Trending Topic
Bisnis Untuk Masyarakat

21 May 2013


Beberapa tahun lalu, istilah kewirausahaan sosial mungkin belum dikenal. Muhammad Yunus-lah yang pertama kali memopulerkan istilah ini. Penerima Nobel Perdamaian tahun 2006 ini menyebut, ada sebuah model bisnis baru: perusahaan yang menghasilkan profit besar sekaligus memberi manfaat sosial yang luas. Bisnis dan sosial jadi satu. Sebuah jenis baru kapitalisme yang melayani kemanusiaan sebagai tujuan utamanya. Yunus menyebutnya dengan istilah social business.

Kewirausahaan sosial memang sedang marak di tanah air. Menurut Dra. Maria C. Widiastuti, ME, Vice Director Program Pascasarjana Community Entrepreneurship Universitas Trisakti, mengatakan, kewirausahaan sosial adalah bisnis yang bermanfaat untuk masyarakat dan bisa memecahkan masalah masyarakat. Maria memberi contoh apa yang dilakukan oleh William Kwan, lewat lembaga Institut Pluralisme Indonesia (IPI). William membina para wanita Desa Jeruk, Lasem, untuk membatik dan memasarkan sendiri batiknya. Ia juga membuat sanggar bagi anak-anak pembatik di Desa Jeruk.

Maria mengatakan, para wanita di desa itu tadinya hanya menjadi buruh batik. Yang punya modal untuk pewarnaan dan pemasaran adalah pengusaha. Awalnya, para wanita ini diberi motivasi, ditingkatkan kemampuan teknisnya, dari membatik hingga proses pewarnaan, lalu diajari juga sistem manajemen, bagaimana mengembangkan jaringan, hingga memasarkan batik. Kini, mereka bahkan bisa melatih para warga di lingkungannya untuk bisa menjalankan bisnis batik sendiri, bukan lagi sebagai buruh.

Menurut Maria, kewirausahaan sosial bisa dilakukan dengan ‘bantuan’ seorang penggagas seperti yang dilakukan William, untuk kemudian bisa dijalankan secara mandiri oleh suatu kelompok masyarakat. Bisa juga, bisnis yang dilakukan bersama oleh suatu kelompok masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka. Contohnya, apa yang dilakukan oleh komunitas penderes nira di Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah. Sejak zaman dulu, keluarga mereka turun-temurun adalah petani gula. Para pemudanya membentuk Koperasi Nira Satria. Untuk meningkatkan nilai jual gula, mereka memproduksi gula semut (palm sugar). Demi bisa menembus pasar ekspor, mereka menerapkan internal control system (ICS), dan sertifikasi organik dari Control Union Certification.

Model yang sama juga diterapkan oleh Brenjonk, komunitas petani organik yang berada di lereng Gunung Penanggungan, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Mereka mempromosikan warganya untuk bertanam organik di skala rumah tangga, lalu dikoordinasi, dikemas, dan dipasarkan secara modern. Kiprah kewirausahaan sosial komunitas ini bahkan telah mendapatkan apresiasi di program Community Base Initiative (CBI) Ashoka 2007.(f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?