
Foto: Fotosearch
Tahukah Anda rahasia keperkasaan Cut Nyak Dien, Gajah Mada, dan Hayam Wuruk? Jawabannya: jamu. Sudah lama jamu dipercaya untuk menjaga imunitas tubuh dan menyembuhkan penyakit. Meski kemajuan industri farmasi menggeser peran jamu di masyarakat, jamu tak pernah mati. Peminatnya tetap banyak, termasuk para wanita modern. Berbagai merek jamu terus beredar di pasaran. Kemasannya cantik, praktis, dan manfaatnya teruji secara ilmiah. Bagaimana prospek jamu di masa depan?
Praktisi industri jamu dan farmasi ternama, Jaya Suprana, bercerita, “Dulu banyak pelaut Eropa yang menderita skorbut, penyakit kekurangan vitamin C, dengan gejala luka hebat di mulut dan bagian tubuh lain. Hal ini sering mereka alami saat melaut berbulan-bulan. Uniknya, hal serupa tak pernah terjadi pada pelaut Indonesia. Mereka bebas berlayar melintasi benua, bahkan menjelajah hingga Afrika. Rahasianya bukan ada pada minuman tonik, melainkan jamu.”
Jamu --yang juga lazim disebut ‘herba’ atau ‘herbal’-- adalah ramuan tradisional Indonesia. Jamu terbuat dari bahan-bahan alami seperti tanaman dan juga bagian tubuh hewan. Jaya mengatakan, setiap makhluk hidup, bila mengalami gangguan kesehatan, memiliki naluri untuk memulihkan kesehatannya. “Monyet, misalnya, selalu menggosok-gosokkan tanaman ke bagian tubuh yang terluka. Sedangkan anjing, bila mengalami masalah pencernaan, biasanya mencari arang untuk dimakan. Arang ini mengandung senyawa yang dapat menangkap racun,” kata Jaya.
Nenek moyang kita pun dulu terbiasa memetik tanaman tertentu untuk digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Dari situlah jamu Indonesia lahir. Kebiasaan ini terus berkembang, terutama didukung kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang ada.
Sama seperti kodrat empiris lain, yaitu penelitian di laboratorium, perkembangan jamu juga mengalami trial and error. Jadi, awalnya, nenek moyang kita juga mengalami sakit yang tak kunjung sembuh, bahkan malah pingsan, ketika ramuan tanaman yang dibuat mereka belum cocok. Tapi, ramuan ini terus dikembangkan, hingga akhirnya tercipta ramuan yang paling cocok dan paling aman dikonsumsi. Hal lain yang membuat jamu makin hebat, leluhur kita melakukan percobaan jamu melalui proses amat berat dan lama. Setelah itu, hasilnya langsung diterapkan pada manusia. “Justru, laboratorium hidup seperti itulah yang dahsyat,” ucap Jaya.
“Disebut mitos ataupun bukan, nyatanya amat banyak orang yang mengakui manfaat jamu. Daun sirih, misalnya, sudah lama dipercaya berkhasiat sebagai antikuman. Keunggulan ini baru diketahui belakangan, ketika dunia mengenal penelitian di bidang antiseptik. Begitu juga dengan ginseng, yang bermula dari tradisi jamu Korea. Hingga kini belum terbukti secara ilmiah, namun sudah begitu banyak orang dari berbagai bangsa yang mengonsumsinya untuk kesehatan,” sambung Jaya. (f)


