Profile
8 Perempuan Supreme: Ghea Panggabean

14 Nov 2018

 
 Foto: Dachri Megantara 

I Love Jumputan
Ghea identik dengan jumputan, kain tradisional yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia yang motifnya tercipta karena tie dye. Wanita yang menyukai gaya hippy culture dengan memakai kalung-kalung dan selendang India ini menemukan betapa motif jumputan sangat sesuai dengan selera fashion-nya.
 
Kapan Anda jatuh cinta pada jumputan?
Pertama kali bertemu jumputan tak lama setelah saya pulang ke Indonesia, awal-awal tahun ‘80-an. Saat itu saya ke Jawa Tengah dan melihat kain cinde Jawa. Saya langsung jatuh cinta karena sangat bohemian, sangat India.
 
Bagaimana cara Anda mengeksplorasi jumputan?
Harus diakui, sebetulnya yang membuat gebrakan adalah saat pertama kali saya membuat baju dari jumputan ini. Awalnya saya membaca tulisan tentang kain jumputan Palembang, yang memantik ide untuk membuat busana dari jumputan Palembang. Saya kemudian mengajak perajin jumputan bernama Ronimah untuk bekerja sama. Setelah itu, saya mengeksplorasi aneka jumputan, dari cinde Jawa, jumputan Palembang, jumputan Sumba, hingga jumputan Toraja.
 
Sebagian besar kain Indonesia adalah kain seremonial, bagaimana solusinya?
Kain-kain adat di Indonesia itu umumnya memang berat, dan sayang untuk dipotongpotong dan dijadikan busana. Untuk kain yang demikian, saya koleksi dan dijadikan inspirasi. Mengapa saya begitu? Supaya bisa membuat busana ready to wear.
 
Mengapa Anda tertarik membuat ready to wear?
Tahun 1982, pemilik Pasaraya, Abdul Latief, menawari saya membuat gerai di Pasaraya sehingga desainer tidak seperti penjahit, orang datang ke rumahnya untuk membuat baju. Dari sini, saya belajar bagaimana menjalankan bisnis retail. Mulai dari menghitung harga, sizing, dan lain-lain. Dalam satu koleksi misalnya, minimal harus membuat 12 sampai 24 baju per style.
 
Untuk menjalani bisnis ini, kami harus membuat baju-baju secara cepat (tapi bukan massal), sehingga salah satu solusinya adalah dengan kain printing. Ketika saya merilisnya pada tahun 1986, jumputan aneka warna ini jadi sangat hits, hingga hampir semua istri menteri membeli baju saya, bahkan mau membeli bahannya.
 
Karena jumputan, pada tahun 1987 saya mendapatkan Apparel Award sebagai Indonesia’s Best Ready to Wear Designer. Di tahun yang sama saya juga mendapat Best of ASEAN Designers Award di Singapura dan masuk dalam 10 Desainer Terbaik di ASEAN. Karena itu, saya berterima kasih sekali pada jumputan.

Baca Selanjutnya: I am Perfectionist 
 


Topic

#kitasupreme, #desainerindonesia, #ghea

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?