Ke dalam panci, Bude Nanik menaruh daging giling, menuang air untuk kaldu sekaligus kuahnya nantinya, lalu membubuhinya dengan kecap asin, sedikit Rajarasa, gula, merica bubuk, irisan bawang daun, bawang merah dan bawang putih yang sudah digoreng, dan terakhir memecahkan dua butir telur di dalamnya. Sesuatu yang tidak aku lakukan saat membuat sajian tim daging untuk Papa, menambahkan telur! Bude Nanik menaruh dalam panci yang uapnya sudah meruap ke mana-mana. Lalu menutup masakannya.
“Tiap lima menit, baru boleh diaduk. Untuk menjaga kematangan dan aromanya,” jelas Bude Nanik. Aku sendiri masih bergelut dengan hatiku yang tak bisa menerima begitu saja kenyataan yang baru kudengar tentang Papa. Jelas, Papa masih mencintai wanita bernama Lilian itu. Aku sepenuhnya yakin, bahkan hingga Mama meninggal, Mama tidak pernah benar-benar bisa menggenggam hati Papa. Aku terluka untuk Mama.
“Satu rahasia kelezatan tim daging ini adalah jika kuahnya sudah berubah bening, maka api harus segera dipadamkan dan langsung disajikan hangat-hangat,” Bude Nanik memungkas rahasia yang jelas didapatkannya dari wanita masa lalu Papa itu.
Aroma sedap memenuhi dapur mungilku. Aku sama sekali tak tertarik lagi mempelajari cara bagaimana memasak tim daging yang dirindukan Papa. Aku sudah kehilangan selera mengetahui rahasia kelezatan di balik semangkuk tim daging yang diidamkan Papa. Rahasianya bukan lagi pada ketepatan bumbu dan cara meracik. Rahasia terbesarnya adalah Lilian. (f)
***
Siti Mutiah
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Siti Mutiah
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#fiksifemina


