Fiction
Cerpen: Cat Kuning Pisang

30 Jun 2018


“Emas berwarna kuning, dan bukankah emas itu elegan?”

“Emas berwarna emas, bukan kuning,” tukas suaminya, gusar. “Tapi, kuning dapat menghadirkan suasana hangat. Kita butuh kehangatan di tengah alam yang muram ini. Coba kau hitung, matahari muncul sempurna hanya tiga bulan, selebihnya kita hanya berteman angin dingin dan salju putih.” Suaminya tertawa kecil. Biru bola matanya makin cemerlang berlatar dinding putih rumah mereka. “Putih lebih cocok. Percayalah,” sahutnya, diiringi tatapan lembut.

Dahayu menghela napas. Dialog antara ia dan suaminya terasa sia-sia. Berbulan telah berlalu tanpa hadir solusi terbaik. Mungkin suaminya tidak mengerti betapa cat bukan sekadar bahan pelapis tanpa makna. Warna cat berpengaruh besar pada suasana ruangan. Baginya, cat mirip alat kosmetik yang bisa mengubah wajah buruk jadi nikmat dipandang, ataupun sebaliknya. Diperlukan ketepatan memilih warna cat, terlebih untuk hunian, sebuah rumah dengan tiga kamar tidur yang menjadi ‘sarang’ pilihannya setelah suaminya menikahinya dan memboyongnya untuk tinggal di Amerika Serikat.

Saat pertama melihat rumah itu, Dahayu langsung jatuh hati. Meski agak tua, rumah itu tampak terawat. Lantainya tersusun  dari bilah kayu merbau yang menciptakan suasana hangat. Lingkungan sekelilingnya asri dengan barisan pohon birch. Mayoritas warga yang tinggal di kompleks perumahan itu merupakan imigran asal Asia. Cuma
segelintir orang kulit putih tinggal di sana, termasuk sepasang wanita yang tanpa sungkan  merayakan orientasi seksual mereka dengan memancang panji-panji pelangi sebesar bendera negara di depan rumah mereka.

Sempat Dahayu merasa geli melihat kompleks perumahan itu. Ia bisa merasakan betapa kelompok minoritas selalu ingin berkumpul dengan sesamanya. Seperti juga orang-orang kulit putih di negaranya yang sebagian menumpuk tinggal di beberapa kawasan di Jakarta Selatan. Pun orangorang Tionghoa yang tersebar di berbagai  kawasan di dunia dan memilih bersatu dalam kantong-kantong yang disebut pecinan atau chinatown.

“Sebenarnya tidak perlu tinggal mengelompok,” saran suaminya, ketika ia ngotot memilih rumah itu. “Lebih baik membaur dan melebur.” Dahayu membalas dengan senyuman. “Yang penting aku betah. Nanti setelah beberapa tahun di sini, jika bosan kita bisa pindah ke tempat lain.” Suaminya bersungut-sungut, meski akhirnya setuju membeli rumah itu. Dahayu tidak menyia-nyiakan waktu untuk meninggalkan jejak di tiap ruangan. Ia membungkus jendela-jendela dengan tirai batik, melapis meja makan dengan tenun ikat, menghias ruangan dengan wayang golek dan lukisan kamasan serta penyekat  ruangan berukiran khas Jepara. Sebagian barang-barang ituharus didatangkan dari Indonesia lewat jasa pengiriman vialaut yang ditanggapi suaminya dengan helaan napas yang cukup panjang.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?