Biscuit Factory (Maria Farrar, Filipina); Untitled - "Infinity" Wall (Lee Bul, Korea Selatan). Foto: Dok. Museum MACAN
Hari Museum Internasional boleh saja berlalu pada tanggal 18 Mei, tapi mengunjungi museum untuk memperkaya mata, hati, dan wawasan bisa dilakukan setiap hari.
Jika jalan-jalan ke museum jadi wishlist Sahabat Femina di akhir pekan atau setiap ada jeda dari kesibukan, Museum MACAN bisa jadi destinasi. Ajak anak-anak pun seru, apalagi dari tiga pameran dan instalasi baru museum ini, ada yang khusus mengajak anak-anak eksplorasi imajinasi.
Dinamika tubuh dan ruang
Pameran pertama adalah ekshibisi Pointing to the Synchronous Windows, yang menampilkan sejumlah karya yang dipamerkan untuk pertama kalinya kepada publik. Pameran ini menyelidiki dinamika antara tubuh dan ruang, serta mengungkap bagaimana keduanya membentuk identitas, persepsi, dan pengalaman manusia.
Koleksi perupa beragam aliran dari mancanegara menghadirkan narasi berbeda-beda. Foto: Dok. Museum MACAN
Lebih dari 50 karya perupa terkemuka Indonesia dan internasional hadir di sini, dari karya legenda seperti A.D Pirous, Affandi dan S. Sudjojono hingga karya seniman ikonik seperti Alexander Calder dan Yu Youhan.
Pointing to the Synchronous Windows juga menampilkan kembali karya Yayoi Kusama, Infinity Mirrored Room - Brilliance of the Souls, bersama sebuah karya penting dari koleksi museum, yakni Baroque Egg with Bow (Pink/Gold) oleh Jeff Koons.
Infinity Mirrored Room - Brilliance of the Souls dan I Want to Love on the Festival Night karya Yayoi Kusama. Foto: Dok. Museum MACAN
Venus Lau, Direktur Museum MACAN, mengatakan, "Sejak dibukanya Museum MACAN pada tahun 2017, pameran koleksi selalu menjadi favorit di kalangan pengunjung. Presentasi koleksi dengan sudut pandang yang segar lewat narasi berbeda, merupakan bagian dari upaya jangka panjang kuratorial kami untuk meneliti dan menafsirkan ulang koleksi melalui lensa sejarah seni dan sosial yang tercermin di dalamnya, khususnya dalam kaitannya dengan konteks global saat ini."
Dari kiri searah jarum jam: Baroque Egg with Bow (Pink/Gold) (Jeff Koons, AS); Big Shoulder (Nam June Paik, Korea Selatan); Breast Stupa Topiary (Pinaree Sanpitak, Thailand). Foto: Dok. Museum MACAN
Berawal dari bungkus gorengan
Anak-anak, orang dewasa juga, pasti senang mencoba GORENGAN Bureau, instalasi partisipatif karya perupa Adi Sundoro atau Asun, yang dibuat khusus untuk Ruang Seni Anak di Museum MACAN.Berawal dari melihat dokumen data diri penting dijadikan bungkus gorengan, Adi Sundoro menghadirkan perspektif uniknya kepada audiens muda.
Terinspirasi oleh kehidupan perkotaan dan kolaborasi komunitas, GORENGAN Bureau (akronim dari Good, Organized, Responsive, Engaged Neighborhood Citizen Bureau, atau Biro GORENGAN–Gotong Royong Membangun Angan) mengubah ruang galeri menjadi kantor kependudukan yang menyenangkan di mana anak-anak bisa ikut merencanakan kota yang inklusif serta berkelanjutan.
Mengajak audiens muda untuk mengeksplorasi imajinasi akan kota ideal lewat berbagai aktivitas. Foto: Dok. Museum MACAN
Di Gorengan Bureau, anak-anak diajak memetakan kota ideal mereka dengan menggunakan cap dan grid, mengarsipkan mimpi serta aspirasi mereka pada bungkus gorengan, serta menerima kartu identitas pribadi sebagai warga kota yang aktif. Aktivitas-aktivitas ini, yang terinspirasi dari praktik artistik Adi Sundoro sendiri dalam seni cetak dan pendekatan berorientasi komunitasnya, mengubah galeri menjadi ruang sipil yang digerakkan oleh kreativitas dan kolaborasi.
"Pengalaman ini sangat memperkaya praktik berkesenian saya, dan saya berharap hal ini dapat mendorong lebih banyak seniman untuk mengeksplorasi cara-cara imajinatif dalam memperkenalkan ide-ide kompleks kepada generasi muda sejak dini," ujar Adi Sundoro.
Karya Kei Imazu dan Adi Sundoro bisa dinikmati di Museum MACAN hingga 5 Oktober nanti. Foto: Dok. Femina, Dok. Museum MACAN
Sejarah kelam era kolonial
Satu lagi yang baru dari Museum MACAN dan tak boleh dilewatkan pastinya adalah pameran tunggal Kei Imazu, perupa Jepang yang kini berbasis di Bandung.Dalam pameran bertajuk The Sea Is Barely Wrinkled yang menggugah ini, Kei Imazu mengonfigurasi ulang lapisan-lapisan sejarah, alam, dan ingatan, menggabungkannya ke dalam karya-karya yang sarat akan makna serta mengeksplorasi bagaimana gema masa lalu beriak ke masa kini untuk membentuk masa depan.
The Sea Is Barely Wrinkled berakar pada riset Kei yang berkelanjutan terhadap kawasan Sunda Kelapa di Jakarta Utara, yang dulunya pelabuhan penting dari masa ke masa.
Instalasi The Sea Is Barely Wrinkled dan Nyai Roro Kidul, karya Kei Imazu dalam pameran tunggal pertamanya di Indonesia.
Foto: Dok. Museum MACAN
Foto: Dok. Museum MACAN
Pameran ini menyoroti peristiwa tenggelamnya kapal Batavia tahun 1629 di lepas pantai Australia Barat, sebuah insiden bersejarah yang dihadirkan Kei melalui simbol-simbol kerentanan kondisi ekologis kawasan pesisir Jakarta masa kini, di antaranya banjir musiman, turunnya permukaan tanah, dan tantangan lingkungan lainnya yang terus membentuk masa depan kota ini.
"Karya Kei Imazu mengajak kita untuk merasakan waktu dan sejarah sebagai sesuatu yang cair dan hidup, layaknya lautan. Melalui praktik artistiknya, ia merangkai mitologi, ekologi, dan ingatan dalam jalinan yang tak lekang oleh waktu dan sangat relevan dalam kehidupan kita hari ini," ujar Venus Lau.
Pointing to the Synchronous Windows, Gorengan Bureau, dan The Sea Is Barely Wrinkled bisa disaksikan di Museum MACAN hingga 5 Oktober 2025 dan terbuka untuk umum.
Baca juga:
Jajan di MACAN Bersama MoodyBakerr, Berikutnya Bersama Katina
Cari Tempat Healing di Jakarta? Ini 12 Rekomendasi yang Bisa Dikunjungi!
Terpesona Karya Hiperealistsis Patricia Piccinini di Museum MACAN
Zornia Harisantoso



