tapi, tantangan paling besar di Indonesia adalah sulitnya menjaga dan mempertahankan kualitas karena mentalitas orangnya. Kalau ke perajin untuk membuat motif atau ke penjahit, sudah dijelaskan berkali-kali, ada saja kesalahan karena human error. Belum lagi soal telat deadline. Hal-hal seperti ini yang membuat stres.
 
Apa yang Anda lakukan untuk mengatasinya?
Karena bisnis fashion juga soal servis, maka saya tidak lelah mengingatkan dan mengecek semua pekerjaan. Hal ini terus saya tanamkan kepada dua anak kembar saya, Manda dan Janna Soekasah, bahwa mereka harus bisa cerewet kayak mamanya, ha ha…ha. Sampai sekarang, saya masih turun tangan sendiri, masih ngecek satu per satu, human error can happen anywhere. Ya, saya perfectionist.
 
Seberapa jauh delegasi pekerjaan kepada anak-anak?
Kadang-kadang brainstorming untuk desain, terutama Janna, karena dia yang memegang Ghea Kids. Sedangkan Manda, lebih mengurusi bisnis, membenahi alur kerja, juga melakukan pekerjaan public relations dan partnership. Suatu hari kelak ketika saya sudah enggak kuat lagi, anak-anak sudah mengerti problem-problem perusahaan dan bagaimana cara mengatasinya. Sebagian besar persoalan adalah di sisi sumber daya manusianya.
 
Nasihat bisnis untuk mereka?
Tidak ada sukses tanpa kerja keras, passion, dan sedikit keberuntungan. Selain itu, kita tidak bisa tergantung pada orang lain dan hanya menyuruh orang bekerja untuk kita. You have to be involve and control. Karena kalau tidak, nanti kita akan kecolongan.
 
Tidak capek?
Ya, kadang-kadang saya kerja sampai malam. Tapi, karena saya enjoy, ya, enggak terasa capek, meski terkadang capek juga. Tapi, ya, sudah, reward-nya kan juga menyenangkan. Kalau lelah, saya pulang. Kan bisnis punya sendiri, enggak apaapa, dong, pulang kapan saja, ha… ha… ha….
 
Anda terlihat sangat chic & awet muda. Bagaimana merawat diri?
Istirahat harus. Tapi, saya termasuk malas olahraga, padahal saya stress eater… gawat, deh. Pernah yoga bersama teman-teman, tapi berhenti karena teman-teman pergi ke luar kota. Untuk urusan rambut, saya sangat peduli, karena menurut saya rambut adalah mahkota kita. Untuk itu. Sebulan sekali saya treatment dan trimming. Untuk cuci rambut, saya lakukan sendiri di rumah. (f)

Baca Juga: 
8 Perempuan Supreme: Alberthiene Endah
8 Perempuan Supreme: Susi Pudjiastuti
8 Perempuan Supreme: Yura Yunita


Topic

#kitasupreme, #desainerindonesia, #ghea

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?