Fiction
Cerpen: Bukalah Matamu
17 Feb 2018
Pagi ini, ia malas sekali bangun. Matanya tetap terpejam, meski sebenarnya ia sudah terjaga. Ia masih ingin berada di mimpi itu lebih lama. Ia tidak suka kekosongan. Ia tak mau berkali-kali menemukan dadanya demikian sunyi. Tak ada apa-apa, tak ada suara. Di mana suara dadaku itu? pikirnya.
Suaminya berbisik, “Bukalah matamu, Vonil.” Ia hanya membuka mata sebentar lalu menutupnya
lagi. Seluruh dirinya benar-benar hampa. “Buka matamu, bangkit dari tempat tidur, buka jendela,” kata suaminya lagi.
Ia tidak mau melakukan apa-apa. Juga tidak mau membuka jendela.
“Baik, aku akan membukakannya untukmu,” suaminya berdiri dengan cepat. Ia mendengar suara gorden digeser. Lalu derit engsel jendela yang berat. “Lihatlah ke luar,” kata suaminya.
Dari tempat tidur, ia membuka mata dan melihat langit yang putih kelabu. Itulah dunianya sekarang. Kemudian dengan cepat hatinya menjadi perih. Lalit sudah terbang dari sarangnya. Tidak sendirian, melainkan dengan bayi burungnya.
Ia tidak marah kepada Lalit. Sudah sepantasnya begitu. Ia hanya membenci dirinya sendiri.
“Kita tidak akan pernah punya bayi lagi,” itu yang ia katakan kepada suaminya dan lelaki itu tersenyum kepadanya. Seharusnya lelaki itu tidak perlu tersenyum. Menangis saja apa adanya. Itu lebih membuatnya tenang. Bayi yang ia lahirkan sepuluh tahun lalu tak pernah membuka matanya. Setelah itu ia tak pernah hamil lagi. Lalu beberapa kali ia hampir memiliki bayi dari rahim orang lain, tapi mereka semua menjelma burung.
Mereka terbang jauh membawa bayi dengan paruhnya.
“Aku tak bisa,” kata Lalit saat bayi itu lahir. Bayi berambut gelap dan pipi yang putih. Jika ia menjadi Lalit, ia juga pasti tidak bisa. Ia tahu bagaimana rasanya dipisahkan dari darah sendiri. Ia tidak akan memaksa. Seperti juga yang sudah-sudah, ia tak pernah bisa memaksa. Ponselnya berbunyi.
Nama Lalit muncul di layar.
“Lalit,” katanya kepada suaminya.
“Angkat saja,” kata suaminya.
“Halo,” sapanya. Ia mendengar suara Lalit yang sudah sangat dikenalnya. Ini pertama kali Lalit menghubungi setelah tiga bulan ia pergi dengan bayinya. Lalit bilang bahwa ia akan datang berkunjung akhir pekan nanti. Ia tidak tahu apa arti kunjungan itu. Namun, ia bilang, “Baik.”
“Apa yang dikatakannya?” tanya suaminya.
“Ia akan datang akhir pekan.”
Suaminya tersenyum. Di luar ia memandang dua ekor burung terbang mendekat. Burung itu tampak cantik sekali dan ia berseru, “Kau tidak ingin melihat dua ekor burung itu?” (f)
Topic
#fiksifemina
event
recommended


