Fiction
Cerpen: Tabe’

9 Jul 2017



Kenangan melintas.
Pedagang dari Ujung Pandang di ujung pandang jalan petang itu naik sepeda jengki yang tinggi ringkih itu. Lewat di depan rumah Andi Tenri Punna Gau yang sedang duduk merapikan rambutnya hendak dia ikat sehabis dicarikan kutunya di jenjang tangga. Pandang temu pandang. Senyum dilempar tak sengaja, begitu saja terulas meski sekilas, tunduk malu menahan mau, walau sekadar kenalan yang pantas.

Sulit ketemu jodoh lantaran sering duduk termangu magrib-magrib di serambi rumah tidak berlaku bagi Andi Tenri Punna Gau. Dia sudah pernah menikah. Janda yang masih gadis. Kena talak dari lelaki bangsawan Bugis. Andi Tenri Punna Gau menolak suaminya dalam kelambu dengan sarung berlapis-lapis. Sebab, dia tahu diam-diam suaminya punya istri, nikah di bawah tangan tanpa pesta dan tak diakui, tapi pasti dicintai. Sampai hati! Andi Tenri Punna Gau tak mau cuma perkawinan status: sekadar cita-cita orang tua. Perjodohan sejak kecil tak harus diteruskan bila hidup menyodorkan kenyataan lain.

Telanjur tak ada kata cerai untuk perkawinan yang baru saja dimulai, kecuali ingin mengibarkan kain permusuhan di antara kedua keluarga mempelai. Harga diri tidak boleh dicederai. Aib keluarga dalam-dalam disembunyikan. Andi Tenri Punna Gau memilih caranya sendiri.

Lelaki bangsawan Bugis itu menyerah. Andi Tenri Punna Gau kepala batu, tak sudi membuka diri. Sampai bilangan tahun dilewati tanpa dikaruniai anak, jelas saja hingga dia dituduh mandul oleh orang yang tidak tahu. Dikembalikan ke orang tuanya. Betapa terhinanya. Sampai dia melakukan pembuktian dini, dihamili orang lain. Pedagang dari Ujung Pandang yang dia cintai betul.

“Kita mesti kembali, Andi’. Menjelaskan segala perkaranya. Tidak mungkin kita terus sembunyi dan lari. Kita bakal terus dicari.”
Puang Imam tempat kita berlindung saja tidak diterima untuk baku baik, apalagi kita, pelakunya. Saya tahu betul Etta’-ku. Tidak bisa dibengkokkan. Salah tetap salah, tidak ada baiknya.”
“Saya pun punya harga diri, Andi’-ku, punya malu. Tapi tidak malu untuk mengakui.”
Daeng, saya seorang janda. Bebas memilih lelaki yang ingin saya nikahi tanpa perlu bayang-bayang orang tua. Dan sejarah asalmu meyakinkan saya, kau tidak akan pernah diterima.”
“Karena saya bukan bangsawan?”
“Itu juga!”
“Saya hadapi.”
“Kau menantang maut?”
“Mari bersama demi anak kita.”
Oh, Daeng, anak kita sudah besar. Kudidik, kusekolahkan hingga jenjang pendidikan tinggi dari hasil dagang yang Daeng tinggalkan, kukelola buat putra kita hingga ia telah berhasil maju jadi pengusaha. Tinggal mencarikan jodohnya, wanita yang sepadan dan pantas!
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?