Lifestyle
Di Edisi ke-10, Max Mara Art Prize for Women Tampilkan Kerja Sama Max Mara dan Collezione Maramotti dengan Museum MACAN

4 Feb 2026

Collezione Maramotti yang menempati bekas kantor pusat bersejarah Max Mara di Kota Reggio Emilia. Foto: Dok. Collezione Maramotti


Didirikan pada tahun 2005 oleh Max Mara Fashion Group untuk mendukung perupa perempuan pada tahap awal hingga menengah karier mereka, Max Mara Art Prize for Women adalah kolaborasi Max Mara, rumah mode Italia ebagai simbol utama kemewahan serta gaya Italia, dengan Collezione Maramotti, sebuah koleksi seni kontemporer privat yang berlokasi di bekas kantor pusat bersejarah Max Mara di Reggio Emilia.

Kini, Max Mara Art Prize for Women membuka cakrawala baru dengan menjangkau beragam konteks budaya di berbagai belahan dunia, memperkaya dialog dan pertukaran dalam lanskap seni kontemporer global. 

Mulai edisi ke-10, penghargaan seni bergengsi ini memperluas cakupan internasionalnya melalui format nomadik—setiap edisi akan diselenggarakan di negara yang berbeda, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai dasarnya serta komitmen jangka panjang terhadap pengembangan praktik artistik. 

Max Mara Art Prize for Women untuk periode 2025-2027 bermitra dengan Museum MACAN (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara), Jakarta, menandai kehadiran perdana penghargaan ini di kawasan Asia Tenggara. 

Tampak instalasi Pointing to the Synchronous Windows di Museum MACAN; Museum MACAN jadi perluasan Max Mara Art Prize for Women yang pertama di Asia. Foto: Dok. Museum MACAN

Selain itu, edisi ke-10 ini jadi penutup dari kemitraan panjang dan bermakna antara Max Mara dan Collezione Maramotti dengan Whitechapel Gallery di London. Sebagai institusi yang berperan penting dalam penghargaan ini, Whitechapel Gallery dikenal luas atas dedikasinya dalam mendukung perupa perempuan, baik pendatang baru maupun yang telah meniti karier. 

Dalam dua dekade terakhir, Whitechapel Gallery bersama Max Mara dan Collezione Maramotti secara konsisten mendukung perupa perempuan pendatang baru yang berbasis di Inggris pada fase penting dalam perjalanan karier mereka, sekaligus memperluas visibilitas dan peluang pengembangan profesional bagi para pemenang. 
 
Dengan tetap mempertahankan karakteristik utama yang membentuk identitas penghargaan ini sejak awal, format nomadik ini membuka kemungkinan baru melalui pertemuan dan pertukaran berbagai lanskap budaya. 

Sebagai komitmen Max Mara Fashion Group pada pemberdayaan perempuan, Max Mara Art Prize for Women memungkinkan perupa mewujudkan potensi mereka secara penuh. Penghargaan ini juga menghadirkan kesempatan unik bagi pemgembangan secara menyeluruh—mendukung perupa tidak hanya dari sisi teknis dan kreatif, namun juga secara personal dan kultural.

“Dengan membawa inisiatif ini ke panggung global, penghargaan ini akan berperan sebagai batu loncatan yang semakin efektif dan bermakna dalam mendorong perkembangan karier seniman dari beragam latar budaya di seluruh dunia,” kata Luigi Maramotti, Presiden Max Mara Fashion Group.

Sara Piccinini, Direktur Collezione Maramotti, berkata, “Langkah ini sepenuhnya sejalan dengan misi Collezione Maramotti, yang berupaya menjadi cermin bagi gagasan dan praktik artistik masa kini yang orisinal, inovatif, dan ambisius.” 

Kurator pertama yang dipercaya untuk membentuk babak baru dari penghargaan ini adalah Cecilia Alemani, Direktur dan Kurator Utama High Line Art di New York. 

Bekerja bersama Max Mara dan Collezione Maramotti, Cecilia Alemani akan memilih negara, serta mitra institusi, sekaligus merancang sebuah kerangka kolaborasi internasional yang berkelanjutan serta dukungan struktural bagi perupa perempuan di berbagai belahan dunia.  

Dewan Juri untuk edisi ke-10, yang diketuai oleh Cecilia Alemani, terdiri atas Venus Lau (Direktur Museum MACAN), Amanda Ariawan (kurator), Megan Arlin (gallerist ara contemporary), Evelyn Halim (kolektor seni), serta Melati Suryodarmo (perupa). 
 
Keputusan untuk membawa edisi ke-10 ini ke panggung dunia, khususnya ke Indonesia dan Museum MACAN, bukan sekadar perluasan geografis, melainkan sebuah pernyataan yang tegas bahwa inovasi artistik tidak lagi dimonopoli oleh Barat. 

Sara Piccinini, Direktur Collezione Maramotti; Celine Alemani, Kurator dan Ketua Dewan Juri Max Mara Art Prize for Women; Venus Lau, Direktur Museum MACAN dan anggota Dewan Juri Max Mara Art Prize for Women. Foto: Dok. Max Mara Art Prize for Women

“Saya percaya bahwa karakter khas penghargaan ini, yang diakhiri dengan program residensi selama enam bulan di Italia, akan memberikan ruang eksperimental yang penting bagi para perupa pemenang untuk bereksperimen dan mengolah warisan tradisi yang berusia ribuan tahun menjadi ekspresi kreatif yang segar,” ujar Cecilia Alemani.

Museum MACAN antusias menyambut kemitraan ini, apalagi ini pertama kalinya penyelenggaraan Max Mara Art Prize for Women hadir di Asia melalui Indonesia.

“Sebagai sebuah platform terdepan yang menguatkan suara perempuan di dunia seni internasional, penghargaan ini memainkan peran penting dalam membentuk wacana seni rupa kontemporer serta memperluas peluang bagi perupa perempuan,” kata Venus Lau. 

Penghargaan ini menawarkan program residensi selama enam bulan di lingkungan seni Italia, yang memungkinkan pemenang melakukan pendalaman riset, memperluas jejaring, serta mengembangkan metode kerja yang mungkin belum sepenuhnya tersedia di negara mereka. 

Venus Lau menegaskan, “Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perupa terpilih, tetapi juga oleh ekosistem seni Indonesia secara lebih luas, yang terus memperkuat dukungannya terhadap perupa perempuan. Max Mara Art Prize for Women mendorong lahirnya percakapan baru tentang representasi, kesempatan, dan perspektif, sekaligus menempatkan praktik perupa perempuan Indonesia dalam dialog global yang lebih setara.” (f)

Baca juga:
ART SG 2026 Berakhir, Kukuhkan Seni Asia Tenggara di Panggung Global
Museum MACAN Punya 3 Pameran Baru, Tampilkan Narasi Berbeda Seni tentang Sejarah dan Kehidupan Sosial
Pameran Tunggal Kei Imazu di Museum MACAN, Eksplorasi Seni pada Sebuah Episode Sejarah Kelam Kolonial


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?