Fiction
Cerita Pendek: Pria Sinterklas

25 Dec 2018


 
Kau telanjur kikuk dengan harapanmu. Jemarimu mencuili christstollen dan mengunyahnya pelan-pelan. Aku mencoba membuka keheningan.
 
“Barangkali aku mau menulis tentang Sinterklas.”
 
Giliranmu yang menoleh heran. “Bukankah kamu bilang tidak suka pada Sinterklas?”
 
Aku menunduk, membayangkan bagaimana aku yang kanak-kanak dulu selalu menunggu malam Natal tiba untuk bisa berkenalan dengan pria baik hati itu. Dari tahun ke tahun ingatanku, aku selalu mendapatkan hadiah yang kuinginkan, yang  kutulis di sehelai kertas warna-warni dan digantungkan di ujung ranting pohon Natal setinggi yang tubuh kecilku dapat raih.
 
Diam-diam aku selalu berusaha agar di tanggal 24 malam aku dapat terjaga, untuk bisa berjumpa langsung dengan Sinterklas, tapi sepertinya kantuk berkawan akrab dengan anak-anak.
 
Di malam Natal kedelapanku, aku berhasil melihat Sinterklas tanpa ia melihatku tentu saja. Tapi, Sinterklas yang kulihat tidak seperti yang kulihat di buku-buku cerita. Ia tidak gemuk dan tua, tidak berkumis dan janggut putih.
 
Ia lampai, berambut dan kumis hitam. Ia memeluk seseorang, berambut pirang panjang, memakai rok sepan berwarna merah.
 
Mereka, papaku dan sekretarisnya.
 
Aku menengadah menahan tangis. Bayangan itu selalu menghantuiku saat-saat Natal tiba.
 
“Mungkin aku akan belajar menyukainya,” jawabku. Mungkin aku menyukai Sinterklas dalam dirimu, kata hatiku.
 
Kau tersenyum.
 
“Aku selalu suka Sinterklas. Makanya aku selalu mengambil pekerjaan ini. Sinterklas selalu mampu membuat anak-anak gembira.”
 
Sinterklas juga membuatku sedih, kataku dalam hati. Aku tidak ingin mengungkapkan pengalaman masa kecilku padamu. Saat kau tanya mengapa aku tidak menyukai pria baik hati itu, aku hanya menjawab asal.
 
“Mungkin karena ia tidak pernah mampir di rumahku.”
 
Kau terbahak-bahak sampai memuntahkan beberapa manisan buah dalam christmas stollen yang sedang kaumakan.
 
Aku mengangsurkan kopi dalam gelas kertas yang segera kausambut dengan pandangan terima kasih.
 
“Kamu mesti mengirim undangan tertulis kepadanya,” katanya, menggoda.
 
“Apakah belum terlambat mengirimkannya sekarang?” tanyaku.
 
Maukah kau menjumpaiku di Jakarta nanti? tanyaku dalam diam.
 
Kau seperti membaca pikiranku. Entah karena embusan angin malam yang membuatmu gigil atau remang bohlam-bohlam Natal itu yang membawa suasana romantis. Kau menggeser dudukmu, merapat ke sebelahku. Perlahan kau mengambil tanganku dan mengusapnya perlahan.
 


Topic

#fiksi, #cerpen, #natal

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?