Begitu usia mendekati 30, biasanya agak susah dapat cowok yang lebih tua atau seusia. Ujung-ujungnya pacar kita usianya jauh lebih muda (hingga 6 tahun lebih di bawah kita). Akibat perbedaan usia yang lumayan, saat kita sudah jadi manajer perusahaan, si dia baru memulai kariernya. Masalahnya nggak sedikit omongan negatif yang diterima hingga kita pun ragu harus dilanjutkan atau nggak. Lakukan langkah ini untuk menentukannya…
Boleh lanjut
- Hobi kerja
Jangan protes dulu jika waktunya pacar habis untuk pekerjaan. Kabar baiknya, nih, dia sadar kalau mapan jadi poin penting jika serius pacaran dengan kita. Dia juga nggak terima begitu saja jika dikatakan hanya ingin mengincar uang kita.
- Gampang adaptasi
Punya pacar berondong cenderung lebih manja dibandingkan pacar yang seumuran. Tapi jika sifat manjanya hanya saat berdua dengan kita, sih, masih bisa dimaklumi. Asalkan di hadapan banyak orang, pacar bisa bersikap dewasa, bahkan mau berbaur dengan keluarga dan teman-teman kita.
- Nggak menghindar
Sejak awal pacaran, si dia berani membicarakan masa depan berdua, termasuk pernikahan.
Lupakan, deh
- Serba dibayarin
Kalau setiap kencan kesepakatannya adalah kita yang membayar—termasuk biaya parkir, bensin, dan ongkos transport lainnya—dengan alasan gaji kita lebih besar. Biaya kencan harusnya jadi tanggung jawab bersama.
- Jadi ejekan
Akibat sering nggak nyambung saat ngobrol (kan, beda angkatan), teman-teman pacar hobi mengejek kita. Bukannya membela, pacar ikutan mengejek—malah katanya, “Maklum, deh, pacarannya sama tante-tante.” Harus dicek, jangan-jangan selama ini kita dijadikan taruhan oleh pacar dan temannya.
- Maunya dilayani
Mentang-mentang kita dianggap lebih dewasa, pacar jadi banyak maunya—kita sudah seperti nyokapnya! Maunya setiap saat dibikinkan bekal, diingatkan makan siang, dan waktu kencan hanya diisi dengan keluhan si dia.
- Ortunya overprotektif
Jika pacar usianya masih di awal 20-an, ada saja ortunya yang overprotektif. Mereka kadang nggak rela anaknya pacaran dengan cewek lebih tua. Bila pacar terlihat ogah-ogahan mempertahankan hubungan di depan ortunya—cuma karena malas debat—pikir-pikir lagi untuk meneruskannya, deh.
Boleh lanjut
- Hobi kerja
Jangan protes dulu jika waktunya pacar habis untuk pekerjaan. Kabar baiknya, nih, dia sadar kalau mapan jadi poin penting jika serius pacaran dengan kita. Dia juga nggak terima begitu saja jika dikatakan hanya ingin mengincar uang kita.
- Gampang adaptasi
Punya pacar berondong cenderung lebih manja dibandingkan pacar yang seumuran. Tapi jika sifat manjanya hanya saat berdua dengan kita, sih, masih bisa dimaklumi. Asalkan di hadapan banyak orang, pacar bisa bersikap dewasa, bahkan mau berbaur dengan keluarga dan teman-teman kita.
- Nggak menghindar
Sejak awal pacaran, si dia berani membicarakan masa depan berdua, termasuk pernikahan.
Lupakan, deh
- Serba dibayarin
Kalau setiap kencan kesepakatannya adalah kita yang membayar—termasuk biaya parkir, bensin, dan ongkos transport lainnya—dengan alasan gaji kita lebih besar. Biaya kencan harusnya jadi tanggung jawab bersama.
- Jadi ejekan
Akibat sering nggak nyambung saat ngobrol (kan, beda angkatan), teman-teman pacar hobi mengejek kita. Bukannya membela, pacar ikutan mengejek—malah katanya, “Maklum, deh, pacarannya sama tante-tante.” Harus dicek, jangan-jangan selama ini kita dijadikan taruhan oleh pacar dan temannya.
- Maunya dilayani
Mentang-mentang kita dianggap lebih dewasa, pacar jadi banyak maunya—kita sudah seperti nyokapnya! Maunya setiap saat dibikinkan bekal, diingatkan makan siang, dan waktu kencan hanya diisi dengan keluhan si dia.
- Ortunya overprotektif
Jika pacar usianya masih di awal 20-an, ada saja ortunya yang overprotektif. Mereka kadang nggak rela anaknya pacaran dengan cewek lebih tua. Bila pacar terlihat ogah-ogahan mempertahankan hubungan di depan ortunya—cuma karena malas debat—pikir-pikir lagi untuk meneruskannya, deh.


