Ultraviolet Reflections, Scott Base Pressure Ridges Antarctica - karya Diane Tuft yang secara kasat mata hanya terlihat putih salju
Sebuah karya seni tanpa harus digembar-gemborkan, dan kadang tak perlu teknologi canggih, memberikan pengalaman immersive bagi penikmatnya.
Kita seakan tersedot ke dalam karya itu, meraakan emosinya, bahkan merenunginya hingga lama sesudah berjumpa karya seni tersebut.
Itulah yang Femina rasakan setelah melihat pameran kolaboratif UNBOUND: Resonating Light di NODE by ISA Art and Design, Jakarta.
Dua perupa perempuan, Allyson Jeong asal Korea Selatan, dan Diane Tuft asal AS, menghadirkan karya-karya yang tak hanya menarik perhatian dari visual, tapi juga narasi dan pengalaman ruang audiensnya.
Untuk pertama kalinya, foto format besar karya Diane Tuft—yang diambil di berbagai belahan dunia dan mendokumentasikan perubahan lanskap akibat perubahan iklim—dipamerkan berdampingan dengan patung logam berskala besar karya Allyson Jeong yang dibuat secara manual di Seoul
Karya mereka menciptakan dialog berkelanjutan antara ketegangan mikroskopis material dan dampak perubahan lingkungan dalam skala planet.
Pameran ini mengeksplorasi konsep Material Memory—bagaimana lingkungan dan objek menyimpan jejak dari kekuatan masa lalu.
Karya Diane Tuft mengungkap lanskap yang ditandai oleh penyusutan air, di mana garam dan mineral merekam perjalanan waktu dalam skala geologis.
Sementara itu, patung Allyson Jeong merekam kerja dan energi manusia dalam logam, menghadirkan bukti multisensorik dari proses penggalian, pemurnian, dan sentuhan.
Mengajak peduli bumi lewat keindahan foto
Diane Tuft adalah salah satu fotografer lanskap ternama di dunia berbasis di New York. Di usia 77 tahun, ia tampil chic, detail dalam menjelaskan tiap karyanya, dan membuat kita ikut merasakan emosi karya-karyanya.Foto karya Diane terlihat memiliki tekstur 3D, memaksa kita untuk mendekat dan menelusuri tiap titik dan garis serta warna alam yang terpampang.
Diane Tuft di NODE by ISA Art and Design (kanan); Halo’s Demise, Entropy (kiri atas); Paradox, Entropy. Semuanya adalah foto Great Salt Lake dari POV berbeda. Foto Diane Tuft: Dok. Femina
Mengawali kariernya sebagai fotografer hitam-putih dengan infra merah, Diane ‘meminjam’ lensa kamera sebagai mata yang menangkap objek-objek tersembunyi. Dan dari tangkapan kamera, ia melihat bukti bahwa ozon di bumi makin menipis.
Sejak tahun 2002, ia menulis tentang perubahan iklim, dan motif utama karya Diane bukan hanya alam, namun konsep alam sebagai entitas yang dinamis, hidup, rapuh, dan terus berubah.
Diane melihat bagaimana dari ketinggian—baik saat ia memotret naik helikopter maupun dengan bantuan drone—bahwa bumi mulai ‘mengeluarkan’ warna-warna cantik yang sayangnya adalah bukti bahwa lingkungan tengah menghadapi dampak serius perubahan iklim.
Contohnya saat ia memotret danau garam raksasa Great Salt Lake di Utah, AS (salah satu danau terbesar di dunia dan danau air asin terbesar di belahan barat bumi).
“Sekarang semua warna mineral kelihatan saat dipotret karena air di danau berkurang. Mikroorganisme yang berada jauh di dalam tanah mulai muncul. Indah secara seni, padahal sebenarnya mineral itu beracun di permukaan tanah,” ungkap Diane.
Chopin’s Prelude, Entropy; foto yang indah, namun sebenarnya merekam kondisi Great Salt Lake yang sudah tidak baik-baik saja
Narasi kritisnya, dari sungai yang berkelok di Florida, atau gletser berkilau yang dipotret berlomba dengan pantulan sinar matahari, adalah ajakan untuk lebih peduli pada dunia yang terancam oleh krisis ilmiah dan lingkungan yang ekstrem.
“Saya ingin menunjukkan tempat-tempat di dunia yang menderita karena perubahan iklim,” ujar Diane. “Keindahan bumi ini sebelum [semuanya] menghilang.”
Seni yang dinamis
Kegelisahan Allyson Jeong akan segala hal yang terjadi tertuang dalam karyanya. Ia mengeksplorasi hubungan organik antara tubuh manusia dan ruang yang ditempatinya.Bagi Allyson, materialitas bukan sekadar medium, melainkan bahasa visual yang menggambarkan aliran energi tak terlihat serta menjadi alat yang merekam pertemuan antara dunia batin dan realitas eksternal.
Pengalaman lebih dari 20 tahun berkarya dengan logam membuat Allyson menemukan fakta bahwa bahkan unit materi terkecil dapat menyimpan semesta yang luas.
Allyson Jeong menerangkan karyanya (kanan); Unbound Adornment II dari kuningan dengan rantai bisa dilipat (kiri atas); The Square of Sublime (Semi - Monumental) dari baja tahan karat. Foto Allyson Jeong: Dok. Femina
Dalam pameran ini, Allyson yang merupakan pematung dan desainer perhiasan itu membebaskan frekuensi yang sebelumnya terkurung dalam skala tubuh menjadi ekspresi yang meluas ke ruang arsitektural galeri.
“Saya ingin audiens bisa menikmati karya ini sambil berkeliling, menyentuh, merasakan melewatinya, mengisi ruang,” ujar Allyson, yang belajar seni di New York.
Gelombang khas yang ia bentuk pada kuningan dan baja tahan karat menjadi frekuensi visual yang memberi kehidupan pada material statis.
“Saya banyak bereksperimen dengan material juga alat bantu; dari palu, alat pengasah, hingga pengukir,” jelas Allyson.
Allyson juga ingin membaurkan perbedaan antara kriya dan seni, sehingga ia membuat versi perhiasan dari karya-karyanya.
“Perhiasan ini akan bergerak bersama aktivitas kita, sehingga seperti mobile art,” kata Allyson, yang mendesain anting, kalung, hingga gelang dari perak dan emas.
Dalam berkarya, perupa ini mendengarkan kegelisahan sekelilingnya, termasuk keinginan dirinya. “Kadang kalau saya mendapat terlalu banyak inspirasi, saya malah berhenti dulu,” katanya.
Unbound Adornment I dari baja tahan karat dengan rantai bisa dilipat (kiri); kalung Linear Space Sphere dari rose gold 14 karat (kiri atas); anting Trace Square dari sterling silver disepuh emas putih 18 karat.
Unbound: Resonating Light dipamerkan di NODE by ISA Art and Design, Jakarta hingga 24 Mei 2026. Galeri ini adalah bagian dari ISA Art Gallery, ruang seni kontemporer yang berbasis di Jakarta Pusat dan berdedikasi untuk mendukung perupa Indonesia serta diaspora Asia yang lebih luas.
Melalui pameran dikurasi matang, kolaborasi internasional, serta partisipasi dalam art fair, ISA Art Gallery menghadirkan perspektif diaspora Indonesia dan Asia ke dalam percakapan global, sekaligus membina generasi perupa selanjutnya.
Keterangan tambahan foto thumbnail:
Giwang Trace Sphere dari rose gold 14 karat - Allyson Jeong (kiri bawah); Jones Island, Chesapeake Bay Rising Tide - Diane Tuft (kanan). (f)
Baca juga:
Max Mara Art Prize for Women Tampilkan Kerja Sama Max Mara dan Collezione Maramotti dengan Museum MACAN
S.E.A. Focus 2026 Sukses Menutup Edisi Kedelapan, Pertama Kalinya Diselenggarakan di ART SG
ART SG 2026 Berakhir, Kukuhkan Seni Asia Tenggara di Panggung Global
Zornia Harisantoso




