Fiction
Cerpen: Erica Masih Di Soerabaja

27 Oct 2018



Aku tak menjawab, tetapi kupandang matanya. “Kakek melawan ketika diperlakukan buruk oleh militer Jepang. Dan dia ditembak. Menurut perhitunganku, Kakek ditembak tak jauh dari lobby hotel itu.”

Aku hanya mendengar, tak bicara apa-apa lagi, bahkan sampai aku antar dia kembali ke penginapan. Esoknya dia tak tampak di rumah sakit. Saat aku mengirim pesan, dia hanya menjawab, “Aku masih di Soerabaja.”

Siang hingga sore dia tak lagi berkabar. Sepulang dari rumah sakit aku bermotor ke penginapannya dan dia tak ada. Kukirim pesan lagi dan sekali lagi ia menjawab, “Aku masih di Soerabaja.” Itu terjadi juga pada esoknya.
 
Aku mulai dihinggapi rasa bersalah dan mulai mengkhawatirkannya. Aku mengirim pesan lagi, Erica, kamu ada di mana? Kali ini dia tak balas dan itu makin menggelisahkan aku. Lalu hari ini, ketika aku selesai mengatur menu dan memberi perhatian khusus untuk menu pasien diabetes akut, aku keluar ruang. Ini sudah jam istirahat, aku ingin makan di luar dan ingin melepas penat barang sebentar.

Tetapi, saat aku menyusur koridor, aku melihat Erica duduk di salah satu bangku menghadap taman, ia membuka-buka buku. Aku bergegas ke sana dan dia tak kaget melihatku. Dia tak menolak saat aku menawari makan siang bersama, tetapi ia memilih mengajak makan di kantin. Aku mengalah dan rasanya penatku sudah hilang.

“Apa rencanamu selanjutnya, Ric? Ke mana saja kamu selama dua hari? Aku terpaksa berbohong pada kawanku saat dia menanyakan kamu.”

“Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat. Aku tak ke mana-mana. Aku hanya di Rumah Sakit Darmo, bahkan sampai jauh malam.”

Aku kaget, dan tak berupaya menyembunyikan. “Sekarang aku tidak tahu harus ke mana karena tak ada petunjuk apa pun.” Suaranya lirih, bahkan ada sedikit muatan putus asa.

“Tentang apa?”

“Seorang wanita setempat telah menolong Mama ketika Nenek diperlakukan buruk oleh militer Jepang.” Ia menghela napas, menggigit bibir dan mendongak menatapku. “Wanita itu tukang cuci seragam tentara. Kepada Nenek, ia memberi tahu bahwa putrinya aman bersamanya. Demi Mama, Nenek harus berjuang tetap hidup karena ia tak tahu suaminya ada di mana dan bagaimana nasibnya.” Ia menggelenggeleng, seolah mengusir bayangan buruk yang menyerbu benaknya.

“Mama selamat karena dirawat wanita tukang cuci itu sampai akhirnya mereka dipulangkan ke negeri kami.”

Selama ia bercerita aku hanya diam menyimak dan di kepalaku menayangkan adegan-adegan seperti dalam film perang. Tibatiba ia membuka kartu warna hitam di tangannya seperti yang ia pakai untuk menempel iklan Hotel Ngemplak tempo hari. “Aku mendapatkan ini dari Mama.”

Ia menyorongkan kartu itu. Aku membuka, lalu mengamati arsiran pensil membentuk paras wanita berwajah bundar, anak rambut jatuh di dahinya. Ada tahi lalat di dekat hidung. Aku mengenalinya. Arsiran membentuk wajah itu sungguh seperti nyata, di bawahnya tertulis: Soerabaja, 1943.
 


Topic

#fiksifemina, #cerpen

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?