Fiction
Cerpen: Cat Kuning Pisang

30 Jun 2018


Hidung Dahayu mengernyit. Lamunannya yang sempat mengembara terusik oleh bau cat. Perhatiannya kembali terpusat pada dinding di hadapannya yang sebagian telah tertutup oleh warna kuning pisang. Butiran keringat kembali meluncur dari keningnya dan jatuh membentur lantai merbau. “Musim panas kali ini sangat bermakna bagiku sebab ada pohon pisang dan dinding kuning pisang,” bisiknya pada dirinya sendiri. Dahayu mengembuskan napas seraya menyeka pipinya yang basah dengan punggung tangan. Udara panas dan gerah akibat suhu yang mencapai 45 derajat Celsius. Sama menyiksanya saat nanti musim dingin tiba, ketika suhu dapat menukik hingga -45 derajat Celsius hingga alat pemanas ruangan terseok-seok menaikkan suhu ruangan.

"Aku harus segera merampungkan pekerjaan ini,” tekadnya, seraya mencelupkan kuas ke dalam nampan plastik berisi cat kuning pisang. Ia berharap pekerjaan itu sudah rampung saat suaminya pulang dari bermain golf. Dengan gerakan yang cukup terlatih, Dahayu mengoleskan kuas pada permukaan putih yang masih tersisa. Hasil karyanya tentu memuaskan, sebab ia telah mengambil kursus singkat di toko bahan bangunan untuk memainkan kuas pada dinding sehingga polesan cat rata dan tidak menumpuk. Lehernya mengilat oleh keringat yang lagi-lagi disekanya dengan punggung tangan. Pada saat yang sama lidahnya mencecap sesuatu yang asin.

“Puiiih,” semburnya, merasakan keringat yang jatuh dari keningnya dan mendarat di bibir. Sungguh menyebalkan ketika konsentrasinya harus terusik oleh peluh yang makin membanjir. Kepala, rambut, dan punggungnya terasa basah, lipatan lengan atasnya melembap. Tak lama lagi kaus oblong yang dikenakannya akan mirip sehelai kain yang terendam air. Dahayu menajamkan konsentrasi, berusaha melupakan panas dan gerah. Pekerjaannya hampir rampung.

Tangannya lincah memainkan kuas hingga tak lama seluruh permukaan dinding yang putih telah tertutup warna kuning pisang. Kini suasana tropis idamannya tercipta sempurna di dalam rumah. Matanya  mengerjapngerjap, menatap silau sekelilingnya. Keringatnya makin deras bercucuran. Mengapa ia makin tak nyaman? Telapak kakinya yang telanjang terasa panas. Ia mengangkatnya bergantian seraya mengaduh. Lantai merbau kecokelatan tampak seperti minyak jelantah yang meletup-letup di atas penggorengan.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?