Setelah dirias, biasanya pelanggan akan mengambil ponsel pintarnya dan mulai ber-selfie dengan kamera depannya. Mereka mulai tersenyum dengan wajah yang percaya diri. Tapi, keajaiban riasanku hilang ketika pembersih wajah menyentuh kulit mereka. Mereka kembali lusuh dan berharap wajahnya bisa disembunyikan saja. Memang sulam alis juga tak mengubah wajah seseorang secara permanen, tapi setidaknya ada yang tersisa, yaitu penilaian.
Dari sepasang alislah orang lain bisa menilai seseorang. Misalnya saja alis naik dengan goresan tegas yang dinilai galak. Atau alis tebal dengan posisi lurus yang akan menimbulkan komentar, “Oh, dia pasti suka artis Korea, deh.” Meski tidak 100% tepat, aku berharap mereka yang datang ke studioku mendapat penilaian yang mereka harap dari orang di sekitarnya.
Sulam selesai. Aku membangunkan pelangganku yang tidurnya makin nyenyak. Wanita itu tergopoh bangun sembari mengelap sudut bibirnya. Aku berangsur pergi ke meja rias, meninggalkannya karena takut ia malu.
“Mbak Nin, aku ketiduran. Maaf, lho.” Kata-kata wanita itu hanya kujawab dengan senyum kecil. Aku membantunya menyisir rambut belakangnya yang berantakan, sementara ia mematut diri di depan cermin.
“Gimana? Suka, Bu?”
“Mbak Nin memang yang terbaik. Makanya saya sulamnya di sini terus,” katanya, tanpa melepaskan pandangannya dari cermin.
Topic
#fiksifemina


