Fiction
Cinta Seorang Copellia [4]

15 May 2012


Setelah berpamitan dengan Papa, yang sedang duduk di teras belakang, Mama mengantar Putri dan Hari keluar dengan wajah berseri-seri, seakan-akan malam itu mereka telah resmi menjadi pasangan.


Putri tidak habis pikir, setelah perkenalan yang mengerikan kemarin, pemuda ini masih mau menemuinya. Mungkin, dia termasuk anak yang sangat patuh pada orang tuanya. Tipe seperti itu biasanya membosankan dan akan lebih mementingkan orang tua daripada istrinya. Jika dilihat sepintas, pastilah kelihatan seperti anak yang berbakti. Tapi, kalau ditelusuri lebih jauh, ternyata anak yang tidak mandiri. Atau, mungkin benar, dia tipe yang putus asa dikejar waktu dan harapan keluarga, terutama mama dan papanya, yang ingin segera menimang cucu. Atau, seperti manusia berdarah biru, yang diburu-buru untuk menyediakan ahli waris agar gelar mereka tetap terjaga. Atau, yang paling mengerikan, tipe manusia yang tidak punya pikiran apa-apa. Semuanya sama tidak menyenangkan.

“Mau ke mana kita?” tanya Hari.

“Terserah,” jawabnya. Dan, dia bersungguh-sungguh.

Hari tampak berpikir sebentar, “Bagaimana kalau nonton? Kamu suka film apa? Tapi, mungkin banyak film yang sudah kamu tonton di sana baru diputar di sini.”

Putri takjub, orang ini bisa ngomong juga. “Begini saja,” kata Putri, “Ayo, kita ke Kya-Kya.”

“Oke. Kalau begitu kita putar di sini.”

Mereka terdiam lagi. Tapi, Putri sekarang tidak begitu ambil pusing. Dia sedang menikmati pemandangan kota di waktu malam. Entah kenapa, setelah tiba di sini dia baru merasa bahwa dia merindukan semua ini, bagian dari masa lalunya yang tidak mungkin terlupakan.

“Aku minta maaf, kemarin sikapku sangat tidak pantas.” Suara Hari memecah kesunyian.

“Apa?” Putri tidak begitu mendengar.

“Kemarin di tempat arisan itu. Aku yakin, kamu berpikir bahwa aku sebangsa idiot,” kata Hari, sambil terus berkonsentrasi menyetir. “Menjadi seorang pria di sarang ibu-ibu begitu sangat tidak menyenangkan. Entah apa yang mereka pikirkan tentang kita, terutama aku. Tapi, aku merasa seperti makhluk percobaan yang sedang diamati.”

Putri sekali lagi terkejut karena Hari ternyata bisa bicara lumayan panjang dan jujur. Dia juga merasakan hal yang sama.

“Tidak apa,” balasnya, “Aku juga sama sepertimu. Malah, aku berpikir, kita berdua seperti panda di kebun binatang, didatangkan untuk menjadi tontonan, tanpa memperhatikan perasaan hewan tersebut.”

Hari tampak heran, “Begitulah perasaanku.”

Putri memandangi Hari agak lama berusaha menyelami perasaannya lalu berkata, “Begini, kupikir, kita berdua sama-sama tahu apa yang dipikirkan dan diharapkan mama-mama kita. Jadi, untuk itu sebaiknya kita menjalin persahabatan dulu untuk saling mengenal diri masing-masing.” 

Dia memandang reaksi Hari yang terpantul dari raut wajahnya dan meneruskan, “Karenanya, kita saling bicara jujur dan menjadi diri sendiri. Tidak ada kepura-puraan, bukan?”

Putri memaki dirinya. Mungkin, Hari akan berpikir bahwa dia terlalu berterus-terang. Tapi, Putri ingin menjalani sisa liburannya dengan tenang. Karenanya, dia perlu kerja sama orang ini.

“Aku setuju sekali.” Hari mengangguk, tetap memandang ke depan. 

Di malam Minggu, jalanan di Surabaya masih macet sehingga memerlukan konsentrasi tinggi. Motor-motor melewati gang-gang kecil di antara badan-badan mobil. Menyalip sana-sini, baik motor atau mobil. Lengah sedikit saja, kendaraan lain akan menyerobot.

“Boleh aku menyetel kaset?” tanya Putri, setelah lama berdiam diri.

“Silakan, tapi koleksiku agak terbatas.”

Putri membolak-balik kaset-kaset itu. Memang tidak banyak pilihan. Hanya ada tiga dan semuanya lagu Indonesia. “Kelihatannya, kamu tidak menyukai musik? Pasti kamu bukan tipe romantis.”

Hari tersenyum, “Apakah kamu selalu berkata terus terang?”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya, untuk ukuran orang Indonesia, kamu agak di luar kebiasaan.”

“Begitukah? Hanya karena aku mengatakan bahwa kamu bukan tipe romantis? Baik, aku akan lebih berterus terang. Sebetulnya, aku orang yang paling pintar menjaga sikap. Aku selalu berhati-hati agar tidak menyakiti hati orang karena tidak ingin punya musuh. Aku juga pintar menjilat agar pekerjaan lancar. Setiap hari aku memuji bos, juga teman-teman yang berhubungan denganku, mendengarkan omongan mereka, meski kadang-kadang aku ingin menyumpalkan kaus kaki ke mulut orang-orang itu. Aku juga pintar menjalin hubungan baik. Contohnya, aku sering membawakan makanan untuk Sandy, asisten bos besar, sehingga dia selalu mendahulukan kepentinganku.”

Hari tertawa, meski Putri tidak tahu apa yang lucu.

“Gaya bahasamu sinis dan kasar.”

“Begitukah menurutmu? Aku hanya bicara apa adanya.”

Putri mengawasi Hari, yang menyetir pelan-pelan, melewati mobil-mobil yang tersusun mencari tempat parkir. Setelah memarkir mobil, Putri dan Hari berjalan memasuki area Kya-Kya yang terang benderang. 

“Seperti pecinan, ya?” kata Putri, mengamati lampion-lampion yang bergantungan di sepanjang area itu.
Mereka lalu memesan dua porsi kepiting asam manis dan dua gelas jeruk manis hangat sebagai makanan pembuka.

“Apa pekerjaanmu?” Putri merasa pertanyaannya terkesan menyelidik, tapi dia tidak peduli.

Hari tersenyum. Malam ini dia banyak tersenyum dan kelihatan sangat manis. “Apa mamamu belum mengatakannya? Kalau begitu, coba tebak?” 

“Kalau melihat mobilmu yang masih baru dan mahal, sepertinya kamu pialang saham, atau pengacara, atau manajer pemasaran. Tapi, karena ini Surabaya, tebakanku bukan itu. Kamu terlalu santai untuk menjadi ketiganya. Jadi, kuputuskan kamu pasti dokter.”

“Wow, kamu hebat,” kata Hari, “Bagaimana bisa? Atau, jangan-jangan, mamamu telah memberitahu.”

“Tidak,” kata Putri, menggeleng, “Di sini dokter masih memiliki nilai ukur yang tinggi di mata masyarakat. Mengingat Mama sangat terkesan denganmu, pastilah kamu patut dibanggakan. Kalau pegawai negeri, kamu juga cocok. Karena, seperti aku bilang tadi, kamu kelihatan santai. Bukankah pegawai negeri selalu santai?”

“Tidak juga,” balas Hari.

“Begitukah? Sekarang tebakanku adalah kamu seorang dokter pegawai negeri, yang juga buka praktek sendiri.”

“Kenapa begitu?

“Karena, kamu menyanggah sewaktu kubilang pegawai negeri itu santai. Berarti, kamu membelanya. Dan, mobil itu tentu tidak didapat dari gaji pegawai negerimu ‘kan?”

“Kamu pintar sekali,” puji Hari. “Aku memang dokter rumah sakit umum dan juga dosen dan juga buka praktek. Yah… penerus ayahku. Bahkan, tempat prakteknya pun aku yang meneruskan.”

“Dokter apa?” tanya Putri. Dalam hati ia berkata, tipe beginikah yang dipikir Mama bisa mencuri hatinya dan membuatnya kembali tinggal di sini? Mama salah besar, orang ini terlalu sempurna.

“Spesialis kandungan.”

“Wow…. Dengan ini semua, kenapa sampai sekarang kau belum menikah? Pastilah banyak ibu yang bermimpi menjadikan kamu menantu. Kalau kemarin, sih, kupikir wajar para wanita melarikan diri darimu karena kamu begitu pendiam, begitu seram. Tapi, sekarang kukira kamu oke juga.”

Hari terbahak. “Selama ini yang berani bertanya seperti itu hanya keluargaku saja, misalnya tante-tante yang cerewet. Tapi, wanita lajang yang baru kukenal ini ternyata berani juga.”

Putri mengamatinya lebih seksama. Kemarin dia mendapat kesan, Hari sangat matang. Mungkin, 40 tahun. Tapi, hari ini dia menyadari sesuatu. Hari pastilah belum empat puluh. Mungkin, tiga puluh delapan. 

“Mengapa aku belum menikah?” Hari berpikir, sambil mengulangi pertanyaan Putri, lalu berkata pelan, “Mungkin, aku terlalu sibuk belajar dan bekerja.”

“Maksudnya? Kamu bekerja untuk membiayai sekolah?”

“Bukan. Maksudku, sewaktu kuliah aku sibuk sekali belajar sehingga tidak punya perhatian khusus terhadap lawan jenis. Pelajaranku begitu menarik. Dan, setelah bekerja, ternyata pekerjaanku juga menarik. Kadang aku berpikir untuk meneruskan sekolah ke luar negeri. Sebenarnya, Papa bersedia membayari separuhnya. Tapi, kupikir, lebih baik menunggu beasiswa. Aku ini tipe workaholic. Atau, barangkali juga, aku belum menemukan wanita yang tepat.”

Pesanan mereka datang. Kepiting besar dengan saus merah kental itu membuat Putri mengeluarkan kembali kebiasaan makan cara lamanya. Dia mengisap, menggigiti cangkang kepiting, dan menjilati jari-jari tangannya yang berlumuran saus.

“Enak sekali,” desahnya, di sela-sela kegiatan itu.

Hari tersenyum dan membalas, “Memang enak. Dan, melihatmu makan, kepiting ini jadi terlihat seribu kali lebih enak. Kamu wanita pertama yang tidak berpura-pura anggun di depanku. Kebanyakan wanita makan dengan posisi duduk tegak lurus, menyuap sejumput kecil dengan sendok mereka, dan mengunyah dengan mulut rapat.”

“Untuk apa? Aku, toh, tidak sedang makan di depan klien penting atau pemasang iklan terbesar di majalah tempatku bekerja.”

“Jadi, aku bukan orang penting?” tanya Hari, memancing.

“Begitulah,” jawab Putri, yang buru-buru nyengir ketika melihat ekspresi wajah Hari yang tampak terpukul.


                                                          cerita selanjutnya >>


Penulis: Lisa Andriyana
Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber femina 2005


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?