Fiction
Cerpen: Bukalah Matamu

17 Feb 2018



Dulu, sebelum mereka sama-sama resign dengan alasan yang berbeda, di kantor mereka juga bukan atasan dan karyawan yang akrab. Lalit penyendiri. Sampai Lalit hamil dan ditinggal pacarnya. Vonil tidak
tahu bagaimana bisa ide membesarkan janin itu melibatkannya.

Suatu hari Lalit datang ke ruangannya. Mereka membuat kesepakatan. Lalit akan melahirkan bayi itu dan memberikannya kepadanya. “Aku butuh uang yang banyak,” kata Lalit waktu itu. Ia menceritakan tentang ibu, bapaknya yang cacat, dan tiga adik di kampungnya. Ia tidak bisa berpacaran dengan lelaki yang memiliki banyak uang bila ia membesarkan bayi dalam perutnya.

“Itu melanggar nilai-nilai,” pikirnya menghakimi Lalit. Menjual tubuh demi uang, tidakkah itu menjijikkan? Ibu, bapak yang cacat, adik-adik, butuh makan. Siapa yang peduli bahwa mereka akan mati kelaparan besok pagi?

Tidak. Lalit tidak sepenuhnya salah. Batinnya berseteru. Lalit pun jadi seekor burung di rumah mungil di pinggir kota. Suasana tenang, kompleks yang tidak terlalu ramai, jadi pilihan agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing.

“Apa yang kau lakukan?” kata suaminya waktu itu.

“Kita akan punya bayi lagi,” katanya, “kali ini kita akan benar-benar mendapatkannya.” Ia berjalan ke kamar mandi sambil mengingat semua itu. Ia menghidupkan air keran dan berada di sana selama satu jam.


Ia memang sangat senang mandi. Membersihkan daki dengan pelan-pelan. Dari kulit lehernya hingga betis. Kadang-kadang ia menggosok kulitnya terlalu keras. Kulitnya memerah dan terkadang tergores. Ia menikmati rasanya. Panas dan nyeri.

“Bila kau berlama-lama, aku akan sangat terlambat tiba di kantor,” tegur suaminya dari balik pintu. Ia tak bisa melihat suaminya itu, tapi ia hafal kekhawatiran yang kerap mewarnai lelaki itu. Suaminya khawatir kalau ia terlalu lama di dalam kamar mandi. Kamar mandi dianggapnya tempat berbahaya, meski sebenarnya segala cairan berbahan kimia sudah dikeluarkan dari sana, selain sebotol sabun dan sampo.

“Keluarlah sekarang, Vonil,” kata suaminya lagi. Lelaki itu tak akan pergi dari pintu sampai ia muncul dengan tubuh telanjang dan handuk membungkus rambut di kepala.

Setelah itu mereka sama-sama berpakaian dan siap-siap berangkat ke rumah Lalit. Suaminya mengantarnya terlebih dahulu, baru lalu berbalik ke arah kantornya di pusat kota.
 


Topic

#fiksifemina

 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?