Fiction
Cerpen: Rahasia Tim Daging Papa

25 Jun 2017


 
ORANG SAKIT, wajar jika memiliki keinginan yang aneh. Perilaku mereka terkadang lebih mirip wanita hamil yang sedang mengidam. Tetapi, keinginan Papa menyantap tim daging, bagiku bukan perkara aneh. Keanehannya hanya kapan dan di mana Papa menyantapnya. Jika memang menu itu demikian istimewa, mengapa Mama tidak pernah memasakkannya untuk kami? Gaya masakan Mama lebih banyak terpengaruh  masakan Jawa. Rasa pedas manis mendominasi sajian Mama. Andalan Mama adalah rawon daging plus sambal terasi. Masakan sejenis soto dengan kuah cokelat bening ini juga favorit Papa. Tetapi, mengapa saat sakit seperti ini yang dimintanya justru tim daging? Bukan rawon?

“Barangkali karena Papa sedang sakit, Dik. Menelan makanan lunak sejenis daging yang ditim tentu lebih mudah bagi Papa,” tebak Mbak Mitha. Bisa jadi. Tiga putri Papa, hanya aku yang diandalkan untuk urusan dapur. Keterampilan masak-memasak Mama yang tak seberapa, menurun padaku. Sedang Mbak Sitha dan Mbak Mitha, hidupnya lebih praktis. Di rumah masing-masing, mereka langganan katering. Beruntung suami mereka tidak cerewet. Sebenarnya suamiku, Mas Pras, juga tidak akan keberatan jika aku membeli masakan jadi. Tetapi, Papa? Papa tidak pernah suka menyantap makanan yang diolah bukan dari dapur sendiri, lebih parah jika bukan diolah oleh tangan keluarganya sendiri. Urusan makanan, agaknya Papa cukup tertutup.

Aku menyiapkan panci tim. Dua ratus gram daging giling sudah aku siapkan, ditambah kaldu, irisan bawang daun, kecap asin, dan merica bubuk plus bawang putih yang sudah aku haluskan, daging itu kemudian aku tim. Aku aduk terus-menerus hingga mendidih. Aromanya harum seperti biasa. Mbak Mitha mendekat, mengoreksi rasa. Aku menatapnya.
“Sudah enak, kok, Ta,” kata Mbak Mitha.

Aku tak yakin. Untuk jenis masakan yang kami sendiri tak pernah menyantapnya, mengatakan enak pada masakan yang kita ramu sendiri jelas tidak objektif. Maksudku, kita tentu tidak bisa membandingkan masakan kita yang kita sebut enak itu dengan masakan yang sama yang memang benar-benar enak. Kali ini Mbak Mitha yang akan menyajikan masakan itu ke hadapan Papa yang sudah menunggu di beranda depan, menikmati sore yang basah setelah gerimis tak kunjung berhenti sejak tengah hari tadi.

Mbak Mitha menyajikan tim daging itu dalam mangkuk putih kecil dilapisi piring ceper. Masih ditambahi irisan daun seledri –ini idenya Mbak Mitha– lalu dibawanya ke beranda. Reaksi Papa masih sama seperti kemarin. Papa malah sama sekali tak menyentuhnya. Jangankan menghabiskannya, Papa malah memilih donat labu kuning yang kusiapkan untuk camilan sore. Semangkuk tim daging itu membeku sempurna, kehilangan uap yang mengabarkan aromanya.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?