Perayaan Kumpul Tetangga Tuku di Urban Forest Cipete pada 25 Juni lalu. Foto: Dok. Tuku
Indonesia adalah salah satu produsen kopi terbesar di dunia. Gaya hidup ngopi pun sudah berjalan sejak akhir abad ke-17.
Namun gaya hidup kopi lokal yang jadi tren modern urban dengan menjamurnya kedai kopi kekinian bukan hanya karena kehadiran media sosial dan apresiasi tinggi terhadap biji kopi Nusantara. Tren ini juga dipicu oleh kemasan yang relevan dari kopi susu gula aren.
Meski kebiasan mencampur kopi, susu, dan pemanis alami seperti gula aren sudah jadi tradisi di beberapa daerah di Indonesia, sebagai minuman komersial bisa dibilang racikan ini dipopulerkan oleh Toko Kopi Tuku atau TUKU, yang didirikan Andanu Prasetyo.
Menu Es Kopi Susu Tetangga di gerai pertama Tuku di Cipete Raya pada 2015 jadi awal berkembangnya Tuku, yang kini sudah memiliki 80 toko di 11 kota, termasuk di Amsterdam.
Tahun ini, Tuku merayakan ulang tahun ke‑11 melalui rangkaian acara Kumpul Tetangga Tuku, yang mempertemukan komunitas, pelanggan setia, mitra, jenama dalam suasana yang hangat dan dekat. Sewelas Asih jadi temanya, sebuah ajakan untuk peduli, hadir, dan menjaga hubungan bertetangga yang selama ini menjadi fondasi perjalanan Tuku.
“Tema Sewelas Asih ini juga menjadi way of life Tuku karena bertetangga yang membuat Tuku tetap hidup sampai sekarang,” ungkap Vella Siahaya, Chief Experience Officer Tuku, menganalogikan hubungan Tuku dengan ekosistemnya, di acara Kumpul Tetangga Tuku di Urban Forest Cipete, Jakarta (25 Juni 2026).
Andanu Prasetyo dan Vella Siahaya bercerita tentang perjalanan Tuku selama 11 tahun. Foto: Dok. Tuku
Tahun lalu menjadi salah satu tahun paling menantang bagi Tuku, ketika bencana di Aceh Tengah merusak kebun yang selama bertahun‑tahun menjadi sumber rasa dan kehidupan bagi banyak keluarga. Perjalanan ini mengingatkan bahwa kopi tidak pernah berdiri sendiri.
Di tengah tekanan ekonomi, perubahan karakter kopi akibat cuaca, dan dinamika supply chain yang bergerak cepat, Tuku mencatat pertumbuhan sehat selama tahun 2025.
“Industri F&B harus beradaptasi, dan Tuku tidak terkecuali,” kata Aryo Widiwardhono, Komisaris Utama Tuku.
Pendapatan tumbuh 44% secara year‑on‑year, dan laba bersih naik 8%. Namun bagi Tuku, angka‑angka ini bukan sekadar pencapaian finansial, melainkan cerminan dari ketahanan, kerja kolektif, dan menjaga hubungan baik bersama tetangga.
Diversifikasi produk pun dilakukan Tuku, termasuk melahirkan Tukuliling, baik dalam bentuk pop-up maupun product serving hingga vending machine. Kesuksesan Masaku (Masakan Tuku), menu makanan berat di Tuku Malang, kini berlanjut di Tuku BSD dan Tuku Margorejo Surabaya.
Upaya keberlanjutan juga terus dilakukan Tuku melalui reforestasi bersama Yayasan Tanah Air Semesta dan Bumiterra, dengan lebih dari 13.000 pohon MPTS (Multi-Purpose Tree Species) ditanam di Garut dan Kapuas Hulu.
Selebrasi Kumpul Tetangga Tuku pastinya dimeriahkan icip-icip kopi dari Tuku, dan melihat berbagai kolaborasi Tuku. Foto: Dok. Femina
Di sisi pengelolaan sampah, TUKU bekerja dengan Waste4Change, DUITIN, dan Envmission untuk menangani lebih dari 1.124 ton sampah operasional. Melalui kolaborasi dengan UMKM Gunung Sindur, limbah kemasan kopi dan krimer diolah menjadi tas guna pakai oleh 40 perempuan perajin, membuka sumber pendapatan baru bagi komunitas lokal.
“Perayaan ini bukan tentang kami lagi, tetapi tentang bagaimana kita semua, sebagai keluarga besar Tuku, membawa cerita ini lebih jauh dan menghadirkan hal‑hal baik bagi lebih banyak orang.” kata Andanu Prasetyo, CEO & Founder Tuku, tentang Tuku yang setiap hari menjual lebih dari 85 ribu gelas kopi dan terus menggerakkan ekonomi lokal dari hulu hingga hilir. (f)
Baca juga:
Kolaborasi Bertetangga Tuku dan Bluesville Luncurkan Lini B
Kolaborasi untuk Secangkir Kopi yang Berkelanjutan
9 Tahun Kopi Tuku, Selebrasi Pelopor Budaya Minum Es Kopi Susu Lokal
Zornia Harisantoso




