Trending Topic
Budaya Guyub Yang Terkikis

15 Apr 2016


Foto: Fotosearch

Di mata sosiolog perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Linda Darmajanti, MT, dinamika kehidupan bertetangga menjadi tantangan besar bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Pembangunan pesat yang tidak terarah menjadi salah satu yang memperparah pola hubungan bertetangga.

Di tengah kota, para pengembang yang membangun apartemen  sering kali bisa ‘lolos’ tanpa membangun fasilitas umum yang memadai. Di sisi lain, pembangunan permukiman jauh lebih pesat di kawasan pinggiran kota karena para pengembang berlomba-lomba melebarkan sayap ke tepi kota.

“Kondisinya kini, selain jam kerja yang makin panjang, diperparah dengan minimnya infrastruktur transportasi, sehingga jarak tempuh dari kantor ke rumah di pinggiran kota menjadi lebih lama,” ujar Linda. Fakta ini telah mengubah pola relasi dengan keluarga. Jika dalam keluarga saja waktu untuk berkomunikasi sangat minim, bisa dibayangkan hubungan dengan tetangga, tidak diprioritaskan.

Pengamat perkotaan, Marco Kusumawijaya, menegaskan, bisa dirasakan, hidup di kota suasananya amat kompetitif. Masing-masing berusaha bersaing untuk kepentingannya sendiri. Suasana solidaritas nyaris tidak ada. Biasanya, solidaritas ini hanya muncul jika sedang terjadi bencana, seperti banjir.
Berbeda dengan di kampung. Kenapa di kampung warganya lebih guyub? Menurut Marco, umumnya orang kampung tinggal di tempat yang sama dari generasi ke generasi, sehingga mereka saling mengenal. Itulah kenapa, tingkat solidaritasnya cukup tinggi. “Di kampung asal saya, di Bangka, misalnya, selama 6 generasi, baru generasi saya yang keluar dari kampung halaman dan merantau,” tutur founder dan Direktur Rujak (Ruang Jakarta) Center for Urban Studies ini. 

Hal ini berbeda dengan masyarakat kota, yang memang secara sosiologis tidak saling mengenal. Warga kota umumnya pendatang. Wajar jika mereka kemudian bersikap individualistis. “Situasi ketika orang belum merasa memiliki. Karena solidaritas tidak akan muncul atas dasar kesementaraan,” jelas Marco.
Linda menambahkan, kehidupan bertetangga kaum urban sekarang sebetulnya bukan sama sekali tidak ada interaksi. Kalaupun ada, relasinya sangat terbatas, hanya jika ada kegiatan bersama dan momen tertentu, seperti arisan bulanan, perayaan 17 Agustus, ataupun perayaan hari besar keagamaan. “Selain itu, tidak ada interaksi, meski saling kenal,” kata Linda.

Peran RT dan RW di masa sekarang juga menjadi lebih banyak ‘dimanfaatkan’ untuk faktor keamanan yang terkait dengan kriminalitas. “Akhirnya, peran pengurus cuma lebih mengurus administrasi kependudukan dan keamanan.  Terutama karena warga lebih banyak beraktivitas di luar rumah seharian, akhirnya yang mereka butuhkan adalah keamanan properti dan aset mereka, bukan keamanan dan kenyamanan sosial. Berbeda dengan era satu dekade lalu, saat warga masih merasa membutuhkan kenyamanan sosial,” tegas Linda.

Berbicara tentang keamanan dan kenyamanan sosial, Linda memberi contoh, misalnya ketika kita sudah sangat percaya pada tetangga, kita merasa leluasa menitipkan kunci rumah agar tetangga ikut mengawasi rumah kita. Itu adalah contoh keamanan sosial. Sedangkan kenyamanan sosial adalah kenyamanan yang terjalin karena hubungan pertemanan akrab dengan tetangga. “Kalau sekarang, jangankan akrab, tetangga pindah rumah pun mungkin kita tidak tahu. Ya, karena kapan waktu berinteraksinya?” kata Linda. (f)
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?