“Aku menyukainya,” katamu, sambil melahap potongan christmas stollen yang ketiga.
“Menjadi Sinterklas atau christstollen-nya?” tanyaku.
Kau tertawa sambil menatap cuilan roti yang kaupegang.
“Dua-duanya. Rotimu enak, dan tanpa sadar aku sudah menghabiskan tiga atau empat, ya?”
“Kau tidak bisa menyebutnya rotiku. Karena aku membelinya di Orchard,” jawabku, malu.
Seumur hidup aku jarang sekali menyentuh dapur, selain jika Mama sedang sakit dan aku terpaksa membuatkan makanan instan untuknya.
Selebihnya, aku selalu makan di kantin kantor atau nongkrong di kafe mahal bersama teman-teman sepulang kerja.
“Ya, karena kamu yang membawa, aku bilang rotimu. Mungkin kapan-kapan kamu bisa bawakan christstollen bikinanmu sendiri,” katamu, menggoda.
“Aku tak bisa buat marsepennya.”
“Ah, Non. Kamu kan bisa beli di Cold Storage. Atau bikin sendiri dengan bubuk almon, putih telur, gula, dan krim tar-tar seperti memasak karamel.”
Itu dia dirimu, yang selalu lebih tahu dariku soal masak-memasak. Kau seperti melihatku terbenam malu sampai dengan rendah hati menyambung. ”Aku tahu itu karena aku suka marsepen. Di rumah di Jakarta, Simbok malah lebih mahir membuatnya dari aku.”
Di pertemuan pertama kita, kau sudah menceritakan tentang keluargamu yang terlalu sibuk untuk saling bercengkerama sehingga sejak kecil hidupmu hanya berkutat di dapur bersama Simbok. Sebab, sekolah dengan kurikulum akademis yang ketat membosankanmu. Kau memilih untuk melanjutkan sekolah seni di Lasalle College di negeri Singa, jauh dari keluarga yang barangkali tidak merindukanmu.
“Kau ambil jurusan apa?” tanyaku saat kau membereskan perlengkapan menggambar anak-anak di Museum Filateli. Tahun itu museum mengadakan pameran instalasi The Little Prince yang dibawa langsung dari keluarga sang penulis di Prancis.
“Film. Aku ingin membuat film-film Indonesia yang berbobot, tapi juga menghibur, bukan cuma setan-setanan enggak jelas atau drama cinta-cintaan konyol.”
Aku nyengir. Meski waktuku saat itu banyak termakan sebagai budak korporat, aku selalu menyempatkan diri menonton film di bioskop tiap akhir pekan dan entah mengapa aku enggan membayar tiket untuk menonton film Indonesia. Aku menyadari sikapku seperti ini yang membantu mematikan perkembangan film negeri sendiri.
Topic
#fiksi, #cerpen, #natal


