“Nenekku melukis wajah wanita yang menyelamatkan putrinya.”
“Apakah wanita ini bernama Kasiyem?”
“Engkau tahu namanya?” Erica menegakkan punggung, wajah tirusnya menyorong mendekat padaku.
“Dia ibu angkat bapakku.”
“Kus?”
Aku dan dia saling menatap cukup lama. Bibirnya sedikit terbuka, tapi mulutku terkunci. Saat aku kembali menatapi arsiran, telunjuknya menyusur wajah bulat gambar itu, lalu ujung telunjuknya berhenti pada
tahi lalat di dekat hidung.
“Kamu mau membawaku kepadanya, Kus?” dia bertanya nyaris berbisik.
“Ke makamnya?”
Ia tak kaget, wajahnya tetap datar. “Itu sudah aku sangka.” Lalu mengangguk dan aku berjanji mengantarnya besok sore sepulang kerja. Ia lekas meraih tanganku penuh rasa terima kasih dan berkali-kali mengatakan
ia tak menyangka sedekat ini jarak yang akan ia tempuh untuk menemui wanita yang kepadanya ia dimandatkan untuk mencari.
“Mamaku sudah tua, Kus. Aku harus menuruti permintaannya untuk mencari wanita yang pernah merawatnya di masa mengerikan itu,” ia berkata dengan bibir bergetar.
Dan malam ini, aku terlalu sulit melupakan bayangan wajahnya. Bahkan aku masih ingin terus mengingat bagaimana tangan kurusnya menggenggam tanganku saat aku berjanji mau mengantarnya berziarah ke makam wanita bernama Kasiyem. Itu menggelisahkan tidurku.
Aku dan dia dipertemukan oleh masa lalu. Oleh sejarah dan silsilah. Aku makin tahu rentetan akibat perang teramat panjang dan sering kali mengejutkan.
Malam makin menua, tetapi bayangan Erica tak pergi juga. Susul-menyusul rencana-rencana hinggap di kepala dan tiba-tiba, sangat pelan dan begitu saja aku mendesahkan namanya: Erica.
Lalu aku tahu hatiku telah menyembunyikan rahasia. Sudah jauh melewati dini hari ketika ada pesan masuk.
Pesan yang aku sesali tibanya di telepon genggamku. “Kus, di mana Erica? Sudah dua hari ini pesanku tak dibalasnya. Teleponku tak dijawab juga.”
“Erica masih kerasan di Soerabaja, Har.” Send! (f)
***
Indah Darmastuti
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
http://www.femina.co.id/fiction/


