
“Mas Darto, matur nuwun semenjak Mas bekerja di sini, aloer-aloer tampak segar dan tumbuh subur,” ujar Ranggah Guntur padaku. Aku hanya bisa melempar senyum pada Wedana Dukuh Bandulan itu. Hampir setahun sudah kuabdikan hidupku untuk mengelola ladang aloer di tepian Kali Metro. Kukerjakan semua dengan penuh cinta dan penuh perhatian. Hasilnya memuaskan. Bukan hanya cukup, namun panenan kami berkelimpahan. Aloer-aloer di sini memiliki keunggulan rasa yang gurih saat dimakan, tidak seperti aloer-aloer lainnya. Beberapa malah ada yang berwarna kemerah-merahan. Kata orang, makin merah warnanya, makin gurih di lidah.
“Hey ngelamun ae!” tiba-tiba Ranggah Guntur menepuk pundakku. “Ayo, naik ke atas, kita pulang!” ujarnya.
Kepalaku mengangguk tanda setuju, lalu kuangkat keranjang yang berisi aloer ini ke atas punggung. Butuh waktu tak sedikit bagi kami untuk kembali ke rumah. Untung beberapa pendahulu telah membuatkan jalan setapak.
Hari mulai senja saat kami tiba di rumah Ranggah. Rumahnya berjarak satu kilometer dari utara Sumber Aloer. Cukup bagus untuk ukuran rumah pribumi. Dindingnya didominasi oleh warna putih. Pintunya terbuat dari kayu jati yang telah dihaluskan. Sisi-sisi bangunan diperkokoh dengan beberapa pilar. Atapnya tinggi sehingga memberikan kesan sejuk bagi yang singgah. Sungguh rumah ini merupakan cerminan kedudukan Ranggah Guntur di Dukuh Bandulan. Meskipun demikian, rumah tersebut beralaskan tanah. Ranggah percaya bahwa rumah yang beralaskan tanah akan mengingatkan pada pemilik rumah tentang asal-muasalnya. Itulah yang menyebabkan Ranggah Guntur memiliki kepribadian yang halus dan ramah.
Setelah kami datang, seperti biasa, Mbok Darsi selalu menyajikan makan malam bagi kami. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Mbok Darsi menyediakan makan malam istimewa untukku malam ini. Nasi putih, lalapan bebek, hingga semangkuk besar sup aloer. Kuambil nasi putih dengan porsi kuli dan beberapa potong bebek.
“Lho, Mas Darto, sup aloer-nya kenapa ndak diambil sekalian?” tanya Mbok Darsi.
“Terima kasih, Mbok, saya malam ini ingin makan lalapan tanpa kuah saja,” ucapku pada Mbok Darsi. Beberapa bulan terakhir aku tidak makan aloer. Bukan karena tidak enak, tapi karena aku sendiri enggan menyantapnya.
“Le, semenjak orang tuamu tiada, kau sebenarnya sudah kuanggap sebagai anakku sendiri,” kata Ranggah.
“Le, coba pikirkan baik-baik tentang keamanan di negeri ini yang tidak menentu, apalagi semenjak Tuan Boestra menjabat sebagai Burgemeester. Kalau tidak nurut, matilah kita. Itulah sebabnya, aku memberikanmu dua pilihan!” tegasnya.
“Apa itu, Mbah?” tanyaku.
“Jika kau memilih untuk melupakan misi pribadimu, maka aku akan memberikan 50% warisanku padamu. Namun, jika kau masih tetap pada hasratmu, maka aku tidak mau menolong apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Le!” ujarnya, dengan serius.
“Mbah, saya sampun menentukan dan membulatkan tekad saya,” ujarku.
Malam itu tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut kami. Biarlah kepak sayap kelelawar dan kerlip kunang-kunang memenuhi langit yang makin lama makin kelam menua. Angin yang sedari tadi menepuk pundak, kini menjurus menusuk tulang. Sebelum Ranggah Guntur tertidur, aku bersimpuh di hadapannya mohon restu.
Sang surya mulai mengintip dari ufuk timur, tanda bahwa peta nasib perjuangan harus dimulai kembali. Kuambil seekor kuda milik Ranggah Guntur, lalu kuikatkan pada keretanya. Inilah dos-a-dos. Sejenis kereta kuda yang sangat digemari oleh orang Belanda. Dos-a-dos milik Ranggah Guntur sungguh lain dari yang lain. Dilengkapi dengan bantalan berwarna batik, berkanopi, dan dibilas dengan selendang sutra cerah melambai-lambai. Dos-a-dos iniah yang kutunggangi untuk menjemput Letnan Roflet van Harshal di stasiun spoor.
Perjalanan yang kulalui untuk mencapai stasiun spoor amatlah berliku. Mulanya aku harus membawa dos-a-dos ini melewati jembatan yang menghubungkan antara Dukuh Bandulan dengan Merganstraat, lalu lurus ke arah Taloenstraat, Tonganstraat, kemudian belok kiri melewati Aloen-Aloen, lurus terus ke arah Kajoetanganstraat kemudian melewati Splemaanstraat, hingga sampai di Coenplein. Dari Coenplein terlihat jelas bangunan stasiun spoor berlanggam International Style. Secepat kilat dos-a-dos kuarahkan ke bangunan itu. Sungguh tak disangka, tamu yang kujemput sedang menungguku sembari menyalakan cerutu di bawah pohon beringin, depan stasiun spoor. Tanpa banyak bicara, ia segera naik setelah mengetahui bendera Merah Putih Biru di atas dos-a-dos milikku. Setelah itu, kami pun melaju kencang menyusuri jalan pulang melewati jalanan yang sama ketika berangkat ke sini.
Hari itu Letnan Roflet disambut meriah di rumah Ranggah Guntur. Sebenarnya gelar letnan sudah tidak lagi disematkan pada namanya, karena lima tahun lalu ada kabar bahwa ia telah pensiun dari Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) dan menghabiskan masa tuanya di Batavia. Namun, para penduduk Dukuh Bandulan masih akrab dengan nama Letnan Roflet karena dulu ia sering berpatroli di tempat ini. Posisinya sebagai Escadron Cavalerie membuatnya terlihat gagah karena hampir tiap hari dia menunggang kuda melewati jalanan Dukuh Bandulan. Tugasnya adalah menjaga keamanan di Dukuh Bandulan. Perdukuhan ini dikenal rawan dan mendapat perhatian lebih dari Gemeenteraad Malang karena letaknya yang berbatasan dengan markas besar tentara rakyat di Wagir. Roflet dikenal sebagai letnan paling ramah, tapi memiliki ketegasan yang luar biasa apabila ada penduduk yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Hubungan Roflet dengan Ranggah Guntur sangatlah baik. Itu semua tidak lepas dari sikap Ranggah Guntur yang sangat pro dengan Belanda. Jabatan sebagai wedana diperoleh Ranggah dengan mudah.
“Jadi apa maksud tujuan Tuan Roflet kemari?” tanya Ranggah Guntur.
“Saya ingin meneliti aloer-aloer di sini. Sejak saya pensiun dari KNIL, saya lebih suka melakukan kegiatan penelitian rempah,” kata Roflet.
“Lho, kok, serius sekali, ya. Ini saya sudah menyiapkan makanan untuk Tuan Roflet, anggap saja Rijstaffel dari kami,” ujar Mbok Darsi, sembari menunjukkan meja makan yang sudah didesain sedemikian rupa dengan beragam sajian.
Kulihat di dalam meja makan ada berbagai macam sayur, termasuk aloer-aloer yang gurih itu. Roflet dengan lahap menyantap aloer-aloer.
“Lekker” katanya.
Dalam hati aku berkata, setelah ini ia akan tahu rahasia aloer-aloer gurih itu.
Selepas santap siang bersama, Roflet meminta pada Ranggah Guntur untuk diantar menuju Sumber Aloer. Ranggah Guntur dengan sopan menolak. Sesuai yang telah kurencanakan semalam, ia menyuruhku mengantar lelaki Belanda ini ke tempat yang diinginkannya. Perlahan tapi pasti, Roflet berjalan di belakangku. Mataku makin lama makin memerah. Darah serasa mengalir ke puncak ubun-ubun. Saat itu tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Terjalnya jalan berbatu Bandulan kami susuri bersama. Sesekali kulihat senyum anak-anak yang bermain kelereng. Di sisi-sisinya, ibu-ibu mereka asyik memetik sayur dan bercengkerama satu sama lain. Jalanan makin menurun. Aku dan Roflet terlihat fasih memilih batu mana yang kami hinggapi agar tidak sampai tergelincir. Akhirnya, sampailah kami di tepian Sumber Aloer.
“Tuan Roflet, apakah di dalam tas punggungmu itu ada pistol, atau mungkin mitraliur?” tanyaku.
“Kenapa kau menanyakannya?” ia balas bertanya.
“Taruhlah mitraliur itu di tepian sungai ini, Tuan, aloer-aloer itu tidak maksimal khasiatnya jika terkena aroma serbuk mesiu,” jawabku.
“Tidak! Verdome!” bentaknya padaku.
“Itu karena kami masih percaya bahwa kesuburan tanah di tempat kami dijaga oleh roh nenek moyang. Namun, semua terserah Tuan, jika Tuan ingin penelitian ini sia-sia, maka bawalah tas Tuan yang beraroma serbuk mesiu itu ke kebun,” ujarku.
Aku menoleh ke belakang, kulihat ia mengeluarkan mitraliur dari dalam tasnya.
“Tetaplah kau tenang di sini, ya, Merlyn,” kata Roflet sembari mencium ukiran nama Merlyn di ujung mitraliurnya dan meletakkan dengan penuh kelembutan.
Kakiku segera kucelupkan ke aliran Sumber Aloer. Makin lama makin dalam. Dingin rasanya, khas suhu dataran tinggi Kota Malang. Gemercik air yang mengalir hanya berhenti di pahaku. Arusnya sedang dangkal. Sesekali pinggul ini tersirat basuhan air yang jernih ini. Kupalingkan wajah ke belakang, kulihat Roflet baru mulai mencelupkan kakinya di air, padahal aku sudah hampir sampai tepi seberang. Ternyata ia ingin memastikan kalau semua aman. Dasar penakut!
Kami segera menyeberangi sungai dan masuk di kebun aloer. Kusibakkan rumput liar yang menghalangi jalanku. Segera kutunjukkan padanya letak kebun aloer yang legendaris itu. Dengan sigap dan cekatan ia mengeluarkan kameranya. Mulai dipotretnya satu per satu aloer-aloer. Ia sangat suka yang warnanya hijau kemerahan.
“Tuan coba ikut saya, akan saya tunjukkan sisi aloer-aloer merah yang gurih itu,” kataku. Satu demi satu mulai kusibakkan aloer-aloer dan sampailah ke tempat yang semua aloer-nya berwarna merah.
“Silakan Tuan maju dan memotretnya, satu petak ini aloer-nya merah semua,” kataku meyakinkan.
Roflet perlahan mulai maju dan memotret satu per satu aloer-aloer merah itu. Kulangkahkan kakiku tiga langkah ke belakang. Aku mulai membungkuk dan tanganku meraba-raba tanah.
“Dapat!” batinku.
Aku sudah mendapatkan ganggangnya. Mataku tetap awas pada Roflet. Kulihat ia masih asyik memotret. Sembari memotret dan tanpa menoleh ke arahku, ia bertanya, ”Hai Jongos, apa kau tahu kenapa aloer-aloer ini berwarna merah?”
“Hai, apa kau mendengar pertanyaanku?” tanyanya lagi.
“Hai, Budak!”
“Hai….”
Ia pun mulai menoleh. Matanya yang berwarna biru tiba-tiba membelalak sangat tajam. Setajam mata bambu runcing yang hendak menghujam jantungnya.
“Arghhhhhh!”
Suara parau memecah keheningan di kebun aloer, ditutup dengan lenguhan panjang dan rintihan yang perlahan memudar sirna. Burung-burung berloncatan ke langit jauh, meninggalkan kami berdua. Kulihat Roflet telah terbujur kaku. Matanya terbuka membelalak menatap ke atas. Mulutnya menganga dan kameranya remuk ditindih punggungnya yang kasar. Aloer-aloer di sisi-sisinya mulai berwarna merah. Aku telah menggalikan tanah untuk mengubur jasadnya di sini. Tepat di tempat ibuku yang dulu kelelahan menanam aloer diperkosa lalu dibunuhnya habis-habisan, sepuluh tahun silam.
Sebenarnya Roflet bukanlah korban pertamaku. Beberapa kompeni lain yang lewat atau melakukan sidak, juga kuhabisi dengan cara yang sama. Kemudian jasadnya kupendam dan kutanam kembali aloer-aloer itu di atasnya. Itulah alasan kenapa aloer-aloer di sini berwarna merah. Ketika dimasak, aloer aloer ini akan menyembulkan wangi aroma kemenangan, kebebasan, dan ketenteraman hati yang tertindas. (f)
***
Ardi Wina Saputra
Finalis Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
Ardi Wina Saputra
Finalis Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
Topic
#FiksiFemina


